Rejim Orba – Suharto terhadap Ummat Islam di Indonesia

Strategy „Divide et Impera“ (Strategi Pecah Belah dan Kuasai)

Rejim Orba – Suharto terhadap Ummat Islam di Indonesia

Paska turunnya L. B. Moerdani strategi intelejen dalam menghadapi kekuatan Islam pun berubah. Teknik tebar, pancing, jaring ala Ali Moertopo mulai ditinggalkan karena justru malahan menambah instabilitas. Strategi yang kemudian dilakukan intelejen kemudian lebih soft bahkan dibuat seolah-olah pemerintah mendukung kekuatan Islam.

Pada masa itu gerakan-gerakan alternatif di luar ormas-ormas islam dan kepemudaan islam mulai marak. Sejumlah organisasi remaja masjid tumbuh pesat di masjid-masjid raya juga masjid-masjid kampus. Sebagian kalangan aktivis muda mulai mengubah konsep dakwah mereka menjadi dakwah kultural dan berusaha membaurkan diri dengan masyarakat. Misal saja organisasi remaja masjid waktu itu aktif bergerak dengan sistim jemput bola pada remaja-remaja bermasalah seperti anggota gank motor, pecandu narkoba dll Dan ini dianggap pemerintah sebagai sebuah ancaman baru. Salah satu point penting untuk menunjang kekuasaan rezim Soeharto adalah memastikan semua organisasi yang ada dan hidup di Indonesia berada dalam cengkraman dan kendali pemerintah.Bukan saja organisasi keagamaan atau politik tapi juga organisasi profesi seperti IDI atau organisasi para hobbies seperti RAPI pun dibawah kendali pemerintah dimana para pimpinannya tidak bisa naik kalau tidak mendapat ‘restu’ dari pemerintah. Akan tetapi organisasi-organisasi remaja masjid juga majlis-majlis taklim yang tumbuh pada masa itu tidak demikian.


Organisasi-organisasi itu bersifat independen dengan struktur organisasi yang cair. Akan tetapi pertumbuhan anggotanya sangat luar biasa. Karena itulah semua organisasi dakwah “liar” itu harus segera dikontrol. Pendekatan awal pemerintah adalah berusaha menyatukan semua organisasi dakwah tersebut dalam sebuah organisasi atau perhimpunan formal dimana kemudian pemerintah bisa mengontrolnya melalui organisasi tersebut. Pemerintah pun merestui organisasi tersebut bahkan memfasilitasinya dengan menempatkan organisasi-organisasi tersebut untuk berkantor di masjid negara Istiqlal.

Akan tetapi eksperimen ini gagal, para aktivis yang berusaha menjaga jarak dengan pemerintah menolak mengikuti gagasan tersebut. Intelejen kemudian menggunakan pendekatan lain yang intinya memanfaatkan potensi kekuatan dari kelompok-kelompok dakwah tersebut dimana kemudian mereka bisa dimamfaatkan untuk kepentingan rezim. Akan tetapi mereka harus dikebiri terlebih dahulu kekuatan untuk melumpuhkan potensi ancamannya.

Bakin pun menugaskan Soeripto untuk menjalankan tugas ini dan mengangkatnya sebagai Ketua Tim Penanganan Masalah Khusus Kemahasiswaan DIKTI/Depdikbud pada tahun 1986-2000. Tugas dan misi khusus yang diemban Soeripto adalah membentuk jaringan organisasi radikal Islam baru di kalangan remaja masjid dan gerakan kampus yang berada dibawah binaan dan pengawasan intelejen. Proyek ini sendiri pada dasarnya adalah kelanjutan proyek yang dikerjakan oleh Kol Pitut Soeharto atas perintah Ali Moertopo. Soeripto pria kelahiran 20 November 1936 ini merupakan kader Partai Sosialis Indonesia (PSI) dengan masuknya ia dalam keanggotaan Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSos) pada tahun 1957. Ia kemudian bergabung dengan Kodam Siliwangi sebagai kader militer Sukarela pada tahun 1967 dan dibawah pembinaan Kharis Shuhud. Soeripto kemudian menjadi kader intel binaan Pangkowilhan (Wijoyo Suyono, Soerono dan Wahono), dan secara struktur dibawah komando Yoga Sugama di Bakin yang waktu itu dipimpin Sutopo Juwono. Sempat menduduki jabatan sebagai Kepala Staff Bakin dan Sekretaris Lembaga Studi Strategis /Wanhan-kamnas dan menjadi utusan khusus Pemerintah RI untuk normalisasi hubungan dengan RRC pada tahun 1981. Saat ini Soeripto memegang jabatan di DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan
menjadi anggota DPR-RI asal partai ini. Untuk menjalankan misinya Soeripto merekrut Helmy Aminuddin putra dari Danu Muhammad Hasan.

