Bahasan Bid’ah

Sumber : http://www.tasikmalayakota.go.id/pnbb/viewtopic.php?id=284
Bismillahirrrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Pada kesempatan ini saya memberanikan diri mengangkat topik yang mungkin membuat mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya……. hehehe

Topik ini adalah salah satu topik yang pernah dibahas pada sebuah pengajian di kampung anu bau lisung…
Mudah-mudahan bermanfaat untuk bahan diskusi kita……

Supaya rapi, tulisan disusun sebagai berikut:

Arti bid’ah menurut bahasa
Arti bid’ah menurut istilah
Makna bid’ah dalam al-Qur’an
Makna bid’ah dalam al-Hadits
Pengertian bid’ah dan syarat-syaratnya
Sebab-sebab timbulnya bid’ah
Amalan-amalan seputar bid’ah

Tulisan tidak dimaksudkan untuk menghakimi, hanya sekedar wawasan dan bahan diskusi saja…..
Jadi bebaslah….. enjoy aja….. hehehe…. sangat terbuka untuk dikritisi…..namanya juga diskusi….
Namun tolong diresapi, direnungkan dan jangan terburu-buru dalam membcanya…bilih teu nyambung….hehehe
Tulisan mengacu pada kitab yang penulis baca…..

Banyak pendapat para ulama ahli bahasa mengenai arti bid’ah, diantaranya bahwa bid’ah adalah sesuatu yang baru, yang sebelumnya hal itu tidak dibuat, disebut atau dikenal. Yang lain mengartikan bid’ah adalah sesuatu yang baru, yang tidak ada contoh sebelumnya……dst.

Jadi semua yang baru yang tidak memiliki contoh sebelumnya disebut bid’ah, semisal pakaian, alat transportasi, alat tulis…begitu pula dalam agama.

Ada banyak kitab yang dapat anda rujuk, misalnya:
-Khalil Akhmad Farohidi, dalam kitabnya al’Ayn
-Ar-Raghib al-Isfahani, dalam kitabnya Mu’jam Mufrodat al-Alfadz al-Quran al-karim
-Al-Azhari, dalam kitabnya Tahdzib al-Lughah…dsb….

ARTI BID’AH MENURUT ISTILAH
Arti bid’ah menurut istilah juga banyak pendapat antara lain, bid’ah adalah sesuatu yang baru dalam agama setelah sempurnanya. Yang lain mengatakan, bid’ah adalah penambahan atau pengurangan dalam agama setelahnya sempurnanya. Pendapat lain, bid’ah adalah memasukkan sesuatu yang bukan agama menjadi agama misalnya dengan mengharamkan yang mubah, mewajibkan sesuatu yang tidak wajib, baik itu terjadi pada kurun pertama, kedua atau ketiga, semua sama saja tidak ada kecuali….. dst..

Ada banyak kitab yang bisa anda rujuk:
-Al Kamus, Fairus Abadi
-Fath al- Bari, Ibnu Hajar al-Asqolani
-Jaami’ al-‘Ulum wa al-Hukm, Ibn Rojab al-Hanbali …..dsb…

MAKNA BID’AH DALAM AL-QUR’AN
Selanjutnya akan mengamati makna bid’ah dalam al-Quran, sebagian saja. Kita bagi ayat-ayat tersebut dalam dua kelompok agar lebih memudahkan kita memahaminya.

Makna kelompok pertama:

1. Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan Rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah. Padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik. (QS. Al-hadid 57: 27)

Yang dimaksud dengan Rahbaniyah ialah tidak beristeri atau tidak bersuami dan mengurung diri dalam biara. Perhatikan kalimat: ibtada’uha (mereka mengada-adakannya), bahwa rahbaniyyah tidak pernah diwajibkan oleh Allah, tapi mereka sendiri yang mewajibkannya atas diri mereka.

2. Katakanlah: “Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara Rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”. (QS. Al-Ahqof 46: 9)

Perhatikan kalimat: bid’an (diartikan: yang pertama). Maksudnya bahwa Rasul SAW tidaklah menyelisihi atau bertentangan dengan para Rasul pendauhulunya, baik dalam sikap, perkataan maupun perbuatan. Beliau adalah manusia seperti mereka yang datang membawa kabar gembira dan peringatan.

3. Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, Maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” lalu jadilah ia.? (QS. Al-Baqarah 2: 117)

Perhatikan kalimat badi’u (pencipta). Al-Badi’ adalah salah satu Asama al-Husna, artinya pencipta yang mencipta dengan tidak ada contoh sebelumnya.

Dari tiga ayat di atas dapat disimpulkan bahwa bid’ah dapat diartikan sebagai sesuatu yang baru yang tidak memiliki dasar, contoh atau arahan sebelumnya. Hal ini semakna dengan arti bid’ah secara bahasa yang telah kita bahas di atas.

…direnungkan dahulu…….. nanti ke makna yang kedua.
=====
Makna Bid’ah Kedua Dalam Konteks al-Qur’an:

1. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya Haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah ?” (QS. Yunus 10: 59)

2. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara Dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah Tiadalah beruntung. (QS. An-Nahl 16: 116)

3. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan Pertemuan dengan Kami berkata: “Datangkanlah Al Quran yang lain dari ini atau gantilah dia. Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)”. (QS. Yunus 10: 15)

4. Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan. (QS. Al An-‘am 6: 21)

Merubah, membuat atau mengganti nas dipandang sebagai perilaku bid’ah (mengada-ada), sebagaimana digambarkan pada ayat di atas.

Kesimpulan makna bid’ah kedua.
Uraian pada makna ayat-ayat di atas sesuai dengan makna istilah bid’ah yang telah kita bahas. Dengan demikian maka pernyataan atas sesuatu yang bukan dari agama sebagai bagian dari agama adalah penambahan atas agama. Atau sebaliknya, pernyataan atas sesuatu yang merupakan bagian dari agama sebagai bukan bagian dari agama adalah pengurangan atas agama. Keduanya dinilai sebagai bentuk bid’ah. Termasuk di dalamnya merubah al-Hadits. Seandainya tidak dijamin oleh Allah tentu al-Qur’an juga sudah berubah sebagaimana kitab-kitab suci sebelumnya. Hal ini dibuktikan oleh begitu banyaknya hadits palsu.
======
MAKNA BID’AH DALAM HADITS
Banyak sekali riwayat mengenai hal ini, diantaranya sebagai berikut.

