RINGKASAN PERJALANAN “YAVADVIPA” (GALUNGGUNG) (3.300 SM – 702 M)

Oleh Agus Wirabudiman
Assalamu’alaikum Wr Wb
SAMPURASUUN…
Nama “Yavadvipa”, disebutkan dalam Literatur Sangsekerta, Epik Ramayana (Valmiki/Walmiki), sekitar 1.500 SM.
Sudrajat, 2012, menuliskan : Sejak ribuan tahun sebelum Masehi, di India telah berkembang kebudayaan besar di Lembah Sungai Indus. Dua pusat kebudayaan di daerah tersebut adalah ditemukannya dua kota kuno yakni di Mohenjodaro dan Harappa (3.300-2.600 SM). Pengembang dua pusat kebudayaan tersebut adalah bangsa Dravida. Pada sekitar tahun 1.500 SM, datanglah bangsa Arya dari Asia Tengah ke Lembah Sungai Indus. Bangsa Arya datang ke India dengan membawa pengaruh tulisan, bahasa, teknologi, dan juga kepercayaan. Kepercayaan bangsa Arya yang dibawa adalah Veda (Weda) yang setelah sampai di India melahirkan agama Hindu (Sanata Dharma /Vedic Dharma /Vedantist”pengikut Weda”).
BANGSA ARYA Dari ASIA TENGAH, Digambarkan Dari Sejarah Situs Lembah Indus, sebagai Pembawa budaya, TULIS, BAHASA, TEKNOLOGI dan KEPERCAYAAN VEDA(Weda).

 

Para ahli tidak ada yang dapat memastikan kapan lahirnya Bahasa Weda/Sangsekerta itu.
—-
KITAB SET /SIT /SITA (WEDA/ILMU) :
===============================
DALAM Epik Ramayana menunjukan, Rama (berkulit putih) = Bangsa Arya berhasil mengalahkan Rahvuvana (berkulit hitam)/Bangsa Dravida. Bangsa Arya datang ke India dengan membawa pengaruh tulisan, bahasa, teknologi, dan juga kepercayaan. Kepercayaan bangsa Arya yang dibawa adalah Veda (Weda) yang setelah sampai di India melahirkan agama Hindu. Bahasa Veda(Weda) adalah Sangsekerta. Bahasa Sangsekerta adalah Bahasa Veda(Weda).
Dalam Literatur Veda/Weda (Sangsekerta) sendiri, Rama memerintahkan Sugriva dan pasukannya untuk mencari Sita(Vada/Weda) ke pulau “Yavadvipa”. Rama berhasail mengambil Sita(Veda/Weda) dari Rahuvana di “YAVADVIPA”.
GARMBARAN PERLAKUAN BANGSA ARYA Yang telah Merebut KITAB VEDA(WEDA) dari BANGSA DRAVIDA, Sama Dengan PERLAKUAN RAMA TERHADAP SITA.
Agus Sunyoto menuliskan dalam bukunya RAHUVANA TATTWA : Sebagai Ksatriya agung, Rama dikisahkan telah melakukan kecurangan yang keji: membokong Bali dengan bidikan panah dari arah belakang ketika raja Ksihkindha itu sedang berkelahi dengan adiknya, Sugriva. Lepas dari upaya pembenaran apologis yang dilakukan Valmiki atas peristiwa itu, tokoh Bali dan pembaca yang kritis layak menyesalkan tindakan curang Rama yang sangat tidak Kshatriya itu. Pada bagian Yuddhakandha, Rama secara mengherankan dikisahkan berbuat melampaui batas, yaitu membiarkan Sita mengunjungi kesetiaan diri dengan membakar diri di atas kobaran api. Belum puas dengan membiarkan tindakan Sita itu, dalam Uttarakandha, Rama digambarkan masih mengusir Sita yang sedang hamil ke hutan hingga istri malang itu tinggal di pertapaan Valmiki. Bahkan ketika Sita melahirkan anak kembar Kusa dan Lava dan saat anak-anak tersebut dewasa, Rama masih belum mempercayai kecusiannya. Akhirnya, Sita yang mungkin sudah putus asa karena terus menerus tidak dipercaya suaminya meminta bumi menelan tubuhnya sebagai bukti kesuciannya. Dan akhirnya hayat Sita yang tragis memang dikisahkan “tertelan” oleh bumi ketika peristiwa gempa.
Fakta Historisya :

Bahasa VEDA(WEDA)=Bahasa Sangsekerta, Bahasa Sangsekerta tiada lain Bahasa VEDA(WEDA).
Purbacaraka mengatakan bahwa tujuh puluh sampai delapan puluh persen bahasa Jawa kuna adalah Bahasa Sangsekerta murni. Yang dimaksud dengan bahasa Jawa kuna /atau Bahasa Sangsekerta murni adalah bahasa sebelum ada pemisahan antara bahasa Sunda dan Jawa seperti sekarang.
