GALUNGGUNG=JAWADWIPA

GALUNGGUNG=JAWADWIPA

Yavadvipa (JAWADWIPA):

The island of Java was the earliest island within Indonesia to be identified by the geographers of the outside world. “Yavadvipa” is mentioned in India’s earliest epic, the Ramayana dating to approximately 5th–4th century BC. It was mentioned that Sugriva, the chief of Rama’s army dispatched his men to Yawadvipa, the island of Java, in search of Sita.[1]

|

Suvarnadvipa (SWARNADWIPA):

|

Suvarnadvipa, “Golden Island”, may have been used as a vague general designation of an extensive region in Southeast Asia, but over time, different parts of that area came to be designated by the additional epithets of island, peninsula or city.[2] In contrast the ancient name for the Indian subcontinent is Jambudvipa. In ancient Indonesia, the name Suvarnadvipa is used to designate Sumatra island; as counterpart of neighbouring Javadvipa or Bhumijava (Java island). Both Java and Sumatra are the principal islands in Indonesian history.

|

Iabadiu

The great island of Iabadiu or Jabadiu was mentioned in Ptolemy’s Geographia composed around 150 CE in the Roman Empire. Iabadiu is said to mean “barley island”, to be rich in gold, and have a silver town called Argyra at the west end. The name indicated Java,[3] and seems to be derived from the Hindu name Java-dvipa (Yawadvipa). Despite the name’s indicating Java, many suggest that it refers to Sumatra instead.[3]

JAWADWIPA : Dalam Naskah Carita Parahyangan (CP),

“Tembey Sang Resi Guru ngajuga taraju Djawa dipa “Jawadwipa”, taraju ma inya Galunggung, Jawa ma ti wétan”.

Artinya : “Mula-mula Sang Resi Guru membangun pengukuh (bobot) pulau Jawa, yaitu Galunggung, Jawa ada di sebelah Timurnya”.(Drs.Atja, Tjarita Parahiyangan, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung, 1968, Hal. 8 )

Nama kata istilah Jawadipa /Jawadwipa yang diceritakan dalam Carita Parahyangan (Abad-16), ternyata sudah diceritakan /disebutkan terlebih dahulu Berita Fa Hien, tahun 414 M (Abad-5) dalam bukunya yang berjudul Fa Kao Chi. Ye Po Ti selama ini sering dianggap sebutan Fa Hien untuk Jawadwipa (Galunggung).[4]

[1]History of Ancient India Kapur, Kamlesh https://books.google.co.id/books?id=9ic4BjWFmNIC&pg=PA465&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false

[2]Ancient India’s Colonies in the Far East Vol 2, Dr. R. C. Majumdar, Asoke Kumar Majumdar (1937) p. 46

[3]J. Oliver Thomson (2013). History of Ancient Geography. Cambridge University Press. pp. 316–317. ISBN 9781107689923. Retrieved 25 August 2015.

[4]GALUNGGUNG(2) https://sukapura.wordpress.com/2017/04/16/galunggung2/

Baca Juga :

http://www.sukapura.id/tidak-ada-kerajaan-hindu-di-nusantara/

Advertisements

GALUNGGUNG(2)