1. Rasulullah SAW bersabda, “Hilangnya sesuatu dari sunnah seiring dengan munculnya bid’ah yang sepadan dengannya. Kemudian sunnah berganti bid’ah. Akhirnya bid’ah mengauasai dan orang tidak mengetahui lagi sunnah. Maka barangsiapa menghidupkan sunnahku yang telah mati, maka sesungguhnya ia telah mematikan bid’ah. Maka baginya pahala dan pahala orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang memulai bid’ah maka baginya dosa dan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.? (Kanzul Ummal, ‘Alauddin al-Hindi 1: 222)

2. Rasulullah SAW bersabda, “Amma ba’du. Maka sesungguhnya sebenar-benarnya perkataan adalah Kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan semua bid’ah adalah sesat.? (Musnad Ahmad 3: 310; Sunan Ibnu Majah 1: 21; Jaami’ al-Ushul, Ibn Atsir pasal 5, khuthbah 3974)

3. Dari Amirul Mukminin as, beliau bersabda, “Adapun Ahlu Sunnah adalah mereka yang berpegang teguh dengan apa yang telah Allah dan Rasul-Nya ajarkan (sunnahkan) bagi mereka, meskipun mereka sedikit. Adapun Ahlu Bid’ah adalah mereka yang menyelisihi perintah Allah, kitab-Nya dan Rasul-Nya, mereka beramal dengan ra’yu dan hawa nafsunya, meskipun mereka banyak. (Tuhf al-‘Uqul, al-Harrani, Tahqiq ‘Ala Akbar al-Ghaffari: 211)

4. Seorang laki-laki bertanya kepada Amirul Mukminin Ali as., mengenai sunnah, bid’ah, firqoh, dan jama’ah. Maka beliau as., menjawab, “Adapun yang dimaksud sunnah adalah sunnah Rasulullah SAW, sedangkan bid’ah adalah perkara yang menyelisihinya, dan yang dimaksud firqoh adalah pelaku kebatilan walaupun banyak, sedangkan yang dimaksud jama’ah adalah pelaku kebenaran walaupun jumlahnya sedikit. (Tuhf al-‘Uqul, al-Harrani, Tahqiq ‘Ala Akbar al-Ghaffari: 211)

5. Dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “ barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan kami ini yang perkara itu bukan darinya, maka ia ditolak.(Shahih Muslim 5:132; Musnad Ahmad 6: 270)
=====
PENGERTIAN BID’AH DAN BATASAN-BATASANNYA.

Telah dikemukakan pada waktu yang lalu bahwa bid’ah adalah memasukkan perkara baru yang bukan dari agama sebagai agama. Dari pengertian ini maka bid’ah memiliki dua ketentuan sebagai berikut:
1. khusus dalam ruang lingkup syari’at.
2. Tidak adanya dalil syar’i atas perkara baru

1. Khusus pada ruang lingkup syari’at.

Pengertian bid’ah hanya dikhusukan pada penambahan atau pengurangan syari’at, atau dengan kata lain memasukkan perkara baru yang bukan dari agama sebagai bagian dari agama, semisal mewajibkan sesuatu yang tidak wajib, atau mengharamkan yang mubah.

Dengan demikian bid’ah tidak mencakup pada aspek budaya yang berubah-ubah, hal-hal yang biasa atau sesuatu yang dikenal sebagai perkara-perkara umum dalam pandangan manusia. Misalnya, dahulu menulis pakai pena sekarang pakai komputer, dahulu naik onta sekarang naik pesawat. Nah kalau dahulu shalat subuh dua rakaat, sekarang karena sekalian ingin olah raga tambah jadi sepuluh rakaat…. qqqq ini mah bid’ah mang…..

Begitu pula dengan perkembangan usaha manusia berserta penemuannya dalam mengejar kesejahteraan hidup pada tiap zamannya dalam berbagai bidang. Seperti pembukuan hadits dan penerbitannya, digitalisasi al-Quran, pendirian lembaga, eksplorasi sumberdaya alam dan sebagainya. Semua daya upaya manusia tersebut tidak masuk dalam katagori bid’ah.
=====
2. Tidak memiliki landasan dalil syar’i atas perkara baru

Ketentuan ini sangat jelas sebagai syarat bid’ah mendasar, bahwa perkara baru masuk dalam katagori bid’ah apabila perbuatan tersebut tidak memiliki dasar dalam agama baik secara umum atau secara khusus.

? Allah SWT berfirman:

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan. (QS. Al-An’am 6: 21)

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya Haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah ?” (QS. Yunus 10: 59)

Yang dimaksud perkara baru (al-Amru al-Hadits) adalah perkara yang terjadi setelah ketiadaan Rasul SAW yang tidak memiliki sandaran sunnah Rasul SAW yang telah diketahui. Bila memiliki maka perkara baru tersebut keluar dari lingkup bid’ah. Karena itu bila ditemukan dalil khusus yang bisa diterapkan kepadanya sebagai dasar amalan, maka dalil tersebut mengeluarkan perkara tersebut dari bid’ah. Begitu pula bila ditemukan dalil umum atas perkara-perkara tersebut. Maka perkara-perkara tersebut masuk pada lingkup sunnah atau syari’at.

Sebagai contoh. Pada jaman sekarang banyak laki-laki yang merias dirinya dengan riasan perempuan. Apakah ini termasuk bid’ah? Bukankah perkara seperti ini tidak pernah terjadi pada zaman Rasul SAW? Meskipun hal tersebut belum pernah ada di masa wahyu turun, perkara tersebut tidak masuk dalam katagori bid’ah karena adanya dalil atas hal tersebut. Rasulullah bersabda, “Allah melaknat laki-laki yang bersolek/merias diri dengan riasan wanita dan wanita yang bersolek dengan riasan laki-laki.? )Kanz al-‘Ummal, ‘Alauddin al-Hindi 8: 324/41237)

Dari contoh yang telah dikemukakan mudah-mudahan kita sudah bisa membedakan mana perkara baru dan mana yang bukan, dalam maksud bahasan kita ini. Mana yang masuk katagori syari’at dan mana yang bukan.
=======
Dari uraian yang telah kita paparkan mengindikasikan bahwa pembagian bid’ah menjadi menjadi dua, bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah; atau terbagi menjadi lima menjadi bid’ah yang wajib, Haram, sunnah, makruh dan mudah, maka semua itu tertolak.

Pembagian tersebut karena sepengetahuan penulis karena bercampurnya anatara makna bid’ah secara lughawi (bahasa) yaitu sesuatu yang baru yang tidak ada contoh sebelumnya, dengan makna istilahnya (memasukkan perkara baru yang bukan dari agama sebagai agama)
Bgitu pula dengan sebagian orang yang menerapkan makna bid’ah lughawi (perkara baru yang tidak ada contoh sebelumnya) untuk syari’at. Oleh karena itu bagi mereka, semua perkara baru yang tidak ada contohnya pada masa Rasul SAW, serta tidak memiliki dalil khusus mengenai perkara tersebut dikatagorikan sebagai bid’ah. Sebagian lagi berpendapat bahwa semua perkara baru yang tidak ada contohnya pada tiga abad pertama setelah wafat Rasull SAW adalah bid’ah.