Helmi Aminuddin sebelumnya menjabat sebagai Mentri Luar Negri NII fraksi Adah Djaelani sebelum akhirnya ditangkap dalam sebuah operasi oleh Kopkamtib pada tahun 1980 dan ia kemudian ditahan tanpa pernah diajukan ke pengadilan di Rumah Tahanan Militer Cimanggis sebelum akhirnya ia akhirnya dibebaskan antara tahun 1983-1984.

Selepasnya dari penjara Helmy Aminuddin yang saat ini menjabat sebagai Ketua Majlis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berada di bawah binaan Soeripto lalu kemudian dikirim ke Timur Tengah untuk mempelajari mengadopsi ajaran dan manhaj serta berhubungan langsung secara organisasional dengan gerakan Ikhwanul Muslimin faksi Qiyadah Syaikh Sa’id Hawwa pimpinan Ikhwanul Muslimin cabang Suriah sekitar tahun 1985. Dimana sepulangnya dari sana dibawah
dukungan Bakin dan arahan dari Soeripto dibentuklah Jamaah Tarbiyah pada antara tahun 1987-1988 dengan doktrin utama dari pemikiran Sa’id Hawwa yang diterjemahkan menjadi beberapa seri buku Allah, Ar Rasul, Al Islam dan Jundullah dan diterbitkan oleh Al Ishlahy Press yang menjadi bacaan wajib para kader inti gerakan.

Helmy Aminuddin sendiri kemudian menjadi Mursyid ‘Aam Jama’ah Tarbiyah pada tahun 1991. Tujuan pertama pembentukan kelompok ini adalah menyatukan semua kelompok-kelompok dakwah masjid dalam satu kelompok besar yang dikendalikan intelejen. Salah satu kesulitan utama pemerintah mengontrol organisasi-organisasi ini adalah karena mereka bersikap independen dimana masing-masing organisasi memiliki struktur, cara dan metode masing-masing yang berlainan antara satu dengan yang lain. Dengan metode penyeragaman yang dilaksanakan oleh jama’ah tarbiyah maka seluruh organisasi masjid tersebut bisa dikontrol dengan mudah dengan cukup memegang pucuk pimpinannya saja.

Tujuan kedua adalah mencegah kebangkitan kekuatan Islam. Dua unsur utama yang menjadi syarat bangkitnya kekuatan Islam adalah dukungan dari ummat dan persatuan antar komponen aktivis islam. Karena itu kekuatan organisasi masjid didesain untuk menjadi organisasi eksklusif dan elitis yang cuma terfokus ke dalam. Selain itu hubungan dengan kelompok dakwah lain didesain untuk selalu berada dalam suasana yang tidak harmonis bahkan dipenuhi prasangka dan kecurigaan bahkan kebencian yang akut.

Pembinaan dengan metode cuci otak maka secara instan kader-kader kelompok ini bisa dicetak dengan cepat. Untuk menunjang penyebaran ideologinya maka diterbitkanlah majalah Sabili pada tahun 1987 kemudian juga penerbitan Gema Insani Press yang menyebarluaskan paham radikal ini melalui media dan penerbitan buku-buku ideologis dengan harga yang sangat murah padahal dengan mutu cetakan yang cukup mewah karena mendapat subsidi. Majalah Sabili sendiri beredar
secara luas walaupun tidak dilengkapi dengan SIUPP dan dijual dengan harga hanya 600 rupiah padahal dengan mutu kertas yang bagus plus nyaris tanpa iklan. Buku-buku terbitan GIP pada masa itu dijual dengan mulai harga 600-5500 rupiah saja (catalog tahun 1991) sehingga terjangkau oleh kantong pelajar dan mahasiswa bahkan akhirnya bersama penerbitan buku-buku sealiran yang lain, buku-buku harokah pun menggusur buku-buku islam yang lain.

