TRADISI LISAN DI ALAM MELAYU ARAH DAN PEWARISANNYA

Oleh Drs. Muhammad Takari, M.Hum., Ph.D.[1]

PENGANTAR

Tradisi lisan adalah sebuah kebudayaan yang diwariskan terutama melalui aspek kelisanan (oral tradition). Banyak kebudayaan di dunia ini yang dalam pewarisannya mengutamakan tradisi lisan. Namun demikian, di antara tradisi-tradisi lisan di dunia ini mereka juga memiliki bentuk tulisan yang juga diwariskan dari satu generasi dan generasi lain. Keadaan seperti ini dapat dideskripsikan sebagai beraksara dalam kelisanan. Di lain sisi, ada pula kebudayaan tertentu yang dalam system pewarisannya lebih mengutamakan budaya tulisan ketimbang secara lisan. Dalam konteks manusia sejagad di dunia ini, sebenarnya lebih banyak kebudayaan yang berdasar kepada tradisi lisan ketimbang budaya tulisan. Selain itu, untuk memaknai kedua budaya ini, bukanlah sebuah pemisahan radikal ada atau tidak adanya tulisan sebagai acuan utama. Kedua bentuk pewarisan budaya ini yaitu tulisan dan lisan terjadi secara beriringan dalam kebudayaan manusia.

Pemahaman tentang tradisi lisan ini bukan hanya tertumpu ada atau tidak adanya tulisan dalam kebudayaan dimaksud, tetapi lebih kepada penekanan enkulturasi (pendidikannya) yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya. Tradisi lisan sangat mengedepankan aspek kelisanan, baik dalam komunikasi sehari-hari atau juga komunikasi dalam kegiatan yang lebih formal seperti dalam upacara adat, upacara kenegaraan, atau pidato politik, dan lain-lainnya. Kelisanan ini juga bukan hanya memfokuskan perhatian kepada komunikasi secara verbal saja, tetapi lebih jauh dari itu aspek-aspek komunikasi nonverbal juga menjadi salah satu pendukung dalam tradisi lisan sebuah masyarakat manusia.

Tradisi lisan mencakup semua unsur kebudayaan manusia, baik itu sistem religi, bahasa, teknologi, ekonomi, seni, organisasi, dan pendidikan. Tradisi lisan juga dapat berbentuk gagasangagasan, kegiatan, sampai juga artefak-artefak. Pada dasarnya tradisi lisan adalah ekspresi dari kebudayaan manusia yang menggunakannya. Tradisi lisan ini dapat berwujud bahasa komunikasi sehari-hari, bahasa formal, seni musik, seni tari, teater, upacara, sirkus, kabaret, dan lain-lainnya. Inti makna istilah ini adalah bahwa kebudayaan yang bersangkutan diwariskan terutama melalui kelisanan. Karena disampaikan secara lisan, maka biasanya hanya dapat diingat melalui memori orang-orang yang melakukannya. Oleh karena itu, supaya dapat kontinu di dalam perubahan zaman, tradisi lisan ini perlu didokumentasikan secara saintifik, disertai juga kajian melalui perspektif multidisiplin ilmu.

Pada pemahaman yang general, tradisi lisan merupakan unsur-unsur budaya yang dihasilkan oleh masyarakat di masa lampau (tradisional), yang mencakup bentuk ujaran, adat-istiadat, atau perilaku lainnya, di antaranya adalah cerita rakyat (folklor), nyanyian rakyat (folksong), tarian, permainan, peralatan atau benda seperti bangunan, tembok, dan lain-lain (Taylor, 1965:34). Dalam konteks ini tradisi lisan dibatasi kepada pertunjukan rakyat, terutama yang berbentuk verbal. Pada umumnya, tradisi lisan semakin tersisih oleh arus pembangunan material (terutama sejak era modernisme). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Balai Pustaka Jakarta (juga dalam versi offline dan online) kata tradisi dan lisan dijelaskan sebagai berikut.

Tradisi artinya : 1 adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan di masyarakat, 2. penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar, misalnya dalam kalimat : Perayaan hari besar agama itu janganlah hanya merupakan tradisi, haruslah dinilai maknanya.

 Tradisi lisan artinya sama dengan folklor lisan. Di lain sisi kata mentradisikan bermakna menjadikan tradisi, misalnya ada sebahagian orang yang mentradisikan berziarah ke makam wali setiap tahun. Kemudian kata tradisional artinya adalah: 1. sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun-temurun. Misalnya dalam kalimat: Daerah itu mempunyai potensi cukup besar di bidang perikanan tetapi masih diolah secara tradisional, 2. menurut tradisi atau adat, upacara tradisional artinya upacara adat.