(ralat posting sebelumnya, bukan 3 abad setelah wafat tapi yang benar 3 abad dari Hijrah)

Saya sedikit menkritisi pendapat terakhir yang menjadikan 3 abad pertama dari hijrah Rasul SAW sebagai ukuran untuk membedakan bid’ah dan sunnah. Pendapat ini didasarkan pada riwayat keutamaan (dengan teks yang berbeda-beda). Teks riwayat ini diletakkan pada bab keutamaan sahabat pada kitab Shahih Bukhari. Riwayat tersebut berbunyi sebagai berikut, Rasulullah SAW bersabda:
1. Khairul quruuni, qornii tsumma yaliha, tsumma yaliha
2. Khairu ummati, qornii tsumma yaliha, tsumma yaliha
3. Khairu an-naas, qornii tsumma yaliha, tsumma yaliha

Apa arti qornun?
Qornun = seabad
Qornun = an-nasl atau anak cucu atau keturunan (generasi)
(Al-Khalil dalam kitab al-‘Ain; Ibn Mandzur, dalam kitab al-Lisan)
=====
Berdasarkan hadits tersebut: khoiru al-qurun/ummatiy/an-nass qorniy, tsumma yaliha, tsumma yaliha
diartikan: sebaik-baik abad/ummat/manusia adalah abadku (masa sahabat), kemudian setelahnya (masa tabi’in), kemudian setelahnya (masa tabi’it tabi’in)

Masa sahabat diakhiri oleh meninggalnya sahabat terakhir
Masa tabi’in diakhiri oleh meninggalnya tabi’in terakhir
dan masa tabi’it tabi’in berakhir dengan meninggalnya tabi’it tabi’in.
Sahabat terakhir yang meninggal dunia adalah Abu Thufail sekitar thn 120 H.
Tabi’in terakhir meninggal dunia sekitar thn 170 H.
Dan tabi’it tabi’in terakhir meninggal dunia sekitar thn 220 H.
Jadi masih kurang 80 thn! (Q.7: 4.).

Dengan demikian jika Qornun diartikan seabad, dengan tafsiran sebagai abad sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in menjadi rancu. Karena 3 generasi tersebut tidak sampai 300 tahun. sebagaimana diketahui bahwa perpidahan generasi berkisar anatara 60-70 tahun saja, bukan 100 tahun.

Dan perlu diingat pemisahan generasi tersebut berdasarkan pada penglihatan/ketemu. Sebagaimana Abu Thufail dikatagorikan sahabat Rasul SAWW karena beliau sempat melihatnya ketika masih anak-anak.

Lain halnya dengan al-Quran yang menggunakan qornun dalam arti keturunan/generasi, sesuai dengan arti lughawinya. Contoh QS. Al-An’am 6: 6

Sehingga hadits tersebut tidak perlu ditafsirkan dengan maksud lain karena kandungannya didukung oleh fakta nash (qur’an, hadits), sejarah dan logika.

Arti hadits tersebut menjadi:
Sebaik-baik anak cucu (keturunan)/ummatku/manusia adalah anak cucuku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya.
========
Menjadikan 3 generasi pertama sebagai ukuran untuk memisahkan antara perkara bid’ah dan bukan bid’ah tidak memiliki hujjah yang kuat… diantara hadits yang melemahkan alasan tersebut anatara lain sbb:

Dari Abu Wa’il, ia berkata, “Abdullah berkata: ‘Nabi saw bersabda: “Aku akan mendahuluimu sampai telaga Haudh, dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang-orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak member minum mereka, mereka terpelanting, maka aku bertanya: “Wahai Tuhanku, bukankah mereka itu sahabat-sahabatku?? Ia menjawab: “Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.? (Sahih Bukhari, juz 9, hal 58, Kitabul Fitan, dan juz 8, hal 148. Ia juga meriwayatkan dari Hudzaifah. Musnad Ahmad, juz 1, hal 439 dan 455)

Begitu pula dengan menggunakan arti bid’ah menurut makna lughawinya, maka yang terjadi adalah kejumudan…. akan sangat banyak sekali bid’ah, akan sangat banyak sekali yang sesat (menurut dia). Seperti yang pernah saya baca, ada ulama (gadungan) yang membid’ahkan TV….. faham ini pada akhirnya akan banyak berbenturan dengan perkembangan zaman. apakah memang Islam demikian? saya kira tidak.

Sebab-sebab timbulnya bid’ah:

1. Mengikuti persangkaan dalam ibadah kepada Allah

Mungkin kita akan kaget bahwa ada banyak riwayat yang menggambarkan bagaimana orang-orang berusaha untuk dekat dengan Allah tapi tidak dengan petunjuk-Nya, malah justeru berdasarkan dugaannya. Misal ada sahabat yang memohon kepada Rasul SAWW untuk melakukan rahbaniyyah, dsb.

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat[536].” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. Al-A’raf 7: 32)

2. Mengikuti hawa nafsu

Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS. Shad 38: 26)

3. Mengikuti orang yang tidak maksum

Tiga ini saja ringkasannya. Saya kira memadai.

Menginjak pada bahasan akhir….., Amalan-amalan seputar bid’ah.
Ada beberapa amalan atau bahkan banyak amalan yang diperdebatkan di kalangan masyarakat.
maka pada bahasan kita ini saya persilakan untuk mempostingkan hal-hal tersebut. Saya sengaja merunut tulisan topik ini agar diskusi kita berjalan dengan ilmu dan hikmah, itulah harapan saya.

? Apakah Maulid Nabi SAWW, bid’ah?

Sebagian orang ada yang menyatakan itu bid’ah munkar, sesat, tidak ada dasar syara’; kalau itu baik, kenapa tidak pernah dilakukan oleh tiga generasi pertama /salafus shaleh? padahal mereka adalah orang-orang yang terdepan dalam kebaikan. Jelas maulid adalah bid’ah mungkar!

Sebelumnya kita renungkan dulu kegiatan-kegiatan yang kita adakan, misalnya peringatan hari kemerdekaan, hari pahlawan, biasa di acara tersebut kita berdo’a atau renungan….. kenapa diadakan, bahkan hampir seluruh dunia melakukan kegiatan-kegiatan tersebut diadakan? kenapa?

Bagaimana kalau peringatan tersebut berkaitan dengan Nabi SAWW?
Maulid, Nuzulul Qur’an, Tahlilan, tabarruk, ziyarah kubur, tawasul, istighasah semuanya menurut saya adalah sah-sah sahaja….. justeru yang saya pertanyakan kenapa tidak boleh?

Dari uraian yang telah dipaparkan kalau dicermati…… kita dapat memilah dan memilih mana yang katagori bid’ah dan mana yang bukan.

Bagaimana dengan shalat malam pada bulan ramadhan atau tarawih yang dilakukan secara berjama’ah?
Setahu saya itu adalah bid’ah. Umar bin Khattab menyatakan bahwa shalat malam ramadhan berjama’ah adalah sebaik-baik bid’ah…. beliau menyebut bid’ah karena melakukannya secara berjama’ah memang tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAWW atau pun pada masa Abu Bakar.

