Rahbar dan Revolusi Islam Iran

1

Istilah Rahbar

2

Biografi

3

Revolusi

Istilah Rahbar

Rahbar yang dalam bahasa Persia berarti pemimpin besar adalah nama jabatan pemimpin tertinggi revolusi Islam Iran (Rahbar-e Enqelab-e Jumhuri-e Islami-e Iran) yang membawahkan semua institusi pemerintahan Islam Iran termasuk presiden (eksekutif), parlemen (legislatif), pengadilan (yudikatif), pasukan elit pengawal revolusi (IRGC), angkatan bersenjata, dan pasukan relawan (basiij). Semasa Sayid Ali Khamenei menjabat Presiden Iran, jabatan sebagai Rahbar ada di tangan arsitek dan komandan revolusi Islam Iran Imam Khomaini ra. Sejak Imam wafat, Sayid Ali terpilih sebagai pengganti beliau. Berdasarkan Konstitusi Republik Islam Iran, Rahbar dipilih oleh Dewan Ahli Rahbari (Majlise Khubregane Rahbari) yang terdiri atas sejumlah ulama senior yang memahami masalah kepemimpinan dalam Islam. Dewan ini sendiri anggotanya secara demokratis dipilih oleh rakyat.

Biografi:

Sebuah Keluarga Sederhana

28 Shafar 1382 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 18 April 1939, keluarga miskin dan sederhana Hujjatul Islam Sayyid Jawad Husaini melahirkan putera kedua yang diberi nama Ali. Tak ada tanda-tanda berarti yang menunjukkan bahwa bayi tampan yang dilahirkan dari keluarga religius itu akan menjadi salah satu pilar revolusi Islam di Iran. Sayyid Jawad, sang ayah, saat itu tidak mengira bahwa sang putera yang dilahirkan di kawasan Khamene, sebuah kota kecil sekitar Masyhad, Iran Timur itu, kelak akan dikomentari oleh Ayatullah Taleqani, imam Jumat pertama setelah revolusi, sebagai pemimpin masa depan Iran dan dunia Islam.

Padahal, Sayyid Ali yang menjalani masa-masa pertumbuhan dimasa kanak-kanaknya dengan kehidupan yang sangat sederhana tersebut, kini adalah pemimpin tertinggi di Iran. Beliau kini dikenal dengan sebutan Ayatullah Al-‘Udhma Sayyid Ali Khamenei. Beliau bahkan seorang wali faqih yang berdasarkan kepercayaan para pengikut Ahlul Bait, ia adalah wakil dari Imam Zaman yang saat ini sedang dalam masa ghaibah (menghilang dari pandangan lahiriah).

Ke manapun beliau mengunjungi tempat di Iran, ribuan bahkan terkadang sampai jutaan rakyat mengelu-elukannya. Orang-orang secara histeris menyebut beliau dengan kata-kata “Khamanei Khomeini-ye digar ast!” (Khamenei adalah penjelmaan dari Imam Khomeini). Setiap beliau menyelesaikan pidato yang berisikan seruan kepada rakyat Iran untuk melakukan sesuatu menghadapi arogansi kekuatan-kekuatan besar dunia, orang-orang itu akan berteriak “Ma hame sarbaz-e tu im Khamenei! Gush be farman-e tu im Khamanenei” (Kami semua adalah prajuritmu wahai Khamenei! Telinga kami selalu siap mendengarkan titahmu wahai Khamanei!).

Sayyid Ali Khamanei memang dilahirkan untuk menjadi pemimpin yang tumbuh dari bawah. Kakeknya, Sayyid Husein, memang seorang ulama pejuang yang bahkan sempat menjadi utusan Provinsi Tabriz pada Majelis Nasional Iran, sebuah jabatan yang kemudian dipergunakan Sayyid Husein untuk melawan kesewenang-wenangan rezim despotik Pahlevi dan kemudian berakhir dengan gugurnya beliau di tangan antek-antek Reza Khan. Akan tetapi, semua itu tidaklah cukup untuk menjadikan Sayyid Ali remaja sebagai orang yang dikenal sebagai keturunan pejuang. Sayyid Ali tetaplah menjadi sosok sederhana yang menapaki jenjang kepemimpinannya lewat perjuangannya sendiri.

Masa Kanak-Kanak

Masa kanak-kanak Sayyid Ali dilalui dengan belajar Al-Quran dari ayahandanya sendiri. Pada usia tujuh tahun, sebagaimana anak-anak seusianya, Sayyid Ali memasuki pendidikan di sekolah dasar. Selesai menamatkan pendidikan dasar, Sayyid Ali melanjutkan pendidikan di sekolah menengah. Pada saat yang bersamaan, Sayyid Ali juga mulai memasuki dunia hauzah,yang dikenangnya sebagai masa paling mengesankan selama hidupnya. Sekitar tahun 2000 lalu, saat diwawancarai oleh para pelajar sekolah menengah di Teheran, dan saat ditanya tentang cita-cita beliau waktu kecil, Sayyid Ali menjawab bahwa beliau tidak begitu ingat, apa cita-citanya ketika masih kanak-kanak. Hanya saja, menurut beliau, yang paling mengesankan dari masa kanak-kanak dan remajanya adalah ketika ia memutuskan untuk belajar ilmu-ilmu keagamaan di hauzah ilmiah.

