Menyibak Sisi Gelap CIA

Saturday, 08 November 2008

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/185010/

POLITIKluar negeri AS,era perang dingin, didesain untuk merebut simpati negara lain. CIA pun diarahkan untuk mengamankan ideologi dan mengalahkan musuh.

Namun, dengan segenap keperkasaannya, sebetulnya intelijen Amerika Serikat (AS) sejak awal telah banyak mengalami kegagalan. Setelah meninggalnya F D Roosevelt, yang telah menegaskan diri melalui William J Donovan (pemimpin OSS, Kantor Dinas Strategis) bahwa intelijen AS harus bersifat global dan totaliter.

Segenap konflik, sabotase, dan salah urus telah menjadi saksi dari lahirnya CIA (Central Intelligence Agency). Kekontroversian CIA terus terjadi dari masa ke masa.Dari Truman, Eisenhower, Kennedy, Johnson, Nixon, Ford, Carter, Reagen, H W Bush, Clinton, hingga George W Bush.CIA bukannya menjadi pionir dalam mendeteksi potensi awal yang membahayakan stabilitas negara, malah sering menjadi awal bencana bagi AS.

Sejumlah kegagalan, kesalahan analisa, serta ketidakmampuan menerjemahkan visi intelijen sebagai lembaga cegah tangkal waspada menjadikan AS hingga sekarang dianggap sebagai sumber malapetakaduniabukansebagai polisi yang seharusnya menjaga ketertiban dunia.

Continue reading Menyibak Sisi Gelap CIA

Rejim Orba – Suharto terhadap Ummat Islam di Indonesia

Strategy „Divide et Impera“ (Strategi Pecah Belah dan Kuasai)

Rejim Orba – Suharto terhadap Ummat Islam di Indonesia

Paska turunnya L. B. Moerdani strategi intelejen dalam menghadapi kekuatan Islam pun berubah. Teknik tebar, pancing, jaring ala Ali Moertopo mulai ditinggalkan karena justru malahan menambah instabilitas. Strategi yang kemudian dilakukan intelejen kemudian lebih soft bahkan dibuat seolah-olah pemerintah mendukung kekuatan Islam.

Pada masa itu gerakan-gerakan alternatif di luar ormas-ormas islam dan kepemudaan islam mulai marak. Sejumlah organisasi remaja masjid tumbuh pesat di masjid-masjid raya juga masjid-masjid kampus. Sebagian kalangan aktivis muda mulai mengubah konsep dakwah mereka menjadi dakwah kultural dan berusaha membaurkan diri dengan masyarakat. Misal saja organisasi remaja masjid waktu itu aktif bergerak dengan sistim jemput bola pada remaja-remaja bermasalah seperti anggota gank motor, pecandu narkoba dll Dan ini dianggap pemerintah sebagai sebuah ancaman baru. Salah satu point penting untuk menunjang kekuasaan rezim Soeharto adalah memastikan semua organisasi yang ada dan hidup di Indonesia berada dalam cengkraman dan kendali pemerintah.Bukan saja organisasi keagamaan atau politik tapi juga organisasi profesi seperti IDI atau organisasi para hobbies seperti RAPI pun dibawah kendali pemerintah dimana para pimpinannya tidak bisa naik kalau tidak mendapat ‘restu’ dari pemerintah. Akan tetapi organisasi-organisasi remaja masjid juga majlis-majlis taklim yang tumbuh pada masa itu tidak demikian.

Continue reading Rejim Orba – Suharto terhadap Ummat Islam di Indonesia

PKS dan SUHARTO

nasional-list@yahoogroups.com
wahana-news@yahoogroups.com
Weiterl.: [wahana-news] Trs: [nasional-list] Anis Matta: Soeharto Sebagai Pahlawan Sudah Disepakati Internal PKS

Tulisan ini juga disajikan dalam website http://kontak.club.fr/index.htm

Catatan A. Umar Said

Guru bangsa adalah Bung Karno dan bukanlah Suharto atau sejenisnya !!!

Pencantuman dalam iklan oleh PKS bahwa Suharto adalah guru bangsa menunjukkan bahwa partai yang di antara para tokoh -tokoh utamanya terdapat juga doktor Hidayat Nur Wahid MA (ketua MPR) telah melakukan “blunder” (bahasa Belanda, yang artinya kesalahan besar) yang tidak tanggung-tanggung. Kalau tidak merupakan “blunder”, tetapi memang betul-betul menjadi sikap politik (dan sikap moral) partai, maka berarti bahwa partai PKS (ma’af atas pemakaian kata-kata berikut ini ) menelanjangi dirinya sebagai partai yang dipimpin orang-orang yang imannya sesat atau garis politiknya keliru atau moralnya kurang sehat.(untuk tidak mengatakan dengan bahasa lebih polos : moralnya rusak).

Bahwa semua partai bisa saja melakukan kesalahan-kesalahan, dan juga bahwa ada saja kekeliruan yang bisa dima’afkan atau dibiarkan saja, itu bisa dimengerti oleh banyak orang.Namun, sekali lagi namun, kalau “Suharto adalah guru bangsa” ini menjadi keyakinan suatu partai (terutama sekali PKS atau Golkar) maka hal itu perlu bersama-sama dipersoalkan secara serius atau diprotes beramai-ramai. Karena, penggunaan kata “bangsa” di situ bias diartikan bahwa seluruh bangsa menyetujui anggapan yang sesat demikian ini.

Padahal, penyebutan “Suharto guru bangsa” merupakan racun yang betul-betul membahayakan kehidupan negara dan bangsa kita bersama, yang sekarang sudah makin abrul-adul ini.

Sebab, memberikan penghargaan “guru bangsa” yang begitu tinggi kepada Suharto adalah persoalan yang besar, yang tidak bisa kita anggap sebagai hal yang remeh-temeh saja. PKS boleh-boleh saja menganggap Suharto sebagai guru PKS, itu adalah hak PKS, atau urusan PKS. Bagi banyak orang hal yang demikian itu malahan makin mudah untuk melihat dengan lebih jelas apa sebenarnya dan bagaimana sebetulnya PKS itu. Dengan sikap PKS yang menganggap Suharto sebagai “guru bangsa” maka makin jelaslah arah orientasi politiknya dan juga makin gamblang standar moral yang dipakanya. Mengetahui
lebih jelas dan lebih banyak tentang PKS adalah penting bagi kita untuk menghadapi perkembangan situasi politik di negeri di masa yang akan datang, termasuk mengantisipasi Pemilu yang akan datang. Demikian juga tentang Golkar.

Bung Karno tidak bisa disejajarkan dengan Suharto

Continue reading PKS dan SUHARTO