Mendudukkan Makna Pluralisme Agama

Jalaluddin Rakhmat

Pada tingkat praksis, beberapa tahun belakangan ini negeri kita dinodai dengan dilakukannya tindak-tindakan anarkis terhadap penganut dan kelompok agama tertentu, oleh sekelompok pihak tertentu, dengan mendasarkannya pada legitimasi teologis. Kekerasan atas nama agama digunakan sebagai postulasi untuk menepis pluralitas keagamaan. Pada tingkat wacana, gagasan tentang pluralisme keagamaan sedang menjadi topik segar. Bagaimana gagasan pluralisme keagamaan dalam sorotan tokoh keagamaan Indonesia? Berikut petikan wawancara Tim Redaksi KEBEBASAN, Tantowi Anwari dan Syifa Amin Widigdo, dengan intelektual Islam Indonesia, Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat.

Bagaimana tanggapan Kang Jalal tentang wacana pluralisme yang akhir-akhir ini semakin marak diperbincagkan di negeri kita ini?

Jika kita cari (search) kata pluralism di internet, kita akan mendapati bahwa salah satu kategori pluralisme adalah pluralisme yang dikembangkan oleh para teolog di bidang keagamaan, yakni pluralisme religius (religious pluralism). Disana ada kalangan fundamentalis Kristen mengemukakan dalil-dalil yang intinya menolak pluralisme. Dan yang mendukung pluraisme agama juga mengemukakan argumentasi-argumentasinya dengan berdasarkan dalil-dalil. Memang, saya kira kalau kita mau menyebarkan pluralisme di kalangan kaum muslim atau di kalangan umat beragama, harus dengan menggunakan dalil-dalil agama. Mendukung pluralisme tanpa mengemukakan dalil-dalil agama tidak akan didengar oleh audiensnya.
Continue reading Mendudukkan Makna Pluralisme Agama