Assalamu’alaikum Wr Wb
Sampurasuun!.
Dalam pembahasan ini, penulis terinpirasi dari pertanyaan teman saya Kang Dera yang menulis sebagai berikut :
Kang Dera menulis : Cik Manawi Aya Nu Tiasa Ngawaler,.Kieu, Dina Naskah Amanat Galunggung Nyatana Nu Kedah Diwaspadai Direbutna Kabuyutan Galungguggung Teh Eta salah Sawiosna Ku Sunda, Jawa, Baluk, Lampung, Cina & orang Asing…( Cik Kan Kunaon Tah? Aya Sunda An).. Manawi Kapugkurna Peta Sosial Politik Zaman Harita Rupina Aya Perbedaan Karakter Antara Sunda & Galunggung. Mangga..Haturan Sepuh.
//——————–
Kang Dera menulis : pertanyaaannya ialah apa yg melatar belakangi maksud dr petikan kieu dina naskah : jaga dapetna pretapa 8 dapetna pegengeun sakti, beunangna (ku) Sunda, Jawa, La(m) pung, Ba- luk, banyaga nu dék ngarebutna kabuyutan 9 na Galunggung,..(( 8.Pretapa dapat berarti: sinar (kekuatan), cahaya, pancaran, perbawa, kemuliaan, kewibawaan, pengaruh, kuasa.))
Petikan masalah pertanyaan tersebut di atas itu terdapat dalam Naskah AMANAT DARI GALUNGGUNG (Kropak 632 dari Kabuyutan Ciburuy, Bayongbong-Garut) Oleh : Drs. Atja & Drs. Saleh Danasasmita PROYEK PENGEMBANGAN PERMUSIEUMAN JAWA BARAT 1981.
Oleh karena itu, penulis akan mencoba menjawab/menjelaskannya pada tulisan ini dengan Judul GALUNGGUNG (2).
PENJELASAN :
=============
Pada bagian III rekto : Artinya : //—Dunia kemakmuran tanggung jawab sang rama(Ka-RAMA-an), dunia kesejahteraan hidup tanggung jawab sang resi(Ka-RESI-an), dunia pemerintahan tanggung jawab sang prabu(Ka-PRABU-an).
Sebelum menjelaskan TRI TANGTU (RAMA-RESI-PRABU) di atas, pada I rekto, I verso, menyebutkan :
//– yaitu bila sewaktu-waktu kelak ditinggalkan oleh para rama dan para resi,
—TIDAK disebutkan “prabu”-nya. Akan tetapi sewaktu-waktu kelak ditinggalkan oleh Para-Rama dan Para Resi saja…
Sebagaimana pada bagian dibawah ini :
Terdapat pada bagian  I rekto, I verso :
//–jaga dapetna pretapa dapetna pegengön sakti, bönangna (ku) Sunda, Jawa, La(m)pung, Ba-luk, banyaga nu dék ngarebutna kabuyutan na Galungung, asing iya nu mönangkön kabuyutan na Galunggung, iya sakti tapa, iya jaya prang, iya höböl. nyéwana, iya bagya na drabya sakatiwatiwana, iya ta supagi katinggalan rama-resi,
Artinya : //–Waspadalah. kemungkinan direbutnya kemuliaan (kewibawaan, kekuasaan) dan pegangan kesaktian (kejayaan) oleh Sunda, Jawa, Lampung, Ba-luk, para pedagang (orang asing) yang akan merebut kabuyutan di Galunggung. Siapa pun yang dapat menguasai kabuyutan di Galunggung, ia akan memperoleh kesaktian dalam tapanya, ia akan unggul perang, ia akan lama Berjaya, ia akan mendapat kebahagiaan dari kekayaan secara turun-temurun, yaitu bila sewaktu-waktu kelak ditinggalkan oleh para rama dan para resi,
—-
//–jaga bönangna kabuyutan ku Jawa, ku Baluk, ku Cina, ku Lampung, ku sakalian, muliyana kulit di jaryan, madan na rajaputra, antukna boning ku sakalaih,
Artinya : //–Cegahlah terkuasainya kabuyutan oleh Jawa, oleh Baluk, oleh Cina, oleh Lampung, oleh yang lainnya. Lebih berharga nilai kulit lasun di tempat sampah dari pada rajaputra (bila kabuyutan) akhirnya jatuh ke tangan orang lain.
———————————————-
ADA 2 PERKARA penting UNTUK DI JAGA/DIPERTAHANKAN dalam Amanat Galunggung Tersebut di atas agar tidak di kuasai oleh SUNDA, JAWA, LAMPUNG, BALUK, CINA, PIHAK ASING, salahsatunya adalah untuk menjaga :