Terjemah bebas:

Dari ibnu sahab dari Urwah bin Zubair, dari Abdurrahman al-Qari sesungguhnya dia telah berkata: Aku pergi bersama Umar bin Khathab pada malam bulan ramadhan ke mesjid, pada saat itu orang-orang sedang shalat dengan berpisah dan terpencar-pencar, seseorang shalat untuknya sendiri, dan yang lain shalat juga pada kelompoknya. maka Umar berkata sesunguhnya aku berpendapat seandainya mereka aku satukan dengan seorang imam tentu lebih baik. Kemudian umar memutuskan menyatukan mereka dengan ubay bin ka’ab sebagai imam. Kemudian aku keluar bersamanya pada malam yang lain, dan orang-orang shalat dengan seorang imam. Umar berkata: inilah sebaik-baik bid’ah!, sesungguhnya orang-orang yang tidur dari mengerjakan shalat sekarang itu lebih baik, dengan maksud mengerjakannya pada akhir malam, namun orang-orang mengerjakannya pada awal malam. (HR. Bukhari)
Nah yang jadi perhatian kita adalah pernyataan umar: ni’mal bid’ah hadzihi = inilah sebaik-baik bid’ah!
(maksudnya shalat “taraweh” berjama’ah).

Tidak semua ajaran Rasul SAWW dicontohkan oleh beliau. Misalnya shalat ayat-yaitu sahalat ketika ada gempa, karena gempa belum pernah terjadi pada masa Rasul SAWW masih hidup. Atau contoh perang dengan orang yang mengaku muslim karena itu belum pernah terjadi…. tapi ajarannya ada.

Nah maksud saya: ukuran “Adanya contoh dan tidak adanya contoh.” tentu berbeda dengan ukuran “ada dasar hukum dengan tidak adanya dasar hukum”

Nah yang jadi pertanyaan adalah apa dalil membuat ukuran, “adanya contoh dan tidak adanya contoh” sebagai pemisah antara perbuatan bid’ah dan bukan bid’ah?

Apakah maulid Nabi SAWW itu?
Kapan maulid Nabi SAWW diadakan?
Kenapa maulid Nabi SAWW diadakan?
Dimana maulid Nabi SAWW dilaksanakan?
Bagaimana hukum maulid nabi SAWW?

Apakah maulid Nabi SAWW itu?

Maulid Nabi Muhammad SAW terkadang Maulid Nabi atau Maulud saja (bahasa Arab: ????? ???? ??????), adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang dalam tahun Hijriyah jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal. Kata maulid atau milad adalah dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Kapan maulid Nabi SAWW diadakan?

Perayaan Maulid Nabi diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak, pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193). Adapula yang berpendapat bahwa idenya sendiri justru berasal dari Sultan Salahuddin sendiri. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem.

Kenapa maulid Nabi SAWW diadakan?

Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Dimana maulid Nabi SAWW dilaksanakan?

Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. Menurut penanggalan Jawa bulan Rabiul Awal disebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelan Sekaten.

Sebagian masyarakat muslim Sunni dan Syiah di dunia merayakan Maulid Nabi. Muslim Sunni merayakannya pada tanggal 12 Rabiul Awal sedangkan muslim Syiah merayakannya pada tanggal 17 Rabiul Awal, yang juga bertepatan dengan ulang tahun Imam Syiah yang keenam, yaitu Imam Ja’far ash-Shadiq.

ref. penulisan http://id.wikipedia.org/wiki/Maulid_Nabi_Muhammad_SAW

Bagaimana Hukum Maulid Nabi?
Nah ini yang kan kita bahas berdasarkan metode ttg bid’ah di tread ini, dengan objek ttg maulid Nabi SAWW yang ada pada tulisan di atas

Pertanyaannya adalah, apakah maulid Nabi SAWW masuk ruang lingkup syari’at?
Sebagaimana tela kita bahas bahwa:

1. Bid’ah hanya dikhusukan pada ruang lingkup syari’at, atau dengan kata lain memasukkan perkara baru yang bukan dari agama sebagai bagian dari agama, semisal mewajibkan sesuatu yang tidak wajib, atau mengharamkan yang mubah.

2. Bid’ah tidak mencakup pada aspek budaya yang berubah-ubah, hal-hal yang biasa atau sesuatu yang dikenal sebagai perkara-perkara umum dalam pandangan manusia.

Dari uraian tentang maulid di atas, terbukti bahwa maulid tidak masuk dalam ruang lingkup syari’at. Dia adalah aspek budaya masyarakat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Apa itu budaya? Budaya adalah hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia, atau dalam bahasa Arab disebut Adab, bahasa Inggris culture.

Perbuatan seseorang yang berangkat dari budi dan akalnya tersebut kemudian diikuti oleh yang lain hingga menjadi sebuah tradisi. Apa itu tradisi? Tradisi adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat/ negara/ kebudayaan/ agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.

Ciri lain bahwa maulid tidak masuk katagori syari’at adalah tidak adanya aturan yang baku tentang apa dan bagaimana maulid diadakan, jangankan beda negara, beda kampung aja sudah beda. Dan tiap tahun juga beda-beda. Sampai waktu peringatannya pun bisa pada tanggal yang berbeda-beda, tapi biasanya masih dalam bulan mulud.

Sisi budi dan akal manusia pada maulid Nabi SAWW

1. Kegembiraan pada kelahiran anak

Adalah fitrah bahwa orang gembira dengan kelahiran anak. Keluarga, kerabat, shabat dan tetangga mereka mengucapkan selamat sebagai ungkapan gembira disertai dengan do’a, harapan dan bingkisan…hehehe tak peduli apakah anak itu akhirnya menjadi orang baik ataukah orang yang jahat. Begitu pun dengan kelahiran sebuah negara, rakyat dan pemerintah mengadakan berbagai kegiatan hiburan sebagai ungkapan suka cita, dan acara-acara yang membangkitkan rasa cinta dan bangga pada bangsa serta negara. Itu diulang tiap tahun, karena hilangnya rasa itu akan berpengaruh buruk pada kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagaimana dengan Kelahiran Nabi SAWW? (Tolong bandingkan)

1) Kelahiran yang telah diminta ribuan tahun sebelumnya.

Nabi Ibrahim as. (sekitar 2000 SM) berdo’a yang diabadikan dalam al-Qur’an:

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Baqarah 2: 129)

Kelahiran Rasul SAWW adalah jawaban atas do’anya tersebut setelah ribuan tahun berlalu.

2) Kelahiran yang diberitakan ribuan tahun sebelumnya

Kitab Weda, kitab suci ummat Hindu yang usianya sudah 2.500 tahun lamanya, Didalam kitab Weda konon ada tertulis: “Hai sekalian manusia, dengarkanlah berita penting ini. Nanti aku bangunkan seorang laki laki yang terpuji diantara manusia.” Laki-laki terpuji dalam bahasa Arab disebutkan “Muhammad.” Meskipun tafsiran ini mungkin benar, tetapi saya kira belum ada kekuatan sama sekali, sebab dalam masa 2.500 tahun itu telahl banyak bermunculan laki-laki terpuji dan orang-orang gagah. “laki-laki terpuji yang mana yang dimaksudkan,” maka baiklah kini kita baca dalam kitab Beha Pesiyaporana (kitab Hindu) yang bunyinya: “Pada masa itu datanglah seorang laki-laki dari tanah Arab namanya Akhmad bergelarkan Muhammad, dan dia akan mendapatkan penolong-penolong. Hai orang-orang Arab, hai tuan-tuan seluruh alam ini, kepada engkaulah taqdis (penghormatan)Ku yang suci. Hai orang-orang yang mengadakan beberapa jalan yang banyak untuk membinasakan sekalian syaithan, dan dunia ini, kepada engkaulah taqdisKu.”

