Menyorot Konferensi Dialog Islam di Mekkah

Menyorot Konferensi Dialog Islam di Mekkah

Thursday, 12 June 2008

Radio IribKonferensi Mekkah ini memiliki beberapa poin penting. Sebab, Arab Saudi sebagai pihak tuan rumah, dikenal sebagai pusat mazhab Wahabi. Para ulama dan mufti Wahabi selama ini banyak mengeluarkan pelbagai fatwa yang bernada fanatisme dan menebar perpecahan. Apalagi, kalangan Islam radikal yang selama ini dituding sebagai teroris, sebagian besar adalah orang-orang wahabi dan mereka yang terpengaruh oleh pemikiran mazhab ini. Bahkan menjelang diselenggarakannya Konferensi Dialog Islam di Mekkah, 22 mufti Arab Saudi melansir sebuah statemen bersama menentang kaum muslim Syiah.

Mereka bahkan menuding Gerakan Hezbollah Lebanon telah mengabaikan perjuangan melawan AS dan Rezim Zionis Israel. Padahal, fakta membuktikan bahwa Hezbollah adalah gerakan perjuangan anti-zionis yang paling dibanggakan oleh mayoritas umat Islam dan selalu gigih berjuang melawan kebiadaban rezim zionis. Namun dengan digelarnya Konferensi Dialog Islam ini membuktikan pula bahwa di Arab Saudi masih terdapat ulama wahabi yang moderat yang senantiasa mendukung terwujudnya persatuan dan kerjasama di antara mazhab-mazhab Islam.

Sekjen Liga Muslim Dunia, Abdullah Turki, selaku penyelenggara Konferensi Mekkah dalam wawancaranya dengan koran Al-Sharqul-Awsat, cetakan Arab Saudi, menuturkan, “Konferensi Internasional Dialog Islam ini digelar untuk merancang rencana strategi dialog antara umat Islam dan kalangan non-muslim serta mengajak umat Islam untuk berdialog dengan pengikut agama dan mazhab lain guna mendekatkan masyarakat dunia”. Tentu saja, sebagaimana tema yang diusung dalam konferensi ini, umat Islam mesti terlebih dahulu berdialog untuk menyelesaikan persoalan internalnya, sebelum berdialog dengan umat agama lain.

Ketua Dewan Penentu Kebijakan Republik Islam Iran, Ayatollah Hashemi Rafsanjani, merupakan salah satu tokoh penting yang diundang dalam konferensi ini. Dalam pidatonya di Konferensi Mekkah, Ayatulah Rafsanjani, menegaskan, “Dialog mazhab Islam, merupakan pengantar menuju dialog antara agama. Kaum muslimin terlebih dahulu mesti saling berdialog dengan sesamanya dan mencapai kesepakatan bersama untuk melangkah di jalur Islami yang jelas. Setelah itu bisa mewakili Islam untuk berdialog dengan agama lain.

Seperti disinggung sebelumnya, tema utama konferensi Mekkah adalah dialog intra-Islam. Karena itu, salah satu sesi konferensi ini membicarakan masalah metode, aturan, syarat dan etika dialog. Karena tidak semua dialog bisa mewujudkan kemajuan dan kesepahaman. Sejatinya, sebagian besar perselisihan yang terjadi di dunia Islam lebih dikarenakan oleh kesalahpahaman dalam memahami akidah mazhab lain dan tidak diterapkannya metode dialog yang tepat. Sebagai misal, jika dialog pemikiran Islam dilakukan oleh orang awam, tentu saja dialog yang terjadi bakal menyimpang dan hanya menimbulkan fanatisme kelompok.

Mengomentari rintangan dialog intra-Islam, Ayatollah Taskhiri Sekjen Forum Dunia Pendekatan Antar Mazhab Islam, yang juga anggota delegasi Iran di Konferensi Mekkah, dalam wawancaranya dengan koran Al-Nadwah, menyatakan, “Dialog antar mazhab Islam memiliki banyak rintangan. Salah satunya adalah debat kusir yang justru membuat gagal. Al-Quran pernah berpesan kepada Nabi saw untuk memberantas adanya debat kusir dan sikap saling memojokkan pihak lain saat berdialog. Rintangan utama lainnya adalah sikap saling mengancam. Menghina pihak lain, dan mengalihkan tema utama dialog ke persoalan parsial yang tak ada kaitan langsung dengan pembicaraan merupakan hambatan utama dialog yang lain.

Salah satu rintangan utama terciptanya dialog konstruktif di dunia Islam adalah fanatisme dan radikalisme. Sikap fanatik bisa mencegah seseorang untuk menerima dalil logis pihak lain dan mengakui kebenaran. Ayatollah Rafsanjani dalam sambutannya di acara pembukaan konferensi Mekkah menilai fanatisme sebagai tanda kebodohan dan sebaliknya, menerima penyataan yang benar merupakan tanda kebijaksanaan dan akal. Lebih jauh beliau menuturkan, “Sikap ekstrim mendorong manusia menuju kejahilan. Namun, sikap moderat menempatkan manusia pada jalur yang membuat dirinya berpandangan terbuka“.

Tak aneh jika kemudian, sikap-sikap radikalisme mendorong seseorang untuk mengkafirkan pihak lain yang berbeda keyakinan bahkan menghalalkan darah pihak lain untuk dibunuh. Hingga kini, betapa banyak orang-orang muslim Syiah di Irak dibantai sia-sia, akibat fatwa ekstrim sejumlah kelompok radikal yang menghalalkan dibunuhnya orang muslim Syiah.

Selengkapnya pada Sumber : http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&task=view&id=3365&Itemid=28

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s