Para aktivis dakwah masjid yang terbiasa dengan pola musyawarah dan penyeimbangan kekuatan tiba-tiba dikejutkan oleh aksi-aksi pengambil alihan khas intelejen dilakukan oleh aktivis jamaah taribyah seperti mobilisasi massa, black propaganda, penculikan aktivis, teror dan intimidasi dll. Ketika berhasil mengambil alih kekuasaan kelompok ini kemudian langsung melakukan aksi-aksi pembersihan dan penyeragaman. Paham ukhuwah digantikan dengan paham ashobiyah seluruh aktivis yang tidak mengikuti kelompok mereka disingkirkan demikian juga semua hubungan
dengan kelompok dakwah lain dibekukan bahkan akhirnya kelompok-kelompok ini digusur dari masjid. Seluruh aktivitas dakwah yang berhubungan dan/atau melibatkan partisipasi masyarakat dihentikan. Aktivitas masjid hanya diarahkan untuk pembinaan internal demi mencetak sebanyak-banyaknya kader militan dan radikal di masjid. Kelompok-kelompok diskusi dibubarkan dan metode pengkaderan digantikan dengan indoktrinisasi.

Aktivis masjid pun seketika itu menjadi sebuah komunitas yang asing bagi masyarakat Isu-isu kemasyarakatan tidak lagi menjadi perhatian. Isu masalah jenggot pun menjadi sangat pentingnya sampai akhirnya menggusur isu mengenai kenakalan remaja, isu jilbab menjadi agenda yang menjadi prioritas utama mengalahkan isu penyalahgunaan narkoba.

Maka dengan menggunakan tangan kelompok radikal akhirnya kekuatan aktivis masjid pun dilumpuhkan total. Dengan hilangnya potensi ancaman utama kelompok dakwah masjid maka aktivis dakwah masjid tidak lagi dianggap sebagai ancaman, dan tindakan represi terhadap kelompok ini pun dilonggarkan. Ketika sebuah masjid jatuh ke tangan radikal maka intelejen pun menghentikan operasi-operasi pengawasan yang ketat pada mereka. Itulah sebabnya aktivitas jama’ah tarbiyah tidak pernah mendapat gangguan dari aparat pada masa itu walaupun mereka menyebar paham radikal sementara kelompok-kelompok islam lainnya justru terpaksa tiarap. Dengan dikuasainya masjid-masjid oleh kelompok radikal maka peristiwa pendudukan gedung DPR RI oleh gabungan massa dari berbagai ormas pemuda dan remaja islam seperti pada waktu penolakan RUU Perkawinan pun tidak perlu dikuatirkan lagi.

Ketaatan yang kuat di kalangan jama’ah tarbiyah dan kelompok radikal islam lainnya pada pucuk pimpinannya memudahkan pemerintah untuk mengawasi dan mengendalikan kelompok-kelompok ini, karena dengan cukup memegang kepalanya saja maka seluruh anggotanya akan tunduk dan patuh. Paham eksklusif kelompok radikal menjadi penentu sukses penggunaan metode “pecah belah dan kuasai” kelompok-kelompok Islam melalui ideologi kaum harokah yang menolak perbedaan dan keberagaman serta paham dominasi terhadap kelompok lain maka hubungan antar organisasi dakwah pun berada dalam suasana yang tegang dan penuh kecurigaan antar sesama mereka bahkan lebih jauh lagi cenderung pada kondisi untuk saling menghancurkan dan menjatuhkan satu sama lain.

Tapi ada tujuan lain yang lebih penting dari pembentukan kelompok radikal ini yaitu menyediakan cukup banyak orang-orang bodoh yang bisa dimamfaatkan juga dikorbankan oleh intelejen. Kalangan
intelejen adalah sebuah kelompok yang selalu bergerak di balik layar. Kerahasiaan adalah poin utama dalam semua operasi-operasi mereka, bahkan seringkali karena sangat rahasianya Presiden pun
kadang tidak tau apa yang dikerjakan mereka. Itulah sebabnya di banyak negara intelejen kadangkala berubah menjadi negara dalam negara bahkan seorang Presiden pun bisa mereka bunuh bila dianggap membahayakan negara (berdasarkan versi mereka), contoh kasus adalah terbunuhnya John F Kennedy presiden Amerika Serikat yang dicurigai didalangi oleh agen-agen intelejen dari negrinya sendiri. Karena itulah dalam setiap operasinya intelejen cenderung berusaha memanfaatkan dan menggunakan tangan orang lain. Personel yang terpilih menjadi anggota intelejen selalu merupakan kader terbaik di kesatuannya masing-masing karena intelejen hanya membutuhkan orang yang memiliki kecakapan dan kualifikasi terbaik. Oleh sebab itu sangatlah mahal kalau harus mengorban-kan kader-kadernya sendiri.