(1). ILMU GALUNGGUNG. Artinya : //–Waspadalah. kemungkinan direbutnya kemuliaan (kewibawaan, kekuasaan) dan PEGANGAN KESAKTIAN (kejayaan) oleh Sunda, Jawa, Lampung, Ba-luk, para pedagang (orang asing) yang akan merebut kabuyutan di Galunggung. Siapa pun yang dapat menguasai kabuyutan di Galunggung, ia akan memperoleh kesaktian dalam tapanya, ia akan unggul perang, ia akan lama Berjaya, ia akan mendapat kebahagiaan dari kekayaan secara turun-temurun, yaitu bila sewaktu-waktu kelak ditinggalkan oleh para rama dan para resi.
(2). KABUYUTAN GALUNGGUNG. Artinya : //–Cegahlah terkuasainya kabuyutan oleh JAWA, oleh BALUK, oleh CINA, oleh LAMPUNG, oleh yang lainnya. Lebih berharga nilai kulit lasun di tempat sampah dari pada rajaputra (bila kabuyutan) akhirnya jatuh ke tangan orang lain..
PERTAMA : Yang menjadi masalah dalam pembahasan SEKARANG adalah kata SUNDA sendiri, sementara yang kita kenal tentang SUNDA dari para ahli sejarah jaman sekarang menyebutkan bahwa Prabu Darmasiksa sendiri (yang menyampaikan amanat tersebut) adalah salah satu Raja SUNDA “Orang Sunda” sendiri?. Itu mungkin salah satu titik FOKUSnya, sehingga untuk makna NAMA yang lain seperti JAWA, BALUK, LAMPUNG, CINA dll dengan sendirinya pula dapat terjelaskan.
KEDUA : Mengapa harus dipertahankan KABUYUTAN di GALUNGGUNG?, begitu sakralnya KABUYUTAN di Galunggung, sehingga di katakan (“Siapa pun yang dapat menguasai kabuyutan di Galunggung, ia akan memperoleh kesaktian dalam tapanya, ia akan unggul perang, ia akan lama Berjaya, ia akan mendapat kebahagiaan dari kekayaan secara turun-temurun, yaitu bila sewaktu-waktu kelak ditinggalkan oleh para rama dan para resi.”).
Oleh karena itu, untuk memahami kalimat dalam amanat Galunggung (“//–jaga dapetna pretapa dapetna pegengön sakti, bönangna (ku) Sunda, Jawa, La(m)pung, Ba-luk–//”). Harus memahami dulu kedalaman :
  1. Apa itu GALUNGGUNG?
  2. ILMU GALUNGGUNG (Pegangan/Ageman)?.
  3. KABUYUTAN GALUNGGUNG?.
———————————————–
PENJELASAN PERTAMA 1. APA ITU GALUNGGUNG?
Defisinisi kata Galunggung secara etimologi berarti “Galuh Hyang Agung /atau Permata Hyang Agung”. Adapun pengertian menurut istilah, Galunggung adalah “Sebuah Pemerintahan yang Berdasarkan Keagamaan”.[1]
Dalam amanat Galunggung sendiri, nama kata Galunggung di hubungkan dengan //–jaga dapetna pretapa dapetna pegengön sakti–//, PRETAPA sebagaimana yang telah ditulis oleh kang Dera di atas memiliki arti ((8.Pretapa dapat berarti: sinar (kekuatan), cahaya, pancaran, perbawa, kemuliaan, kewibawaan, pengaruh, kuasa.)).
Sementara membahas Pemerintahan tentang periode Galunggung, dalam Buku Hari Jadi Tasikmalaya tahun 1978, menguraikan Galunggung dengan membagi kedalam 2 bagian, pertama Galunggung Awal ialah Galunggung yang disebutkan dalam Carita Parahyangan dan Pustaka Nagara Kertabumi. Uraian yang kedua disebut Galunggung Akhir ialah Galunggung yang dikaitkan dengan Prasasti Geger Hanjuang (tahun 1111 M).
Pengertian GALUNGGUNG = JAWADWIPA :
Dalam Naskah Carita Parahyangan (CP),
“Tembey Sang Resi Guru ngajuga taraju Djawa dipa “Jawadwipa”, taraju ma inya Galunggung, Jawa ma ti wétan”.
Artinya : “Mula-mula Sang Resi Guru membangun pengukuh (bobot) pulau Jawa, yaitu Galunggung, Jawa ada di sebelah Timurnya”.(Drs.Atja, Tjarita Parahiyangan, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung, 1968, Hal. 8 )
Nama kata istilah Jawadipa /Jawadwipa yang diceritakan dalam Carita Parahyangan (Abad-16), ternyata sudah diceritakan /disebutkan terlebih dahulu Berita Fa Hien, tahun 414 M (Abad-5) dalam bukunya yang berjudul Fa Kao Chi. Ye Po Ti selama ini sering dianggap sebutan Fa Hien untuk Jawadwipa (Galunggung).[2]
FUNGSI GALUNGGUNG = “Ngabiseka Prabu-Pabu/Raja-raja”.
