QURANIC ARCHAEOLOGY

Al-Qur’an dalam sudut pandang Arkeologi[1] (Quranic Archaeology) menurut Ali Akbar (parakar Arkelogi Universitas Indonesia) menyampaikan sebagai berikut :

• Sumber ajaran utama Islam yakni Al-Qur’an belum mendapatkan perhatian yang cukup baik di Indonesia dan bahkan juga di Dunia. Padahal sebagai sumber utama, Al-qur’an inilah yang mendasari segala gerak-gerik personal dan komunal sehingga membentuk suatu kebudayaan bersama.

• Rekonstruksi kebudayaan masyakarakat dalam hal ini Islam atau yang berkebudayaan Islam yang menjadi tujuan Ilmu Arkeologi tentunya akan sangat terbentuk jika meneliti menggunakan sumber utamanya, yakni al-Qur’an.

• Pada dasarnya Al-Qur’an sebagai kebudayaan materi (material culture) khususnya artefak (artifact) jelas merupakan salah satu bentuk data arkeologi yang dapat dikaji lebih lanjut untuk mengungkap berbagai hal.

• Perlu dipahami bahwa tidak ada batasan usia mengenai kebudayaan materi tersebut. Data arkeologi dapat berupa artefak yang usianya jutaan tahun lalu, fitur yang dibuat manusia ribuan tahun lalu, ekofak yang turut menjadi bagian dari kehidupan manusia ratusan tahun lalu, situs yang pernah ditempati masyarakat puluhan tahun lalu atau kawasan yang dihuni masyarakat tahun lalu.

• Raymond dark dalam bukunya yang berjudul Theoritical Archaeology (1995) menyatakan bahwa pada saat pembaca membaca buku karya itu, buku tersebut telah menjadi data arkeologi.

• Jelas kiranya bahwa Al-Qur’an termasuk data arkeologi berupa artefak yang memiliki tulisan.

(Quranic Archaeology oleh Dr. Ali Akbar disampaikan dalam Acara Diskusi “Bencana dan Peradaban”, Jakarta, 20 Mei 2013).

[1] Arkeologi, berasal dari bahasa Yunani, archaeo yang berarti “kuno” dan logos, “ilmu”. Nama alternatif arkeologi adalah ilmu sejarah kebudayaan material. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data berupa artefak (budaya bendawi, seperti kapak batu dan bangunan candi) dan ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil) maupun fitur (artefaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya (situs arkeologi). Teknik penelitian yang khas adalah penggalian (ekskavasi) arkeologis, meskipun survei juga mendapatkan porsi yang cukup besar. Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Arkeologi , Di Unduh 20 Novermber 2016

Link : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10155896591924304

Advertisements

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Robih )

Connecting to %s