Hauzah seakan sudah dipersiapkan sebagai dunia masa depan Sayyid Ali. Ayahnya, dan terutama ibunya, selalu mengatakan kepada Sayyid Ali bahwa satu-satunya keinginan keduanya menyangkut masa depan Sayyid Ali adalah mengirimkannya ke hauzah ilmiah. Sayyid Ali sendiri memang sangat menyukai ilmu-ilmu keagamaan. Pengetahuan luas ayahnya di bidang ilmu-ilmu agama adalah salah satu penyebab kekaguman Sayyid Ali kepada ayahandanya.

http://www.leader.ir/langs/en/index.php?p=bio

Sejak awal memasuki dunia hauzah, Sayyid Ali remaja sudah mengenakan pakaian ruhani sebagai busana sehari-hari, yaitu gamis, qaba (jas berukuran panjang), aba’ah (jubah), dan serban hitam yang menandakan bahwa ia seorang sayyid (keturunan Rasulullah). Mengenai pakaian ruhani yang sudah dipakainya sejak masih remaja itu, Ayatullah Khamenei mengatakan bahwa pakaian ruhani tersebut baginya merupakan upaya imaginary self (pencitraan diri) sedari dini bahwa ia adalah penentang rezim despotik Syah. Reza Khan, ayah dari Reza Pahlevi, memang sangat membenci jenis pakaian seperti itu. Tapi, justru karena itulah, Sayyid Jawad sudah menyuruh anaknya agar mengenakan pakaian ruhani ketika baru saja memasuki dunia hauzah, sebagai bentuk penentangan terhadap Syah.

Selanjutnya di : http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&task=view&id=345&Itemid=45

4 thoughts on “Rahbar dan Revolusi Islam Iran”

  1. heheheh, uluh penting pisan kasep,… margi geuning baturmah nganggo anggean teh dijantenkeun hiji ciciren/ciri pikeun jati diri pamadegannana.
    Teras….Naha ari anu ngaku Urang Sunda bagja heunteu jadi Urang Sunda teras nanggo anggean sunda, bagja heunteu?

  2. PUNTEUN NGIRING NYERAT : NYUCRUK JALUR TI KARUHUN URANG :

    KA-TUHANAN YANG MAHA ESA:
    SAREATNA : ulah bohong (djudjur)
    HAKEKATNA: ngarasa ,rumasa djeung narima usik-malik ku andjeunna,oge ngarti jen sakabeh anu aja eta kadjadian ti andjeun-na.
    TAREKATNYA: Boga tekad ngopenan (Mardi –Ika) sarta sutji
    MARIFATNYA: nyaho,nyaksi sarta boga tekad ngalakonan:

    KA-MANUSAAN:
    SAREATNA : tjageur djeung bageur
    HAKEKATNA: tjinta (nyaah) ka sasama hirup.
    TAREKATNA: ichtiar neangan djalan pikeun kasalamatan sarerea.
    MARIFATNA: nyaho, nyaksi sarta ngerasa – ngabogaan:

    KA-BANGSAAN:
    SAREATNA: ngabogaan diri,bangsa lemah- tjai,adat istiadat,nagara katut pamarentah sorangan.
    HAKEKATNA: henteu boga tekad arek mitjeun ka- budajaan ti karuhun djeung nu kapandang hade keur nagara katut pangeusina
    TAREKATNA: ichtiar mulihkeun djeung malangkeun lampah anu sasar kana asal anu asli deui,bari teu wani ngaku ka barang nu lain (sedjen)
    MARIFATNA: pertjaja ka diri pribadi sangkan djadi bangsa anu utama,sadjadjar djeung bangsa anu aja kasopananana ,bari nyaho + nyaksi anu kumaha ari nu di sebut:

    KA-DAULATAN RAKYAT
    SAREATNA : taraat kana undang” nagara-na.
    HAKEKATNA: kanyahona bener.
    TAREKATNA: ngabela bangsa djeung nagara anu saenyana.
    MARIFATNA: nyaraho,nyaraksi anu saenjana ( lain tjenah) yen:

    KA-ADILAN-SOSIAL TEH:
    Hukum masyarakat anu bener” sakur anu heuteu (embung) ngawudjudkeun ”PANTJA-SILA” hartina lain warga negara.

    sekian lama hati tidak kuat menahannya lihat ap yang di cita”kan pada leluhur kita .
    maaf di di salin dalam bahasa sunda .

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s