Danghyang Guru lainnya di Galunggung yang bertugas Ngabiseka raja-raja seperti Sanghyang Puhun, Sanghyang Tunggal, Sanghyang Wiraga, Batara Tunggal, Ratu Demang Seda Kamulan Batara Sakti, Batara Siluman, Batara Sombeng, kemudian Batara Sempakwaja (Naskah, R.H. Wiraatmadja, singaparna).
[2] TIDAK ADA KERAJAAN HINDU DI NUSANTARA : http://www.sukapura.id/tidak-ada-kerajaan-hindu-di-nusantara/
Dari penjelasan singkat tersebut di atas, istilah Galunggung/Jawadwipa/Fa Hien sudah dikenal Bangsa Lain (Luar Nusantara) sejak Abad-5 M. Tentunya Galunggung yang berfungsi “ngabiseka raja-raja (Tidak Sah seorang Prabu /Raja tanpa Restu dari Galunggung)” sudah berjalan jauh sebelum Abad-5 Masehi. Begitu juga Ke-PRABU-an (Kerajaan) SUNDA-GALUH (669 M -1579 M), Rajanya tidak sah tanpa restu dari Danghyang Resi Guru Galunggung.
DENGAN DEMIKIAN, kedudukan GALUNGGUNG penulis buat dalam bentuk diagram dibawah ini :
Setelah memahami KEDUDUKAN Galunggung di tingkat Tatanan KERJAJAAN (Ke-PRABU-an), maka selanjutnya kita dapat memahami kalimat dalam amanat Galunggung (“//–jaga dapetna pretapa dapetna pegengön sakti, bönangna (ku) Sunda, Jawa, La(m)pung, Ba-luk–//”). SUNDA disini adalah TATANAN KE-PRABU-AN /Kerajaan bukan Etnis/bukan Ageman Sunda.
Dengan kata lain Sebuah KEKUASAAN KERAJAAN (Pemerintahan/Ke-Prabu-an) SUNDA, JAWA, LAMPUNG, BALUK, CINA dan PIHAK ASING, TIDAK BOLEH Mengatur /Mencampuri WEWENANG Wilayah DANGHYANG RESI GURU di Galunggung yang merupakan sinar (kekuatan), cahaya, pancaran, perbawa, kemuliaan, kewibawaan, pengaruh, kuasa.
Untuk MEMEPERTAHANKAN kedudukan Galunggung tersebut, harus MEMILIKI Pengetahuan, Kemampuan, Kekuatan, Cahaya, Wibawa, Pengaruh, Kuasa yang melebihi dari Penguasa Kerajaan (Ke-Prabu-an). Hal ini berkiatan dengan bagian ke-2 dan ke-3 :
2. ILMU GALUNGGUNG
3. KABUYUTAN GALUNGGUNG
====================================================
SIMPULAN
Kang Dera menulis : pertanyaaannya ialah apa yg melatar belakangi maksud dr petikan kieu dina naskah : jaga dapetna pretapa 8 dapetna pegengeun sakti, beunangna (ku) Sunda, Jawa, La(m) pung, Ba- luk, banyaga nu dék ngarebutna kabuyutan 9 na Galunggung,..(( 8.Pretapa dapat berarti: sinar (kekuatan), cahaya, pancaran, perbawa, kemuliaan, kewibawaan, pengaruh, kuasa.))
JAWABANNYA ADALAH :
Berdasarkan PENJELASAN PERTAMA di atas : Yang melatar belakangi maksud dari petikan amanat Galunggung : (“//–jaga dapetna pretapa dapetna pegengön sakti, bönangna (ku) Sunda, Jawa, La(m)pung, Ba-luk,..dst –//”).
SANGAT DIMUNGKINKAN adanya Usaha pihak Penguasa Pemerintahan /Ke-PRABU-an /KeRajaan SUNDA, JAWA, LAMPUNG, BALUK, CINA, Orang ASING lainnya mempengaruhi, menguasai peran kedudukan Galunggung.
WEWENANG, WIBAWA, CAHAYA, NILAI-NILAI KEDUDUKAN GALUNGGUNG yang dipimpin oleh DANGHYANG RESI GURU (Ka-BATARA-an /Ka-RESI-an), Tidak boleh dicampuri oleh Kepentingan Penguasan Pemerintahan (Ke-PRABU-an /Kerajaan) Sunda, Jawa, Lampung, Baluk maupun Pihak ASING.
SEBALIKNYA Kekuasaan Pemerintahan “Kerajaan /Ke-Prabu-an” harus mengikuti Saran/Arahan dari GALUNGGUNG dalam menjalankan Tugas Pemerintahannya (Ke-Prabuannya).
SEHINGGA Pada bagian III rekto selanjutnya LEBIH DIPERTEGAS LAGI KEDUDUKAN masing-masing TATANANNYA : Artinya : //—Dunia kemakmuran tanggung jawab sang rama(Ka-RAMA-an), dunia kesejahteraan hidup tanggung jawab sang resi(Ka-RESI-an), dunia pemerintahan tanggung jawab sang prabu(Ka-PRABU-an), Jangan berebut kedudukan, jangan berebut penghasilan, jangan berebut hadiah, karena sama asal-usulnya…dst–//
Demikian untuk penjelasan pertamanya..
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Rampeees