Dan kandidat paling cocok untuk menjadi pelaksana lapangan tugas dan aksi rekayasa intelejen adalah orang fanatik. Orang- orang fanatik selalu siap secara sukarela untuk mengorbankan apa saja termasuk nyawanya sendiri demi tujuan atau cita-cita ideologisnya. Mereka juga tidak terlalu banyak bertanya atau menuntut. Karena itulah mereka menjadi pion yang cukup tepat karena mereka bisa dengan mudah dihasut dan diarahkan melakukan suatu tugas tanpa mereka sendiri menyadarinya sekaligus bias dengan mudah untuk dikorbankan dan dihabisi dengan tanpa mendapatkan kerugian apa-apa.

Dan inilah yang menjawab keanehan fenomena kelompok radikal Islam di Indonesia dibanding kelompok serupa di luar negri.Di negara-negara lain kelompok radikal Islam selalu berada dalam posisi vis á vis dengan pemerintah yang didukung militer dan intelejen sementara di Indonesia malahan kebalikannya. Para tokoh radikal Islam Indonesia justru bermesraan dengan militer dan intelejen. Ditempatkannya mantan kepala staff Bakin menjadi pucuk pimpinan PKS sebuah partai yang didirikan jamaah tarbiyah dan kecenderungan pemihakan dari elite partai itu pada kandidat presiden dari militer memperlihatkan dengan jelas siapa sebenarnya mereka. Tapi sungguh disayangkan para pion ini tidak pernah sadar bahwa dirinya Cuma pion, bahkan mereka
merasa memanfaatkan bukan dimanfaatkan dalam meninjau hubungannya dengan militer dan intelejen.

Berhentikah Aktivitas Intelejen ?

Pertanyaan ini penting untuk dijawab mengingat pada masa reformasi seperti saat ini kalangan intelejen seakan-akan tiarap untuk cuci tangan. Tapi pada dasarnya operasi intelejen pada aktivis Islam tidak pernah berubah. Terbunuhnya Tengku Fauzi Hasbi alias Abu Jihad bersama kawannya Edy
Saputra dan Ahmad Syaridup setelah diculik dari hotel Nisma di Waihaong, Ambon pada 22 Februari 2003 dimana pelakunya dipimpin oleh intel polisi bernama Mohamad Syarif Tarabubun memperlihat-kan adanya kemungkinan perseteruan di tubuh intelejen RI.

Abu Jihad sebenarnya adalah anggota TNI dari satuan Infantri Kodam Bukit Barisan yang direkrut intelejen sejak tahun 1978 untuk menyusup ke GAM. Belakangan ia juga ditugaskan untuk menggarap NII diantaranya dengan mengatur rekonsiliasi NII antara fraksi Ajengan Masduki, fraksi Tahmid, fraksi Abu Toto, pada bulan Agustus 1999 di Cisarua Bogor.Ini tentu saja sesuat yang janggal karena GAM tidak pernah punya kaitan dan hubungan resmi dengan kelompok Islam radikal bahkan corak mereka condong pada ideologi sosialis.

Kasus penangkapan Umar Al Faruq tersangka teroris JI yang kemudian di ekstradisi ke Amerika Serikat untuk kemudian ditahan ke Baghram, Afghanistan, setelah sebelumnya juga dipenjara di Guantanamo, Kuba mengungkapkan lagi keterlibatan agen intelejen di tubuh organisasi Islam Radikal. Umar al Faruq ditangkap bersama seseorang yang bernama Abdul Haris yang kemudian dilepas begitu saja. Dalam perkembangannya terungkap bahwa ia sebenarnya adalah agen organik
Bakin yang menyusup ke jaringan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir di Malaysia sejak tahun 1986. Yang lebih mengejutkan lagi adalah kedua nama ini (Abu Jihad dan Abdul Haris) di dalam struktur Jamaah Islamiyah (JI) merupakan atasan dari Hambali dan Zulkarnain alias Arif Sunarso koordinator JI.Jadi apakah intelejen juga berperan dalam kasus terorisme yang terjadi beberapa tahun belakangan ini, bisa jadi waktu pula yang akan menjawab.

Nyantong – Tasikmalaya, 20.11.2008

Burha Nu Din bin Umar

3 thoughts on “Rejim Orba – Suharto terhadap Ummat Islam di Indonesia”

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s