Hasil penelusuran para ahli geografi Dunia, pulau yang bernama “YAVADVIPA” adalah nama untuk sebutan pulau Jawa, nama awal dari pulau Indonesia sekarang. Sedikit berbeda dengan para ahli dari Dunia luar, “Yavadvipa” = Jawadwipa, berdasarkan catatan leluhur Sunda, Naskah Sunda Kuna Kropak 406 : Carita Parahyangan, yang disebut Taraju Jawadipa, TARAJU sebagai pusat JAWADIPA-nya adalah GALUNGGUNG, sedangkan Jawa-nya berada disebelah timurnya (Galunggung).
//============\\
“YAVADVIPA” TERLIBAT SUKSESI
DINASTI MAURYA 302 SM
Kekaisaran Maurya adalah negara kuat Zaman Besi yang amat luas di India kuno, dipimpin oleh dinasti Maurya sejak tahun 321 SM hingga 185 SM. Bermula dari Kerajaan Magadha di dataran India-Gangga (Bihar, Uttar Pradesh timur dan Bengali modern) di sisi timur anak benua India, kekaisaran ini beribukota di Pataliputra (Patna modern). , Kekaisaran Maurya didirikan pada tahun 322 SM oleh Chandragupta Maurya, yang menggulingkan Dinasti Nanda dan dengan cepat memperluas kekuasaannya ke India tengah dan barat dengan memanfaatkan gangguan kekuatan-kekuatan lokal menyusul penarikan mundur pasukan Aleksander Agung dan Persia. Pada 320 SM Maurya telah sepenuhnya menguasai India barat laut, mengalahkan dan menaklukan satrap-satrap yang ditinggalkan oleh Aleksander.
Namun kesuksesan Dinasti (“Ke-PRABU-an”) Maurya tersebut tidak lah berdiri sendiri. Dalam tulisan Jambudwipa : The Seeds Of Political Unity In The Indian Subcontinent (Jambudwipa: Benih Persatuan Politik Di Sub-benua India). “Yavadvipa” kembali disebut sebagai bagian yang bersatu membatu pergerakan Dinasty Maurya dalam menghadapi Kekaisaran Aleksander Agung dan Persia. Adapun yang bergabung dalam persatuan politik Jambudwipa tersebut diantaranya Suvarnadvipa (SWARNADWIPA), Yavadvipa (JAWADWIPA), Thaton, Chu, Quin and Zhao to the east.
Setelah berakhirnya Kekaisaran (Ke-PRABU-an) Maurya pada tahun 185 SM, pada tahun sekitar tahun 78 M sama dengan 1 (satu) Saka, di duga sebagai awal pembabakan baru bagi sejarah “Yavadvipa” /Jawadwipa.
Pada tahun 130-168 M, Dewawarman dari barata India, datang ke Jawadwipa, tepatnya ke HINDI-Hyang, sehubungan di India terjadi perang saudara sejak runtuhnya Dinasti Maurya. Selanjutnya Dewawarman dinobatkan oleh Resi Jawadipa (Galunggung) menjadi PRABU DARMALOKAPALA di SALAKA-NAGARA, bertahta di daerah Padeglang, Banten sekarang. Dari kedatangan Dewawarman inilah oleh banyak para ahli sejarah sekarang, dianggap bahwa peninggalan seperti Lingga, Arca, Candi di Nusantara merupakan pengaruh dari Hindu (Arya-Veda/India kuna /Mohenjodaro-Harappa). Padahal peradaban India kuna sendiri berasal dari “YAVADVIPA” /JAWADWIPA /JAWADIPA (GALUNGGUNG).
//============\\
NAGARA TARAJU JAWADWIPA (526-702 M)
(Ngaran NAGARA PAJAJARAN Baheula)
Arti kata “Taraju” menurut kamus sangsekerta /jawa kuna Zoetmulder berarti “pair of scales, balance” (sepasang timbangan yang seimbang), seimbang atau sejajar. Dengan kata lain TARAJU JAWADWIPA adalah nama NEGARA PAJAJARAN dahulu yang disebut dalam Pantun Bogor maupun Babad dan berpusat di Galunggung (Taraju ma inya GALUNGGUNG). Bahasa persatuannya adalah Bahasa SANG SAKA KRETA (Sangskrit), Undang-udang /Hukum yang ditegakkannya adalah SANGHYANG SASANA KRETA, sedangkan Keagamaannya mengacu pada Ajaran HYANG.
