All posts by sukapura

Nyukcruk Galur Parakan Karuhun, Takdir Teu bisa dipungkir, Gumelar Lahir liwat Indung Bapak, Nini Aki, Buyut, Jangawareng dst

KIBLAT : TIAP-TIAP UMMAT ADA KIBLATNYA SENDIRI

Saepul Bakhri menulis : Kata kiblat yang berasal dari bahasa Arab, diambil dari kata muqabalah yang berarti muwajahah, artinya menghadap. Sehingga kata qiblah sendiri artinya hadapan, yaitu suatu keadaan (tempat) dimana orang-orang pada menghadap kepadanya. Secara harfiah, qiblat berarti al-Jihah yakni arah atau disebut syathrah.

AL-BAQARAH
QS.2:142. Artinya : Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitulmakdis?) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.

QS.2:143. Artinya : Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

QS.2:144. Artinya : Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidilharam itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

QS.2:145. Artinya : Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang lalim.

QS.2:148. Artinya : Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

BAITULLAH, BAKKAH /Atau MAKKAH? :
—————————————————–
ALI-IMRON
QS.3:96. Artinya : Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

BAITULLAH = BAITUL ‘ATIQ (RUMAH TUA /KUNO) :
——————————————————————-
AL-HAJJ
QS.22:26. Artinya : Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud.

QS.22:29. Artinya : Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).

QS.22:33. Artinya : Bagi kamu pada binatang-binatang hadyu, itu ada beberapa manfaat, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah).

Sumber : Program Software Terjemah Al-Qur’an, V1.5

DAN GIBSON :
———————
Aku setuju bahwa di literatur Islam, nama Bakkah adalah serupa dengan nama kota suci pertama Islam.

Ketika Muhammad masih muda, orang-orang memutuskan untuk membangun kembali Ka’bah.

Di tumpukan batu, mereka menemukan bongkahan-bongkahan batu yang mengandung tulisan-tulisan berbahasa Syirak, bahasa kaum Nabatia.

Mereka lalu menemui orang Yahudi yang mengerti bahasa tersebut dan menerjemahkannya bagi mereka :
Ibn Hisyam, 44.
Artinya : “Akulah Allah, Tuhan Bakkah, Aku ciptakan kota itu di saat yang sama aku menciptakan surga dan bumi, membentuk matahari dan bulan, dan Aku kelilingi dengan 7 malaikat-malaikat yang suci. Kota itu akan tetap tegak berdiri diantara dua gunung tegak. Aku berkati orang-orangnya dengan susu, air.”.(Ibn Hisyam, 44).

Kata BECCA /BEKKA (BAKKAH) adalah kata Semantik kuno yang berarti RATAPAN atau TANGISAN.
Becca=WEEPING.
JIKA lokasinya menunjukan makna Bekka itu sendiri, ini berarti TEMPAT MENANGIS.

Nama Bekka TIDAK PERNAH digunakan bagi Yerusalem.

Kata itu hanya muncul sekali saja di Alkitab, di Mazmur 84, yang berkenaan dengan tempat dikenal sebagai LEMBAH RATAPAN. Tapi Qur’an juga menyebut tentang LEMBAH RATAPAN dimana HAGAR (“Siti Hajar”) meratap tentang anaknya Ismael. Qur’an menyebut kejadian itu terjadi di Bekka, yang merupakan nama asli tempat dimana KA’BAH dibangun.

Sudah jelas lokasi ini bukan Yerusalem yang dibangun di atas Gunung dan bukan di Lembah. Kupikir jawabannya sangat sederhana :

Terjadi banyak gempa bumi besar di Petra, seperti yang terjadi di tahun 551 M, hanya 19 tahun saja sebelum Muhammad lahir.

Dari catatan sejarah kita ketahui bahwa di tahun itu sebagian besar kota Petra hancur.

PETRA bisa disebut sebagai LEMBAH RATAPAN karena begitu banyak orang yang tewas selama bertahun-tahun akibat gempa yang sering terjadi.

