TIDAK ADA KERAJAAN HINDU DI TATAR SUNDA

Permasalahan adanya perdebatan di kalangan para Ahli sejarah apakah Kerajaan Sund-Galuh(Pajajaran) menganut Hindu /Budha atau Keagamaan Asli salah satunya disebabkan karena Sri Baduga Maharaja tidak memeluk /menganut Agama Islam “(dalam arti Syari’at Islam) bukan Hakikat Islam”.

Bukti dan Data tekstual yang dijadikan rujukan adanya agama Hindu /Buddha pada masyarakat Sunda adalah tinggalan arkeologi Lingga, Arca-arca Ganesa, Wisnu..dll, dan Naskah-naskah Sunda Kuno sendiri yang menyebutkan nama dewa-dewa Hindu seperti tercermin salah satunya dalam Naskah Sanghyang Siksakanda Ng Karesian Kropak 630 sebagai berikut :

Purba, timur kahanan Hyang Isora, putih rupanya;

Daksina, kidul. kahanan Hyang Brahma, merah rupanya,

Pasima, kulon kahanan Hyang Mahadewa, kuning (rupanya),

Utara, lor, kahanan Hyang Wisnu, hireng rupanya;

Madya, tengah kahanan Hyang Siwah, [aneka] aneka warna rupanya (Danasasmita dkk. 1987: 75)

Untuk memporoleh keutuhan pemahaman tentang keagamaan masyarakat Sunda pra Islam, tentu harus dikaji secara utuh pula Naskah-naskah Sunda kuno tersebut guna menentukan keagamaan /kepercayaan masyarakat Sunda apakah menganut Hindu/Buddha (India) atau Pribumi?. Pemahaman kegamaan tentu tidak dapat dilepaskan dengan pemahaman terhadap Tuhannya. Contoh dalam membaca tekstual Al-Qur’an (Kitab Suci ummat Islam), menyebutkan nama hewan Sapi Betina (Al-Baqarah) diabadikan menjadi nama Surah ke-2 Al-Qur’an, tentunya tidak dapat disebutkan bahwa ummat Islam sampai sekarang ada yang menyembah Sapi.

Begitu juga dalam membaca tekstual Al-Qur’an seperti dalam QS.An-Naml[27]:91. Artinya : “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah)”. Bukti tinggalan Arkeologi nya adalah bangunan Ka’bah disebut Baitullah (Rumah Allah), Allah adalah nama Tuhan di “negeri Mekah tersebut”, apabila tidak membaca ayat yang lain, maka akan menyimpulkan bahwa Tuhan ummat Islam itu terikat, membutuhkan rumah sama seperti manusia, sementara dalam ayat lain, QS.Asy-Syuura[42]:11. Artinya : “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia”.

Continue reading TIDAK ADA KERAJAAN HINDU DI TATAR SUNDA

Advertisements