Sumber: MENGAPA SAYA MASUK AGAMA ISLAM dan MENGAPA SAYA MENGAKUI MUHAMMAD SEBAGAI RASUL ALLAH S.W.T. oleh: ZULKARNAIN (Eddy Crayn Hendrik) Penerbit: C.V. “RAMADHANI” – Semarang. Penyiar: “AB. SITTI SYAMSIYAH” – Sala.

Selain dari Weda, nama Muhammad dapat pula kita jumpai dalam kitab orang Parsi. Kita baca umpamanya dalam Kitab Datasir 14, berkatalah Susan, Nabi orang Parsi: “Apabila orang-orang Parsi sudah terjerumus dalam budi pekerti yang begitu rendah,”‘maka seorang akan lahir ditanah Arab” yang pengikut-pengikutnya membalikkan takhta kerajaan agama dan segala barang mereka itu. Seseorang yang berkepala batu yang amat berkuasa di Parsi akan dihalaukan. Rumah yang didirikan itu, dimana berhala-berhala banyak terdapat disitu akan disucikan daripada berhala-berhala itu, dan banyak orang-orang akan menjalankan shalatnya (do’a) dengan menghadap mukanya ke ka’abah. Pengikut-pengikutnya akan menawan kota-kota Persi, Taush dan Bulhuh serta lain-lain tempat besar sekelilingnya. Rakyat akan kacau menjadi satu, dan orang pandai-pandai di tanah Persi akan menggabungkan diri dengannya.” (Sumber: idem)

Bagaimana dengan Taurat dan Injil? sebagai kesaksiannya al-Qur’an menyatakan:

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-A’raf 7: 157)

Orang-orang yang telah Kami beri Al Kitab mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS. Al-Baqarah 2: 146)

Sebagaimana diketahui bahwa hijrahnya orang-orang Yahudi ke jazirah Arab adalah dalam rangka menyambut kedatangan Utusan Terakhir, dan mereka berharap bahwa dia dari kalangan mereka, karena utusan itu akan dibangkitkan di wilayah tersebut.

3) Kelahiran Agung.

Kelahiran yang mendapat Salam dari Allah bukanlah kelahiran biasa.

Salam atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali. (QS. Maryam 19: 15) (Ket. Nabi Yahya as.?.)

Dan Salam dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam 19: 33) (Ket. Nabi Isa as.)

Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; “Salam dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam.” (QS. Ash-Shaaffaat 37: 78-79)

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,.”Salam dilimpahkan atas Ibrahim.” (QS. Ash-Shaaffaat 37: 108-109)

Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian; “Salam dilimpahkan atas Musa dan Harun.” (QS. Ash-Shaaffaat 37: 119-120)

Dan Kami mengabadikan untuknya di kalangan orang-orang yang datang kemudian. “Salam dilimpahkan atas keluarga Ya Siin (Muhammad SAWW)” (QS. Ash-Shaaffaat 37: 129-130)

(Catatan: pada terjemahan DEPAG pada ayat terakhir disebutkan untuk keluarga Ilyas, tapi banyak riwayat yang justeru ditujukan pada keluarga Nabi SAWW .?)

2. Menghargai orang yang berbudi

Lumrah pada manusia bahwa dia menghargai orang yang berbuat bik padanya. Dia menceritakannya pada orang lain kebaikan-kebaikannya. Menghormatinya dan memuliakannya. Kebaikannya terus berlanjut dan dikenang. Diadakanlah acara memperingati hari lahirnya, atau moment penting kehidupannya seperti Hari Kartini, Hari Pahlawan. Ini biasa pada berbagai bangsa, karena ini adalah fitrah. Bagaimana terhadap Nabi SAWW?
Saya merasa sulit untuk mengungkapkannya….

3. Cinta dan ekspresinya

Apakah anda pernah jatuh cinta? pernahkah anda mengirim surat? kenapa harus dengan kertas dan amplop yang bagus, serta harum, yang tentu saja mahal? pernahkan anda rindu? sudahkah anda merindukan kehadiran yang anda harapkan? Senangkah anda mendapat kabar tentang kekasih Anda? Adakah Anda memuji kekasih?

Bila penggemar Elvis membuat perkumpulan dan selalu melakukan acara peringatan, adakah halangan buat kita untuk melakukan hal yang sama bagi idola kita?

SISI NASH (Qur’an dan Hadits) pada maulid Nabi SAWW

1. Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah 9: 24)

2. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi……..Maka orang-orang yang beriman kepadanya.
– memuliakannya,
– menolongnya
– dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.
(QS. Al-A’raf 7: 157)

====
3. Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau saw

Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan? (Shahih Muslim hadits no.1162).

Dari ungkapan tersebut tampak bahwa Rasul SAWW memuliakan hari kelahirannya. Beliau dengan mengatakan boleh tapi dengan “itu adalah hari kelahiranku? , menunjukkan bagi beliau saw hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah dari hari hari lainnya. Maka jelaslah sudah bahwa Nabi saw termasuk yg perhatian pada hari kelahiran beliau saw, karena memang merupakan bermulanya sejarah bangkitnya islam.

4. Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw

Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..? maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga? , maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya? (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417).

Hal berkumpul mengingat Nabi SAWW

1. Maqam Ibrahim

Jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. (QS. Al-Baqarah 2: 125)

Dengan perintah ini kaum muslimin diingatkan akan peristiwa pembangunan Ka’bah. Maqam Ibrahim adalah tempat Nabi Ibrahim berdiri dalam rangka membangun Ka’bah.

2. Shafa dan Marwah

Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebahagian dari syi’ar Allah (QS. Al-Baqarah 2: 125)

Sai’ atau lari-lari kecil antara Shafa dan marwah adalah salah satu bagian ibadah haji. Dengan perintah ini Allah mengingatkan akan perjuangan Siti Hajar ibunda Isma’il as… yang berlari-lari mencari air untuk anaknya.

3. Melempar Jumrah

Dalam ibadah haji, para peristiwa ini kaum muslimin diingatkan peristiwa pelemparan batu atas syaithan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim.

4. Memotong Kurban

Para khatib/muballigh dalam peristiwa ini biasa mengutip peristiwa yang terjadi pada Ibrahim as, yang dibadikan dalam al_quran.

Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, “Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. Ash-Shaffat 37: 101107)

Dan banyak contoh ibadah lainnya yang semua itu dikaitkan dengan peristiwa para nabi terdahulu…
Dan bagaimana dengan peristiwa dengan Nabi kita? Yang yang paling Agung dari semua Nabi?

Al-Quran menyebut kisah Yusuf as, Ahsanul Qashash. bagimana dengan Qashash Nabi kita? Sebagai utusan untuk seluruh manusia sampai hari kiamat?
Dari uraian tentang maulid dapat ditarik kesimpulan bahwa:
Maulid Nabi SAWW msuk pada aspek budaya/tradisi yang baik. Sebuah moment bersejarah bagi manusia sampai akhir masa….