Jika PETRA merupakan Kota Suci Islam, tentu harus ada bukti bahwa suku Muhammad yakni Quraish memang tinggal di sekitar PETRA. (Selengkapnya dapat di Dilihat dalam youtube : https://www.youtube.com/watch?v=MHSeP-v9JNk ).
——————-
BACA JUGA :
*) SUPER VOLCANO KRAKATAU 535 M & PERUBAHAN PERADABAN DUNIA

*) PRABU SILIWANGI DAN KISANTANG, KISAH NAGARA TARAJU JAWADWIPA 526 M–1521 M (995 TAHUN) (Nama Lain Nagara Pajajaran Dahulu) Download 35 Halaman :
https://sukapura.files.wordpress.com/2017/10/prabu-siliwangi-dan-prabu-kisantang3.pdf

*) Ada Lingga-Yoni Dalam Ka’bah? http://www.sukapura.id/ada-lingga-yoni-dalam-kabah/

FB : https://www.facebook.com/notes/agus-wirabudiman/ada-lingga-yoni-dalam-kabah/10154553461291394

 

Link : https://www.facebook.com/agus.wirabudiman/posts/10155894414534304

Advertisements

QURANIC ARCHAEOLOGY

Al-Qur’an dalam sudut pandang Arkeologi[1] (Quranic Archaeology) menurut Ali Akbar (parakar Arkelogi Universitas Indonesia) menyampaikan sebagai berikut :

• Sumber ajaran utama Islam yakni Al-Qur’an belum mendapatkan perhatian yang cukup baik di Indonesia dan bahkan juga di Dunia. Padahal sebagai sumber utama, Al-qur’an inilah yang mendasari segala gerak-gerik personal dan komunal sehingga membentuk suatu kebudayaan bersama.

• Rekonstruksi kebudayaan masyakarakat dalam hal ini Islam atau yang berkebudayaan Islam yang menjadi tujuan Ilmu Arkeologi tentunya akan sangat terbentuk jika meneliti menggunakan sumber utamanya, yakni al-Qur’an.

• Pada dasarnya Al-Qur’an sebagai kebudayaan materi (material culture) khususnya artefak (artifact) jelas merupakan salah satu bentuk data arkeologi yang dapat dikaji lebih lanjut untuk mengungkap berbagai hal.

• Perlu dipahami bahwa tidak ada batasan usia mengenai kebudayaan materi tersebut. Data arkeologi dapat berupa artefak yang usianya jutaan tahun lalu, fitur yang dibuat manusia ribuan tahun lalu, ekofak yang turut menjadi bagian dari kehidupan manusia ratusan tahun lalu, situs yang pernah ditempati masyarakat puluhan tahun lalu atau kawasan yang dihuni masyarakat tahun lalu.

• Raymond dark dalam bukunya yang berjudul Theoritical Archaeology (1995) menyatakan bahwa pada saat pembaca membaca buku karya itu, buku tersebut telah menjadi data arkeologi.

• Jelas kiranya bahwa Al-Qur’an termasuk data arkeologi berupa artefak yang memiliki tulisan.

(Quranic Archaeology oleh Dr. Ali Akbar disampaikan dalam Acara Diskusi “Bencana dan Peradaban”, Jakarta, 20 Mei 2013).

[1] Arkeologi, berasal dari bahasa Yunani, archaeo yang berarti “kuno” dan logos, “ilmu”. Nama alternatif arkeologi adalah ilmu sejarah kebudayaan material. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data berupa artefak (budaya bendawi, seperti kapak batu dan bangunan candi) dan ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil) maupun fitur (artefaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya (situs arkeologi). Teknik penelitian yang khas adalah penggalian (ekskavasi) arkeologis, meskipun survei juga mendapatkan porsi yang cukup besar. Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Arkeologi , Di Unduh 20 Novermber 2016

Link : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10155896591924304

SEJARAH ISTILAH HINDU

Istilah Hindu, dalam Encyclopedia of Religion and Ethics vol. 6 ref 699 : kata Hindu tidak ada disebutkan dalam setiap literatur India, bahkan dalam kitab sucinya sendiri sebelum orang Muslim datang ke India. Menurut Encyclopedia Britanica vol. 20 Ref. 581 : kata Hindu pertama kali digunakan oleh penulis Inggris pada tahun 1830 untuk menggambarkan keadaan dan kepercayaan orang India. Seharusnya mengatakan Sanata Dharma (Dharma yang abadi), Vedic Dharma (Dharma Weda), atau Vedantist (pengikut Weda). Oleh karena itu apabila mengatakan nama “Agama /Kepercayaan Hindu (India)” untuk menilai kepercayaan Leluhur Sunda pra Islam (sebelum Islam), hal tersebut akibat terpengaruh oleh orang Ingris yang pernah menjajah India dan Nusantara.