 Lisan artinya adalah yang pertama lidah, yang kedua kata-kata yang diucapkan, ketiga berkenaan dengan kata-kata yang diucapkan, keempat dengan mulut bukan dengan surat, misalnya undangan rapat disampaikan secara lisan. Selanjutnya melisankan artinya adalah menyatakan atau menyebutkan dengan ucapan atau tutur kata, mengucapkan, menuturkan, dan malafalkan.

 Istilah tradisi lisan berkait erat dengan folklor atau cerita rakyat, yaitu cerita rakyat dan adapt istiadat tradisional yang diwariskan secara turun temurun, tetapi tidak dibukukan. Dalam konteks ilmu pengetahuan, folklor ini dapat lagi diklasifikasikan sebagai berikut. Menurut William R. Bascom, cerita prosa rakyat dapat dibagi ke dalam tiga golongan besar, yaitu: (1) mite (myth), (2) legenda (legend), dan (3) dongeng (folktale). Mite yang juga padanan Indonesianya disebut mitos, adalah cerita prosa rakyat yag dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh para pemilik cerita.

Mite ditokohi para dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa terjadi di dunia lain, atau di dunia yang bukan seperti kita kenal sekarang, dan terjadi pada masa lampau. Legenda adalah prosa rakyat yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap pernah benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci—namun legenda ditokohi oleh manusia, meskipun kadangkala memiliki sifatsifat luar biasa, dan sering juga dibantu makhluk-makhluk ajaib. Tempat terjadinya adalah di dunia seperti yang kita kenal sekarang, waktu terjadinya belum begitu lama. Di lain sisi dogeng adalah prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh para pemilik ceritanya, serta tidak terikat oleh waktu dan ruang (Bascom, 1965:3-20, juga Danandjaja, 1984:50-51).

Dalam tradisi lisan, dijumpai berbagai kearifan lokal (local wisdom) yang dapat dilihat melalui kajian-kajian yang mendalam dan superfisial sifatnya.

Kearifan-kearifan lokal ini juga berkait erat dengan sejarah peradaban masyarakat yang melahirkan tradisi lisan dan disertai kerifan local tersebut. Selain itu, yang patut diberi perhatian dalam perspektif keilmuan adalah bahwa tidak semua di dalam tradisi lisan tersebut mengandung kearifan-kearifan. Apalagi jika dikaitkan dengan perubahan-perubahan zaman yang memang pasti terjadi di semua kebudayaan di dunia ini. Di dalam tradisi lisan juga terdapat hal-hal yang tidak perlu harus dipertahankan, apalagi masyarakatnya memang menginginkan perubahan atau tidak lagi menggunakan tradisi lisan tersebut.

Selain itu, dalam konteks kajian tradisi lisan di seluruh dunia, yang perlu diperhatikan adalah adanya kearifan lokal yang berakar dari berbagai jenis kearifan-kearifan yang melatarbelakanginya. Selain dari kreativitas atau inovasi yang datangnya dari para pemikir dan pelaku di dalam sebuah kebudayaan, tradisi lisan ini juga adakalanya mengambil kearifan yang datangnya dari luar dan mensintesiskannya dengan karifan lokal itu sendiri. Misalnya dalam kebudayaan masyarakat Hindu Bali, selain dari kearifan lokal yang berasal dari masyarakat Bali itu sendiri, juga mengambil kearifankearifal lainnya yang berasal dari ajaran-ajaran agama Hindu[2].

Demikian pula dalam kebudayaan masyaralat Batak Toba Kristen, selain mereka memberdayakan kearifan lokal yang berasal dari kebudayaan Batak Toba itu sendiri, seperti sistem kekerabatan berdasar kepada dalihan na tolu, sikap hidup dalam mengejar kedudukan sosial dalam konsep tiga ha (hagabeon, hasangapon, dan hamoraon), mereka juga mengadopsi kearifan-kearifan yang bersumber dari agama Kristen Protestan (khususnya dalam kelompok Lutheran Jerman).