Dari Jarir bin Abdullah dari Rasulullah SAWW beliau bersabda: Barangsiapa yang memulai suatu tradisi dalam Islam tradisi yang baik kemudian diikuti oleh orang-orang setelahnya, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurahi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa memulai tradisi dalam Islam suatu tradisi yang buruk dan diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka baginya dosa dan dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun. (Shahih Muslim 8: 61, Kitab al-‘Ilm)
Moment Bersejarah

Adalah fitrah pada manusia mengabadikan moment-moment bersejarah dalam hidupnya.

“Isa putera Maryam berdoa: “Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezki Yang Paling Utama.” (QS. Al-Maidah 5: 114)

Betapa indahnya Islam……. al-Quran mengajarkan untuk menghidupkan moment2 bersejarah yang menjadi peluang untuk dekat kepada-Nya.

TAHLILAN

Saya dulu, dengan semangat tinggi, ingin menegakkan qur’an dan sunnah serta memberantas bid’ah. Dan itu masih berlanjut sampai sekarang cuma dengan kaca mata yang berbeda. Dulu Artikel-artikel saya tentang haramnya tahlilan dibakar masyarakat kampung sebelah. Disidang di depan banyak orang. Dan hampir terjadi huru hara.

Setelah lebih dari 15 tahun, ketika ayah meninggal, saya mengadakan tahlilan. Sebelum meninggal dunia pendangan ayah juga berubah. itu terjadi sekembalinya saya dari merantau. Banyak sekali perubahan mendasar.
Apa yang saya anggap dulu bid’ah sekarang tidak lagi, seperti muludan di atas…

Begitu juga dengan tahlilan, namun alhamdulillah pandangan masyarakat tentang tahlilan juga sudah berubah….mereka tahu itu adalah adat. Mau sehari, mau tidak, mau do’anya di mesjid…. yah cair begitu aja tanpa ada apa-apa….

Kalau yang mau ngadakan tahlilan biasanya begini:
1. mengundang masyarakat hadir ke rumah
2. sudah kumpul diminta do’a oleh shahibulbayt untuk yang telah meninggal
3. ngasih ampolop atau makanan.
selesai
atau keluarga minta do’a sama jama’ah di mesjid, kemudian masyarakat berdo’a bareng-bareng habis maghrib…. selesai…
Masyarakat juga kumpulin uang atau beras dikasihkan sama yg keluarga yg berduka… tak ada bayaran apa-apa untuk penggalian /perawatan mayit…. Ya hidup jadi indah… adem… masyarakat juga tenang….

Diundang oleh saudara muslim?, ya datang
dimintai do’a?, ya berdo’a
dikasih?, ya terimakasih….

Dimintai do’a, g dikasih apa-apa? ya, g apa-apa juga bahkan selayaknya kita bantu, dan menghibur yang berduka…. kalau do’a kita juga turut menentramkan keluarga yang ditinggalkan… berarti pahalanya banyak….

Konsep yang saya pakai tentang bid’ah dan bukan bid’ah adalah seperti yang saya paparkan pada awal thread ini.

Semoga Allah memuliakan ulama yang telah memberikan pencerahan pada saya, hingga saya bisa melewati hari-hari dengan tenang, mengikuti tradisi-tradisi baik yang telah ditanamkan oleh para pendahulu….

8 thoughts on “Bahasan Bid’ah”

    1. Hatur nuhun Infromasina, bilih bade ngersakeun kang Arul ngiringan diskusi di Forum Tasikmalaya Kota..mangga urang bari ngadu bako geura…heheheh