Bahkan fakta yuridis keagamaan di Indonesia sekarang pun menjelaskan, dalam (*//Penjelasan Atas Penetapan Presiden No 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan /atau Penodaan Agama. II. PASAL DEMI PASAL, Pasal 1 : Dengan kata-kata “Dimuka Umum” dimaksudkan apa yang lazim diartikan dengan kata-kata itu dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Agama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan khong Cu (Confusius). Hal ini dapat dibuktikan dalam sejarah perkembangan Agama-agama di Indonesia.//*).

Bandingkan dengan Fakta SEJARAH KATA AGAMA[3]

Continue reading SEJARAH ISTILAH HINDU

SEJARAH KATA AGAMA

Kata Agama telah dikenal dan digunkan jauh sebelum Indonesia merdeka yang lahir tahun 1945 M, terdapat dalam Naskah Sunda Kuna Kropak 632, sebagai Naskah Petuah Leluhur Sunda, Raja Sunda (1175-1297 Masehi) Prabu Darmasiksa, atau disebut juga sebagai “Amanat” Galunggung, sebagai berikut :

(a). MELAKSANAKAN AGAMA :
III rekto (*“../jaga isos di carek nu kwalyat, nga- lalwakon Agama nu nyusuk na Galunggung, marapan jaya pran jadyan tahun, hobol nyewana, jaga makeyana patikrama, paninggalna sya seda,/..”.*).

Artinya : (*“../Tetaplah mengikuti ucap (Ajaran) orang tua (Leluhur), melaksanakan Agama yang membuat parit pertahanan di Galunggung, agar unggul perang, serba tumbuh tanam-tanaman, lama berjaya panjang umur, sungguh-sungguhlah mengikuti patikrama warisan dari para suwargi./..”. *).

(b). MENJAGA KESEMPURNAAN AGAMA :
II verso . (*“/-/sa- II verso 1. pa ta wruh ri puncaknya, asing wruh iya ta wruh inya patingtiman, wruh di carék aki lawan buyut, marapan kita jaya prang höböl nyéwana, jaga kita miprangkön 2. si tepet si bener, si duga si twarasi, iya tuhu sirena janma (d)ina bwana iya kahidupanana urang sakabéh, iya pawindwan ngaranya kangken gunung panghiyangana urang, pi(n)dah 3. ka cibuntu ngaranya, pindah ka l(e)mah pamasarran , gosana wwang ngéyuhan kapanasan, jaga rampésna Agama, hana kahuripana urang sakabeh, mulah kwaywa moha di 4. carékna kwalwat pun.”*).

Artinya : (*“/-/Si – II verso : apa (Siapa) yang mengetahui puncaknya? Siapa pun yang mengetahuinya, ya tahulah akan ketentraman, tahu akan nasihat kakek dan buyut, agar kita unggul perang dan lama berjaya. Janganlah kita memperebutkan (bertengkar) tentang: yang tepat (lurus), yang benar, yang jujur, yang lurus hati; ya sungguh-sungguh tenteram manusia di dunia, ya kehidupan kita semua, ya ketenteraman namanya ibarat gunung kahiyangan (bagi) kita, beralih ke telaga (bening) namanya, beralih ke tanah pusara, tempat orang berteduh dari kepanasan. Pelihara kesempurnaan Agama, pegangan hidup kita semua, jangan luput atau bingung terhadap ajaran para leluhur./”*)

(c). TIDAK AKAN HINA TERSESAT DARI AGAMA :
V verso (*“/…nanya ka nu karwalwat, mwa téo(h) sasab na Agama pun, na sasana bwat kwalwat pun, Hana nguni hana mangké, tan hana nguni tan hana mangké, aya ma böhöla aya tu ayöna, hantö ma böhöla hantö tu ayöna, hana tunggak hana watang, tan hana tunggak tan hana watang, hana ma tunggulna aya tu catangna, …/”*).

Artinya : (*“/…Bertanyalah kepada orang-orang tua, (niscaya) tidak akan hina tersesat dari Agama, yaitu hukum buatan leluhur. Ada dahulu ada sekarang, Tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang; ada masa lalu ada masa kini, bila tidak ada masa lalu tidak akan ada masa kini; ada pokok kayu ada batang, tidak ada pokok kayu tidak akan ada batang; bila ada tunggulnya tentu ada catangnya; …/” *).

