Sunnah Hadist 2

Sebagai tambahan contoh atas apa yang telah saya sebutkan tentang bercampurnya kebenaran dan kebatilan adalah sebagai berikut.

Banyak sekali tuduhan bahwa syi’ah meyakini adanya tahrif (pengurangan/penambahan) pada al-Quran. Meskipun sudah dibantah dengan sangat kuat. Namun tetap saja orang-orang yang sakit jiwa itu menghembus-hembus api fitnah. Setahu saya riwayat tentang tahrif al-Quran pada syi’ah hanya ada pada riwayat-riwayat maudhu atau dha’if, sebaliknya pada sunni jauh lebih banyak dan dinyatakan shahih. Meskipun demikian mayoritas ulama sunni menolak hadits-hadits shahih tersebut.

Berikut satu contoh dari puluhan riwayat tahrif dan satu contoh ulama besar sunni yang meyakininya.

Muslim, Sahih, I, hlm. 726; al-Hakim, al-Mustadrak, II, hlm. 224 meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari,”Kami membaca satu surah seperti Surah al-Bara’ah dari segi panjangnya, tetapi aku telah lupa, hanya aku mengingati sepotong dari ayatnya,”Sekiranya anak Adam (manusia) mempunyai dua wadi dari harta, nescaya dia akan mencari wadi yang ketiga dan perutnya tidak akan dipenuhi melainkan dengan tanah.”


Imam Malik salah seorang Imam madzhab meyakini adanya tahrif. Imam Malik berkata tentang sebab gugurnya basmalah pada pembukaan surah Barâ’ah, “Sesungguhnya ketika bagian awalnya gugur maka gugur pulalah basmalahnya. Dan telah tetap bahwa ia sebenarnya menandingi surat al Baqarah (dalam panjangnya) (Al Itqân,1/86, baca juga al Burân,1/263.)

Imam al-Suyuti di dalam Tadrib al-Rawi, hlm. 36 menyatakan bahwa Bukhari telah mengambil lebih 480 periwayat yang tidak disebut atau diambil oleh Muslim dan termasuk di dalamnya para periwayat yang lemah, baik karena tertuduh sebagai pembohongan atau lainnya. Sementara Muslim mengambil 620 periwayat yang tidak disebut atau diambil oleh Bukhari dan terdapat di dalamnya 160 periwayat yang lemah.

Murtadha al-Askari menulis buku berjudul 150 sahabat fiktif. Nama-nama mereka disebutkan oleh al-Bukhari dan Muslim tetapi mereka sebenarnya tidak pernah pernah ada. Oleh karena penilaian “sahih” yang diberikan oleh seseorang, misalnya Bukhari menyatakan “Sahih” itu menurut pandangannya, begitu juga dengan yang lainnya berdasarkan pada pendapatnya.


Imam Ja’far ash-Shadiq as bersabda:”Apabila datang kepadamu dua hadits yang bertentangan maka hendaklah kamu membentangkan kedua-duanya kepada Kitab Allah dan jika ia tidak bertentangan dengan Kitab Allah, maka ambillah dan jika ia bertentangan dengan Kitab Allah, maka tinggalkanlah” (Syaikh, al-Ansari, al-Rasa’il, hlm. 446)

Sumber : http://www.tasikmalayakota.go.id/pnbb/viewtopic.php?id=284&p=6

Contoh lainnya ada pada topik sahabat. Mudah2an bisa dimengerti.

Topik Sahabat : http://www.tasikmalayakota.go.id/pnbb/viewtopic.php?id=339

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s