      eh ketang moal tiasa ngadu bako, margi aya fatwa MUI haram ngarokok…hihihi🙂

  1. Sampura sun ngengklokan we kuring mah kng ariraoseun namah nganggo basa Sunda nya kang tapi teu sawios nu utami namah urang Sunda ngarti batur nu sanes Sunda tiasa ngartinya hehe…pangersa kng Agus nu sae manah seratan akng nu biasa sok psnjang lebar hehe…kuring dugika ngalelengkut maos nage kng dakuresep tea di keureuyeuh we bari rengse maosteh kuring mikir naon bieu nu di baca hehe…dasar teu nganggo papadang ati maosna mereun kng nya?
    Pangersa akng nu sae manah,ari ceuk kuring urusan bid’ah mah kieu kng urng nganggo bhs Indnesia we nya,Setiap Bid’ah Adalah Kesesatan Bismillah … Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, sholawat dan salam bagi Nabi yang ummiy Al Amin, juga untuk keluarga dan para sahabatnya. Suatu hal yang seringkali menjadi perbincangan adalah penetapan ada atau tidaknya bid’ah hasanah dalam dinul islam yang telah Allah sempurnakan ini .. Maka dalam tulisan ini, insya allah pembahasan akan kita titik beratkan pada tiga hal berikut ini: – Penegasan bahwa semua bid’ah adalah sesat, dengan dalil dari Al Qur’an dan Sunnah serta Atsar dari para sahabat Rasulullah, sesuai dengan penjelasan para ulama .. – Penjelasan dalil-dalil yang digunakan oleh orang yang menganggap adanya bid’ah hasanah, khususnya dalil-dalil yang biasa digunakan oleh pendebat .. – Penegasan bahwa tidak ada bid’ah hasanah dalam islam .. Barangsiapa yang bersikap adil dalam membaca tulisan ini, maka akan dapat mengetahui secara pasti bahwasanya tidak ada bid’ah hasanah dalam islam. Meskipun keinginan sebagian manusia menolaknya .. Maka aku wasiatkan kepada diri kami sendiri dan kepada saudaraku semuanya, untuk mengingat kembali firman Allah subhanahu wa ta’ala: يا أيها الذين آمنوا كونوا قوامين بالقسط شهداء لله ولو على أنفسكم أو الوالدين والأقربين إن يكن غنيا أو فقيرا فالله أولى بهما فلا تتبعوا الهوى أن تعدلوا وإن تلووا أو تعرضوا فإن الله كان بما تعملون خبيرا “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. “(An Nisaa: 135) Jika hal ini telah dipahami, maka kita akan memulai untuk masuk ke pembahasan inti dari tulisan ini .. Poin Pertama: Penegasan Kembali, Bahwa Semua Bid’ah Adalah Sesat .. Poin ini hendaknya benar-benar mendapat perhatian yang lebih, dan hendaknya membacanya dengan sikap adil dan tidak memihak kepada kebatilan dan emosi, disini akan disebutkan dalil-dalil dari Al Qur’an yang mulia dan Sunnah yang suci tentang sesatnya perbuatan bid’ah, beserta beberapa penjelasan dari para ulama tentang dalil-dalil tersebut .. Dalil Pertama: Firman Allah subhanahu wa ta’ala: اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku , dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. “(Al Maidah: 3). Telah berkata Imam Malik bin Anas rahimahullah: “Barangsiapa mengada-adakan di dalam islam suatu kebid’ahan yang dia melihatnya sebagai suatu kebaikan, ia telah menuduh bahwa Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam mengkhianati risalah, karena Allah Ta’ala berfirman: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dantelah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. “Maka sesungguhnya yang tidakmenjadi bagian dari agama pada hari itu (hari pada saat ayat ini turun -ag), tidak menjadi bagian dari agama pula pada hari ini. “(Al I’tishom, Imam Asy Syatibi 1/64). Berkata Al Imam Asy Syaukani: “Maka sungguh, ketika Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agamaNya sebelum mematikan Nabi-Nya Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, bagaimana denganpendapat orang yang mengada-adakan setelah Allah menyempurnakan agamaNya ?! Seandainya sesuatu yang mereka ada-adakan termasuk dalam urusan agama, berarti (mereka menyatakan bahwa -ag) belum sempurna agama ini, ini berarti mereka telah menolak Al Qur’an, dan jika apa yang mereka ada-adakan bukan termasuk dari urusan agama, maka apa faedahnya menyibukkan diri dengan sesuatu yang bukan dari urusan agama? Ini adalah hujjah yang terang dan dalil yang agung, tidak mungkin orang yang mengandalkan akalnya dapat mempertahankan hujjahnya selamanya. Maka jadikanlah ayat yang mulia ini sebagai hujjah yang pertama kali memukul wajah ra’yi (orang yang mengandalkan akalnya) dan menusuk hidung-hidung mereka dan mematahkan argumentasi mereka. (Al qoulul mufid fi Adillati Al Ijtihad wa At Taqlid hal. 38). Dalil Kedua: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang hidup diantara kalian sepeninggalku, niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu kalian wajib berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang berpetunjuk (yang datang) sesudahku, gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah hal-hal baru yang diada-adakan (dalam urusan agama, -ag), karena sesungguhnya setiap hal yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat. “(HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah , Ad Darimi). Telah berkata Al Imam Ibnu rajab rahimahullah: “Sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam كل بدعة ضلالة (semua bid’ah adalah sesat) adalah kata yang lengkap, dan tidak ada pengecualian sedikitpun dan merupakan dasar yang agung dari dasar- dasar agama. “(Jami’ul Ilmi hal. 549). Telah berkata Al Imam Ibnu Hajar rahimahullah: “Sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam كل بدعة ضلالة (semua bid’ah adalah sesat) adalah qoidah syar’iyyah yang lengkap baik lafadz maupun maknanya. Adapun lafadznya, seolah-olah mengatakan “Ini hukumnya bid’ah, dan semuabid’ah adalah sesat.”. Maka, bid’ah tidak termasuk bagian dari syariat, karena semua syariat adalah petunjuk (bukan kesesatan -ag), apabila telah tetap bahwa hukum yang disebut itu adalah bid’ah, maka ditetapkanlah كل بدعة ضلالة (semua bid’ah adalah sesat) baik secara lafadz maupun maknanya, dan inilah yang dimaksud. (Fathul Baari 13/254). Berkata Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah: “Sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam كل بدعة ضلالة (semua bid’ah adalah sesat) makna yang terkandung didalamnya bersifat menyeluruh, umum, mencakup dan didukung dengan kata yang kuat. Mencakup dan umum pula yaitu pada lafadz كل (semua). Maka segala sesuatu yang didakwahkan sebagai bid’ah hasanah, jawabannya adalah dengan ucapan diatas, sehingga tidak adapintu masuk bagi ahlul bid’ah untuk menjadikan bid’ah mereka sebagai bid’ah hasanah, dan ditangan kami ada pedang yang sangat tajam dari Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam, yakni كل بدعة ضلالة (semua bid’ah adalah sesat). Pedang yang sangat tajam ini dibuat di atas nubuwah dan risalah, dan tidak dibuat di atas sesuatu yang goyah, dan bentuk kalimat yang digunakan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ini sangat jelas, maka tidak mungkin seseorang menandingi pedang yang tajam ini dengan mengatakan adanya bid ‘ah hasanah (bid’ah yang baik -ag), sementara Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda كل بدعة ضلالة (semua bid’ah adalah sesat). (Al ibda fi Kamalisy Syar’i waKhothiri Al Ibtida ‘hal. 13). Dalil Ketiga: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد “Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan kami ini perkarayang tidak ada aslinya, maka hal itu tertolak. “(HR. Bukhari dan Muslim). Berkata Al Imam Asy Syaukani: “Hadits ini termasuk pondasi pokok agama, karena termuat di dalamnya banyak hukum yang tidak bisa dibatasi. Betapa jelas sumber dalil untuk membatalkan ahli fiqh yang berpendapat bahwa bid’ah itu terbagi menjadi beberapa bagian, dan penolakan mereka secara khusus tentang sebagian di dalamnya, sementara tidak ada pengkhususan (yang dapat diterima) baik dari dalil aqli maupun naqli (dari qur’an maupun sunnah -ag). Dalil Keempat: قال عبد الله بن مسعود رضي الله عنه اتبعوا ولا تبتدعوا, فقد كفيتم, وكل بدعة ضلالة *. Berkata Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu’anhu. “Ikutilah (tuntunan rasulullah -ag), dan jangan kalian berbuat bid’ah, sungguh telah cukup bagi kalian, dan semuabid’ah adalah sesat.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Al Ibanah no 175 (1/327, 328), dan Al Lalika’i no. 104 (1/86). Dalil Kelima: Berkata Abdullah bin Umar radhiyallaahu’anhu: “Semua bid’ah adalah sesat, meskipun manusia melihatnya baik.” (Dirilis oleh Ibnu Baththah dalam Al Ibanah no 205 (1/339), dan Al Lalika’i no. 126 (1/92). Dengan ini jelaslah bahwa semua bid’ah adalah sesat, sebagaimana penjelasan ulama terhadap Ayat Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang menerangkannya .. Wallahu A’lam. Semoga Allah beri taufik .. Barakallahu fiikum .
    Rahayu kng sagung dumadi hehe..

    1. Rampeees kang Usep Solihin..
      hatur rebu nuhun kanan kintunan seratan nana..numawi seratan perkawis judul diluhur ngaguar perkawis BAHASAN BID’AH dina raraga supaya ADIL dina nguraikeun /ngaguarkeun masalah BID’AH.
      Sakumaha dalil anu di postkeun ku kang Usep :
      ———————————————————
      “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. “(An Nisaa: 135).
      ———————————————————
      ku hal ayat diluhur eta, supados ADIL dina ngahartikeun sagala perkara istilah anu di dugikeun di Jazirah ARAB ka kaum JAHILIYYAH, jeung supaya teu jadi FITNAH (sagala SESAT jeung KAFIR kanu teu sapaham jeung pamadegan kelompokna salah sawios DOKTRIN dasar awal na tina masalah BID’AH ieu..), nya di uraikeun wae..perkawis BID’AH :
      —–
      Supaya rapi, tulisan disusun sebagai berikut:

      Arti bid’ah menurut bahasa
      Arti bid’ah menurut istilah
      Makna bid’ah dalam al-Qur’an
      Makna bid’ah dalam al-Hadits
      Pengertian bid’ah dan syarat-syaratnya
      Sebab-sebab timbulnya bid’ah
      Amalan-amalan seputar bid’ah
      ———————dst—————————–
      Istilah ayana kecap BID’AH HASANAH (bid’ah yang baik) adalah ucapan Sahabat Rasululloh sendiri, bukan ulama/ustad kekinian… hehe🙂

      http://fummi2013.blogspot.com/2012/07/rasul-pernah-shalat-tarawih-berjamaah.html

      Abdurrahman bin Abdil Qari :
      “Saya keluar ke masjid bersama Umar bin Al Khathab pada bulan Ramadhan. Di sana banyak sekali orang yang terpencar-pencar. Ada yang shalat sendirian. Ada juga yang shalat sendiri, tetapi ada beberapa orang yang mengikutinya. Umar berkata; ‘Demi Allah, sesungguhnya saya melihat jika saya satukan mereka dengan seorang imam tentu akan lebih baik.’ Maka, Umar pun mengumpulkan mereka dengan Ubay bin Ka’ab sebagai imam. Kemudian, saya keluar lagi bersama Umar pada malam yang lain, dimana ornag-orang shalat dengan qari` (imam) mereka. Umar berkata; ‘Ini adalah bid’ah yang sangat bagus.