PANTUN BOGOR :
(Pembukaan juru Pantun…) Paralun!..Sabab kaula eundeuk nyatur Nyatur pantun nu Buhun; Haneuleum tunda karuhun; Hanjuaneun anu marapay….!; Paralun; Matak kaula; Ku sabab; Pajajaran dijieun carita; Tapi diSILOKA; Ku anu sarieun; Dipajarkeun mumuja Dewa; Jeung direka dirarobah; Dijarijieun-jieun; Ka nu gariruk….!; Jeung ku sabab; Kaula nyaho; Engke jaga; Baris datang deui jelema; Loba menak loba pangkat; Harayang diaraku deui; Rawayan ti Pajajaran;…..
Tabel.1 :
Cerita Pajajaran dari dahulu, mensejajarkan aturan sejati yang asal ceritanya bukan hasil rekayasa, akan tetapi dibukakan oleh Leluhur kepada hati yang rancagé(bersih). Hati/batin siapa?, batin Sunda, yang sundanya pada bersatu (seperti sapu lidi), yang persatuannya hidup, yang hidupnya samar, yang samarnya mengalami kembali, mengalami jaman seperti dahulu, memiliki Raja yang Adil (jujur).
Tabel.2 :
Mohon maaf!.. Perhatikan/Dengarkan!, Dikisahkan di Negara Pajajaran, bukan Pajajaran yang sekarang, Negara Pajajarannya itu yang dahulu. Yang menjadi Raja Gagah sakti mandraguna yaitu bernama Prabu Siliwangi. Anaknya? Sebanyak tiga kali 25 karena ibunya pun Saratus lebih satengah!
Tabel.3 :
Tunda!..
Kita akan menceritakan satu anak Prabu Siliwangi yang sakti seperti Kakenya, gagah perkasa seperti Ayahnya, ia bernama Ki Hyang Santang Aria Cakrabuana.
Kesaktiannya tidak ada yang menandingi, lalu ia berkata kepada Léngsér dengan memanggil Uwa (dituakan). Uwa..sekarang saya itu sudah cukup ilmu kesaktian, akan tetapi hatiku gelisah sebab sudah lama tidak ada yang mesti dipukul, sudah lama tidak ada yang mesti ditendang. Seluruh negara musuh tidak ada yang berani membuat kerusuhan!. Bagaimana bisa lawannya hanya tinggal Uwa saja?, Bagaimana kalau saya mengembara mencari lawan dari Negara tetangga?. Berkata Lengser : “jangan Raden, jangan!”, Ki Santang : “Mengapa dilarang-larang?”. Lengser : “sebab Raden berangkat ke Dunia luar, ke Negara sebrang lautan, nanti Raden pulang, Pajajaran itu hanya tinggal nama saja!.
BENTUK NEGARA PAJAJARAN DAHULU (Taraju Jawadwipa):
Memperhatikan bentuk Negara Pajajaran (mensejajarkan) para Rama – para Resi – para Prabu (Raja-raja) pada Gambar. diatas, buku-buku Sejarah Nusantara sekarang lebih banyak membahas perpindahan, pergantian Raja-raja di Nusantara tanpa memperhatikan kedudukan para Rama – para Resi bahkan Resi Guru yang memeliki kedudukan penting dalam Ngabisheka Prabu, karena mungkin sedikit sekali catatan sejarahnya. Padahal adanya Naskah-naskah Keagamaan, Kabuyutan, Candi-candi di Nusantara adalah wujud adanya kebersamaan (gotongroyong) Rama-Resi-Prabu yang ada pada masing-masing jamannya. Seperti misalnya membahasa tokoh Aki Tirem dengan Dewawarman pada masa Kerajaan Salakanagara (130-168 M) yang digambarkan membawahi BERIBU KOTA RAJATA PURA, gelarnya pun Prabu Darmalokapala Aji Raksa Gapura Sagara, Siapa yang memberi Izin/Lisensi (Ngabiseka) (Prabu) Dewawarman dari bharata itu?, Siapa para Rama “Parasurama?nya” sehubungan Negara Jawadwipa (Galunggung) telah Ada dan di kenal dalam sejarah India kuna dalam Epics Ramayana (1.500 SM), jauh sebelum Resi Guru Manikmaya menjadi Raja Mandala (526-568 M) di Kendan.
SALAKA-NAGARA (130-358 M).
Darmawirya sebagai Dewawarman VIII mempunyai puteri bernama Sri Iswari Tungga Pretiwi yang kawin dengan seorang maharesi dari keluarga Salankayana. Maharesi ini yang bernama Jayasingawarman kemudian menggantikan mertuanya sebagai Dewawarman IX dan Raja Salakanagara ke-10. Nama lengkapnya ialah Jayasingawarman Gurudarmapurusa Sang Maharesi Rajadirajaguru. Ia membuat ibu kota baru yang diberi nama menurut namanya sendiri Jayasigapura. Dengan ibu kota baru ini, nama kerajaan pun diganti menjadi TARUMANAGARA.
TARUMA-NAGARA (358-669 M).