Adapun istilah kata “Agama” yang digunakan sebagai bahasa Indonesia sekarang, adalah merupakan asal kata serapan dari Bahasa Sang Saka Kreta (Sangsekerta /Sangskrit). Dalam kamus Zoetmulder kata “agama” dibubuhi dengan (skt) menandakan serapan dari bahasa sangsekerta. Agama memiliki beberapa arti seperti doktrin (Ajaran suci) turun temurun, aturan/Hukum, prilaku, sumber pengetahuan, adat, sebagai berikut : //– āgama 23:6 (Skt) doktrin tradisional suci atau ajaran, koleksi doktrin tersebut, pekerjaan suci.//. āgamajña 23:7 (Skt) mengetahui Agama.// āgamapramāṇa 23:8 (Skt) Agama sebagai sarana pengetahuan, memperoleh pengetahuan, kesaksian kitab suci.// āgamarasa 23:9 (Skt) esensi dari kitab-kitab suci.// āgamaśāstra 23:10 (Skt) karya sakral.// āgamawidhi 23:11 (Skt) aturan (hukum) dari tradisi suci.//.

Purbacaraka mengatakan bahwa tujuh puluh sampai delapan puluh persen bahasa Jawa kuna adalah Bahasa Sangsekerta murni.[1] Yang dimaksud dengan bahasa Jawa kuna /atau Bahasa Sangsekerta murni adalah bahasa sebelum ada pemisahan antara bahasa Sunda dan Jawa seperti sekarang. Artinya Bahasa Sangsekerta murni milik Leluhur Bangsa Indonesia (Nusantara).

Dengan demikian, apabila kata “Agama” berasal dari serapan Bahasa Sangsekerta, serta meperhatikan pengertian “Agama” merupakan //– āgama 23:6 (Skt) doktrin (turun temurun) tradisional suci atau ajaran, koleksi doktrin tersebut, pekerjaan suci.//, maka semestinya penggunaan nama kata Agama hanya diperuntukan bagi Masyarakat Indonesia yang masih menjalankan kepercayaan, aturan, hukum, ajaran Leluhurnya sendiri disesuaikan dengan wilayah hukum adat dan budayanya, seperti Agama Hindu Bali (lebih sering disebut sebagai Hindu Bali), Agama Aluk Todolo (Tanah Toraja), Agama Sunda Wiwitan (Kanekes, Banten), Agama Djawa Sunda (Kuningan, Jawa Barat), Agama Buhun (Jawa Barat), Agama Kapitayan, Agama Kejawen (Jawa Tengah dan Jawa Timur), Agama Parmalim (Sumatera Utara), Agama Kaharingan (Kalimantan), Agama Tonaas Walian (Minahasa, Sulawesi Utara), Agama Tolottang (Sulawesi Selatan), Agama Wetu Telu (Lombok), Agama Naurus (pulau Seram, Maluku) dan sebagainya.

Adapun Sistem Kepercayaan (aturan, hukum, budaya, konsep Tuhan) yang secara fakta historis (fakta sejarah) berasal dari Luar wilayah kepulauan Nusantara, dapat disebutkan sebagai sebuah Aliran Kepercayaan yang sama-sama dilindungi Undang-undang Dasar 1945. Misalnya seperti Aliran Kepercayaan Yahudi, Zoroaster, Nasrasi (Kristen, Katolik), Islam (Mazhab Syi’ah, Madzhab Suni), khong Cu (Confusius), Sikh (India), Hindu India, Budha yang semua sistem kepercayaan tersebut memiliki latar belakang sejarah diwilayahnya masing-masing (luar Nusantara).

[1]According to Poerbatjoroko a well-known Javanese scholar, between seventy and eighty per cent of the words of Javanese language are either pure Sanskrit or of Sanskritic origin.(Quoted in Hindustan Standard (Calcutta), December 30, 1962.)

BACA JUGA :
SEJARAH ISTILAH HINDU
https://sukapura.wordpress.com/2017/10/08/sejarah-istilah-hindu/

GALUNGGUNG
https://sukapura.wordpress.com/2016/10/18/galunggung/

TIDAK ADA KERAJAAN HINDU DI TATAR SUNDA
https://sukapura.wordpress.com/2016/11/03/tidak-ada-kerajaan-hindu-di-tatar-sunda/

TIDAK ADA KERAJAAN HINDU DI NUSANTARA
http://www.sukapura.id/tidak-ada-kerajaan-hindu-di-nusantara/

RINGKASAN PERJALANAN “YAVADVIPA” (GALUNGGUNG) (3.300 SM – 702 M)