Demikian pula di Rantau Nusantara (Dunia Melayu), berbagai kelompok etnik yang menyerap dan membumikan ajaran-ajaran Islam, mencoba mensinerjikan ajaran-ajaran agama Islam sebagai kearifan universal dengan kearifan-kearifan lokal. Misalnya dalam masyarakat Minangkabau, mereka menggunakan konsep kebudayaannya dengan istilah yang penuh makna kearifan yaitu adat basandikan syarak, syarak basandikan kitabullah, syarak mangato, adat mamakai (adat bersendikan syarak, syarak bersendikan kitabullah, syarak mengatakan, dan adat memakai). Artinya secara kontekstual adalah bahwa adat MInangkabau adalah berdasarkan kepada agama Islam—tidak dipertentangkan antara adat dan agama.

Dalam kebudayaan Aceh juga dikonsepkan sebagai adat bak petumeurohum, hukom bak syiah kuala, yang intinya adalah budaya Aceh adalah berteraskan kepada agama Islam “Syiah kuala”. Demikian pula dalam masyarakat yang menganut agama Islam lainnya di Nusantara seperti Sunda, Jawa, Banjar, Makasar, Bugis, Sasak, Lombok, dan lain-lain, terdapat polarisasi yang umum adanya kebijakan lokal untuk mensinerjikan adat dan agama Islam. Mereka tidak mempertentangkan antara adat (kebudayaan) dan agama Islam ini.

Selanjutnya yang penting dalam sisi saintifik adalah perlunya mendokumentasikan dan menganalisis secara ilmiah semua tradisi lisan di dunia dalam dimensi ruang dan waktu yang dilaluinya. Termasuk juga tradisi lisan di Alam (Dunia) Melayu yang akan penulis uraiakan arah dan pewarisannya dalam makalah ini. Namun demikian, sebelumnya dideskripsikan terlebih dahulu, pentingnya pendekatan multidisiplin untuk mengkaji tradisi lisan, terutama di Nusantara dan lebih umum lagi di seluruh dunia.

PENDEKATAN MULTIDISIPLIN DALAM MENGKAJI TRADISI LISAN

Tradisi lisan yang hidup dan berkembang di dalam sebuah kebudayaan umat manusia, secara keilmuan perlu didekati dengan multidisiplin, interdisiplin, dan konterdisiplin ilmu. Tujuan dari pendekatan seperti ini adalah untuk memahami fenomena budaya di mana tradisi lisan itu hidup secara meluas, holistik, rinci, dan mendalam. Hendaknya dalam mengkaji tradisi lisan mesti memenuhi dua kutub yang saling menunjang. Yang pertama adalah studi ekstensif, yaitu kajian yang sifatnya meluas, merangkumi semua hal dalam tradisi lisan. Kedua adalah studi intensif, yaitu mendalami satu genre tradisi lisan secara intens. Keduanya jangan didikotomikan namun diselaraskan dan dipadukan.

Pendekatan multidisiplin dalam mengkaji tradisi lisan ini disesuaikan dengan pokok masalah atau pertanyaan penelitian yang dilakukan. Misalnya dalam kasus mengkaji mantra pagar diri dalam kebudayaan etnik Mandailing di Sumatera Utara, maka bisa saja seorang pengkaji tradisi lisan menggunakan ilmu-ilmu bahasa, sastra, antropologi, sosiologi, psikologi, religi, dan lain-lainnya. Begitu juga dalam mengkaji pantun dalam upacara perkawinan adat Melayu di Batang Kuis, Deliserdang, Sumatera Utara, dapat digunakan pendekatan ilmu-ilmu sastra, bahasa, semiotik, sosiologi, antropologi, religi, komunikasi, seni, dan lain-lainnya. Demikian pula untuk mengkaji andung (yaitu genre nyanyian untuk upacara kematian) dapat digunakan ilmu-ilmu sastra, bahasa, antropologi, sistem religi, sosiologi, psikologi, seni, dan lain-lainnya. Tentu saja pendekatan multidisiplin ilmu ini disesuaikan dengan pokok masalah dan tujuan penelitiannya.[3]

[1] Dosen Etnomusikologi, Pascasarjana Linguistik, Magister Penciptaan dan Pengkajian Seni FIB USU, serta Ketua Departemen Adat, Seni, dan Budaya PB MABMI.

[2] SEJARAH ISTILAH HINDU https://sukapura.wordpress.com/2017/10/08/sejarah-istilah-hindu/

[3] Selengkapnya Download : https://www.researchgate.net/profile/Muhammad_Takari/publication/259188251_TRADISI_LISAN_DI_ALAM_MELAYU/links/00b4952a47f49bf786000000/TRADISI-LISAN-DI-ALAM-MELAYU.pdf?origin=publication_detail

Advertisements

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Robih )

Connecting to %s