Sebagai Raja Tarumanagara ke-13, Tarusbawa bernama nobat Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manumanggalajaya Sunda Sembawa (669-723) M. Ia mendirikan ibu kota baru yang dinamainya Sundapura dan sejak itu kerajaan Tarumanagara berganti nama menjadi KERAJAAN SUNDA.
Diantara periode tahun 526-568 M, SANG Resi Guru Manikmaya sebagai (Resi Guru) di Jawadwipa (Galunggung), Raja Suryawarman sebagai (Prabu) di Taruma/Tarumanagara ke-7 (535-561 M), jika dihubungkan dengan tulisan pada Situs http://geomagz.geologi.esdm.go.id berjudul “Super Volcano Krakatau 535 M & Perubahan Peradaban Dunia” menyimpulkan bahwa : (“Periode 535-669 M atau selama 100 tahun lebih pasca letusan Krakatau Purba dapat dikatakan sebagai jaman kegelapan (Dark Age) di Tatar Sunda sebagaimana terjadi di bagian dunia lainnya.”) , hemat penulis kurang benar, kalau disamakan kondisi Tatar Sunda dengan masa kegelapan di Dunia lain (Eropa, Arab..dll), karena diceritakan Sang Manikmaya (Tembey Sang Resi Guru ngajuga Taraju Djawa dipa, Taraju ma inya Galunggung), Taraju Jawadwipa nama lain dari nama Negara Pajajaran dahulu tahun 526 M (Tidak Ada Perbudakan), keadaan negaranya kuat, disegani dunia, tentram damai sentosa, gemah ripah loh jinawi, memiliki 150 Kerajaan Induk dan membawahi 75 Kerajaan kecil “anak”. Keadaan Negara Taraju Jawadwipa (Pajajaran) terus berlangsung. Periode 612-702 M Prabu Galuh WrtiKandayun dikisahkan dalam Pantun, Babad, Tutur juru Kunci Kabuyutan Ciburuy (Garut) sebagai sosok raja yang jujur, adil disebut Prabu Siliwangi sedangkan anaknya Sempakwaja yang Sakti mandraguna, gagah perkasa disebut Prabu Keyan Santang.
NAGARA TARAJU JAWADWIPA : MEMILIKI 75 Kerajaan Kecil, dan 150 KERJAAN BESAR (INDUK). MEMBANTU SUKSESI => ISLAM MUHAMMAD SAW (624-632 M).
Lengser : “sebab Raden berangkat ke Dunia luar, ke Negara sebrang Lautan, nanti Raden pulang, Pajajaran itu hanya tinggal nama saja!….
Mengenai Prabu Siliwangi dan Prabu Keyan Santang, sebagian sudah di postingkan pada halawan web : Siapakah Prabu Rakeyan Santang Yang Bertemu Dengan Sayyidina Ali?
Pada Saat Haji Wada, tahun 632 M, Sebelum Nabi Muhammad SAW Wafat, jumlah Ummat Muslim sudah mencapai 100.000 Lebih.. Jumlah 21.000 /atau 27.000 pasukan Prabu Keyan Santang sudah tidak Signifikan lagi, dibandingkan dengan tahun-tahun yang lalu.
Perang Jamal, 656 M
Perang Shiffin, 657 M (Dua Kelompok Muslimiin)
PASUKAN PRABU KEYAN SANTANG BERADA di Pihak ‘Ali bin Abi Thalib, dan Banyak yang terbunuh akibat Perang Dengan Kelompok Muslim pimpinan Mua’wiyah Bin Abu Sufyan dalam Perang Shiffin. Pada akhirnya Khalifah ‘Ali Kw (Ahlul-Bait), wafat 661 M karena Dibunuh.
==========SELANJUTNYA==============
-ISLAM Dinasti Umayyah (661-750 M)
-ISLAM Dinasti Abbasiah (750-1258 M)
-ISLAM Dinasti Otoman /Turki Ustmani/Ustmaniayah (1258-1922 M)
-ISLAM SEKARANG, secara garis besar, terdiri Madzhab Syi’ah dan Madzhab Suni.
————————————————————-
(Dari berbagai Sumber), Wallahu’alam..
Wassalamu’alaikum Wr Wb
RAMPEEEES.. RAHAYU _/|\_
Selamat Tahun Baru Islam 1439 M, 1 Sura 1951 SAKA Sunda
Tasikmalaya, 21 September 2017 M, 1 MUHARAM 1439 H, 1 Sura 1951 SAKA Sunda
Baca Juga :
STUDI KRITIS TULISAN RAKEYAN SANCANG (ISLAMISASI TATAR PASUNDAN 629-1521 M). Oleh Agus Wirabudiman, 13 Agustus 2017 https://www.facebook.com/groups/1856323141298631/permalink/1875937142670564/
Advertisements

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Robih )

Connecting to %s