Oleh Agus Wirabudiman
Assalamu’alaikum Wr Wb
SAMPURASUUN…
Nama “Yavadvipa”, disebutkan dalam Literatur Sangsekerta, Epik Ramayana (Valmiki/Walmiki), sekitar 1.500 SM.
Sudrajat, 2012, menuliskan : Sejak ribuan tahun sebelum Masehi, di India telah berkembang kebudayaan besar di Lembah Sungai Indus. Dua pusat kebudayaan di daerah tersebut adalah ditemukannya dua kota kuno yakni di Mohenjodaro dan Harappa (3.300-2.600 SM). Pengembang dua pusat kebudayaan tersebut adalah bangsa Dravida. Pada sekitar tahun 1.500 SM, datanglah bangsa Arya dari Asia Tengah ke Lembah Sungai Indus. Bangsa Arya datang ke India dengan membawa pengaruh tulisan, bahasa, teknologi, dan juga kepercayaan. Kepercayaan bangsa Arya yang dibawa adalah Veda (Weda) yang setelah sampai di India melahirkan agama Hindu (Sanata Dharma /Vedic Dharma /Vedantist”pengikut Weda”).
BANGSA ARYA Dari ASIA TENGAH, Digambarkan Dari Sejarah Situs Lembah Indus, sebagai Pembawa budaya, TULIS, BAHASA, TEKNOLOGI dan KEPERCAYAAN VEDA(Weda).

 

Para ahli tidak ada yang dapat memastikan kapan lahirnya Bahasa Weda/Sangsekerta itu.
—-
KITAB SET /SIT /SITA (WEDA/ILMU) :
===============================
DALAM Epik Ramayana menunjukan, Rama (berkulit putih) = Bangsa Arya berhasil mengalahkan Rahvuvana (berkulit hitam)/Bangsa Dravida. Bangsa Arya datang ke India dengan membawa pengaruh tulisan, bahasa, teknologi, dan juga kepercayaan. Kepercayaan bangsa Arya yang dibawa adalah Veda (Weda) yang setelah sampai di India melahirkan agama Hindu. Bahasa Veda(Weda) adalah Sangsekerta. Bahasa Sangsekerta adalah Bahasa Veda(Weda).
Dalam Literatur Veda/Weda (Sangsekerta) sendiri, Rama memerintahkan Sugriva dan pasukannya untuk mencari Sita(Vada/Weda) ke pulau “Yavadvipa”. Rama berhasail mengambil Sita(Veda/Weda) dari Rahuvana di “YAVADVIPA”.
GARMBARAN PERLAKUAN BANGSA ARYA Yang telah Merebut KITAB VEDA(WEDA) dari BANGSA DRAVIDA, Sama Dengan PERLAKUAN RAMA TERHADAP SITA.
Agus Sunyoto menuliskan dalam bukunya RAHUVANA TATTWA : Sebagai Ksatriya agung, Rama dikisahkan telah melakukan kecurangan yang keji: membokong Bali dengan bidikan panah dari arah belakang ketika raja Ksihkindha itu sedang berkelahi dengan adiknya, Sugriva. Lepas dari upaya pembenaran apologis yang dilakukan Valmiki atas peristiwa itu, tokoh Bali dan pembaca yang kritis layak menyesalkan tindakan curang Rama yang sangat tidak Kshatriya itu. Pada bagian Yuddhakandha, Rama secara mengherankan dikisahkan berbuat melampaui batas, yaitu membiarkan Sita mengunjungi kesetiaan diri dengan membakar diri di atas kobaran api. Belum puas dengan membiarkan tindakan Sita itu, dalam Uttarakandha, Rama digambarkan masih mengusir Sita yang sedang hamil ke hutan hingga istri malang itu tinggal di pertapaan Valmiki. Bahkan ketika Sita melahirkan anak kembar Kusa dan Lava dan saat anak-anak tersebut dewasa, Rama masih belum mempercayai kecusiannya. Akhirnya, Sita yang mungkin sudah putus asa karena terus menerus tidak dipercaya suaminya meminta bumi menelan tubuhnya sebagai bukti kesuciannya. Dan akhirnya hayat Sita yang tragis memang dikisahkan “tertelan” oleh bumi ketika peristiwa gempa.
Fakta Historisya :

Continue reading RINGKASAN PERJALANAN “YAVADVIPA” (GALUNGGUNG) (3.300 SM – 702 M)