      Hadits ini diriwayatkan Imam Malik bin Anas bin Malik Al Ashbahi Al Madani (w. 179 H) dari Ibnu Syihab Az Zuhri dari Urwah bin Az Zubair dari Abdurrahman bin Abdil Qari. [5]

      Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari (1871), Al Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman (3122), dan Abdurrazaq dalam Al Mushannaf (7723).
      ——————————————

      https://id-id.facebook.com/LaskarNabawi/posts/510597255677723
      Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
      “Bid’ah itu ada dua macam:
      Pertama: adakalanya bid’ah itu secara syar’I sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:
      “Sesungguhnya setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”

      Kedua: adakalanya bid’ah itu secara lughoh, sebagaimana perkataan ‘Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu tentang pengumpulan mereka untuk melaksanakan sholat tarawih secara berjamaah dan dilakukan demikian seterusnya, yakni:
      نِعْمَ الْبِدْعَة هَذِهِ
      “Sebaik-baik bid’ah adalah ini (tarawih berjamaah).” (HR. Bukhari) (Tafsir Ibnu Katsir: surah Al Baqarah: 117)
      ———————————————

      Dina seratan anu dipostingkeun ku kang Usep Solihin diluhur kieu saur nah :
      “Barangsiapa yang bersikap adil dalam membaca tulisan ini, maka akan dapat mengetahui secara pasti bahwasanya tidak ada bid’ah hasanah dalam islam.”.—–berati ari kitu mah atuh Sesat kafir Sahabat Rasulullah Ummar bin Khattab teh (sanes ti Islam)???—- pon kitu deui Ibnu Katsir rahimahullah ogenan tos teu bersikap ADIL alias sesat…margi nguraikeun ayana Bid’ah 2 Macam…heheh🙂.
      ————tah-tah kumaha salajengna numutkeun kang Usep?—–

      Janten seratan mana /kajian mana anu ADIL dina ngabahas masalah BID’AH?, mangga kantun pilih ku masing-masing palawargi anu rurumpaheun ka ieu blog…heheh…sakitu heula kang.
      Rampeees…Baktos, rahayu sagung dumadi _/|\_

      1. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

        Sampurasun hehe…lajengkeun ah ngobrol na, seratan nu tipayun eta dadaran bid’ah tina segi syar’i ah,sakumaha kasauran kng Agus sangkan karasa adil berarti kedah aya babaran ngenaan bid’ah tina segi lugowi na,upami ku urang di paluruh kalawan taliti kasauran para ulama ngenaan bid’ah hasanah ieu jauh benten na sareng pamahan kalolobaan na2 masyarakat urng nya kitu deui para da’i sareng agamawan kiwari,di antawis kasauran para imam yaeta al-Imam al-Syafi’i (204H), al-Imam al-‘Izz ‘Abd al-Salam (660H), al-Imam al-Nawawi (676H) sareng al-Imam al-Sayuti (911H )rahimahumullah .
        Upami ku urang di titenan kalawan taliti aya kapendak ngenaan bid’ah hasanah anu dimaksud ku aranjeuna bid’ah hasanah tina segi lughowiyah sanes tina segi syar’i ah, rupina kitu kng Agus hehe…hal ieu tangtosna meryogikeun kajian anu langkung jembar deui terutami ngenaan alesan tina kasauran  sohabat nabi sapertos kasauran Umar ibn khotob dst.

        Sateu acan urang nalungtik maksud bid’ah hasanah anu ka unggel dina sababaraha tek para Ulama,taya bayana urang ningali heula pidawuh rosul saw :

        . فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا. فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة
        Dumasar kana hadist ieu kangjeng Nabi saw ngagunakeun kecap( كل) nu ngadung harti sakabeh na.Diloyogkeun hadist ieu jeung pamahan urang kana maksud bid’ah saku maha anu di uningakeun ku Imam Syatibi maka satemen2na bid’an teukudu di bagi jadi hasanah jeung saiyyi ah saestuna sadayana saiyyi ah jeung dholalah

        al-Imam Malik bin Anas rahimahullah (179H) ngadika:

        من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا صلى الله عليه وسلم خان الرسالة, لأن الله يقول: (اليوم أكملت لكم دينكم) فما لم يكن يومئذ دينا فلا يكون اليوم دينا.

        Saha saha jalma nu nyieun bid’ah dina islam jeung nganggap hade kana eta bid’ah  berarti maneh na ngadakwa ka Muhamad saw jeung hianat kana risalah,hal ieu sabab Allah swt parantos ngadawuh,”dina poe ieu kami geus nyampurnakeun agama ajeun” naon2 perkara anu dina poe eta teu jadi agama nya henteu jadi agama dina poe ayeuna.
        Sakitu we heula kang nya ….
        Rahayu bagea kng…

  2. Sampurasun, apabila dibaca ‘nganggo papadang ati’ tulisan ‘Bahasan Bid’ah’ di atas, pada dasarnya berpegang pada: ‘kullu muhdatsin bid’atun, wa kullu bid’atin dholalatun, wa kullu dholalatin fi’n-nar’ (Majlisi, Bihar al-Anwar, 84/203). Sakumaha tiasa diaos:

    (D)ari uraian yang telah kita paparkan mengindikasikan bahwa pembagian bid’ah menjadi dua, bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah, atau terbagi menjadi lima (…), maka semua itu tertolak.

    Yang ingin disoal oleh tulisan di atas adalah: Apakah muludan, tahlilan (yg mrupakan bidah scr lughowi) itu dianggap perkara syari’ah ataukah adat? Jika dianggap perkara syari’ah, maka definisi bid’ah scr syar’i dpt dioperasikan. Namun, vice versa, apabila hanya dianggap sbg adat, definisi bid’ah scr syar’i tdk dpt dioperasikan. Karena lingkup definisi bid’ah syar’i hanya pada bidang agama (fi ad-din).
    Tabe pun. Baktos.
    NB: sebagai pembanding, mungkin bisa digugling tulisan ‘Kesahihan Dalil Tahlilan dan Tahlilan Ada sejak Jaman Sahabat’. Cag!🙂

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s