All posts by sukapura

Nyukcruk Galur Parakan Karuhun, Takdir Teu bisa dipungkir, Gumelar Lahir liwat Indung Bapak, Nini Aki, Buyut, Jangawareng dst

GALUNGGUNG=JAWADWIPA

GALUNGGUNG=JAWADWIPA

Yavadvipa (JAWADWIPA):

The island of Java was the earliest island within Indonesia to be identified by the geographers of the outside world. “Yavadvipa” is mentioned in India’s earliest epic, the Ramayana dating to approximately 5th–4th century BC. It was mentioned that Sugriva, the chief of Rama’s army dispatched his men to Yawadvipa, the island of Java, in search of Sita.[1]

|

Suvarnadvipa (SWARNADWIPA):

|

Suvarnadvipa, “Golden Island”, may have been used as a vague general designation of an extensive region in Southeast Asia, but over time, different parts of that area came to be designated by the additional epithets of island, peninsula or city.[2] In contrast the ancient name for the Indian subcontinent is Jambudvipa. In ancient Indonesia, the name Suvarnadvipa is used to designate Sumatra island; as counterpart of neighbouring Javadvipa or Bhumijava (Java island). Both Java and Sumatra are the principal islands in Indonesian history.

|

Iabadiu

The great island of Iabadiu or Jabadiu was mentioned in Ptolemy’s Geographia composed around 150 CE in the Roman Empire. Iabadiu is said to mean “barley island”, to be rich in gold, and have a silver town called Argyra at the west end. The name indicated Java,[3] and seems to be derived from the Hindu name Java-dvipa (Yawadvipa). Despite the name’s indicating Java, many suggest that it refers to Sumatra instead.[3]

JAWADWIPA : Dalam Naskah Carita Parahyangan (CP),

“Tembey Sang Resi Guru ngajuga taraju Djawa dipa “Jawadwipa”, taraju ma inya Galunggung, Jawa ma ti wétan”.

Artinya : “Mula-mula Sang Resi Guru membangun pengukuh (bobot) pulau Jawa, yaitu Galunggung, Jawa ada di sebelah Timurnya”.(Drs.Atja, Tjarita Parahiyangan, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung, 1968, Hal. 8 )

Nama kata istilah Jawadipa /Jawadwipa yang diceritakan dalam Carita Parahyangan (Abad-16), ternyata sudah diceritakan /disebutkan terlebih dahulu Berita Fa Hien, tahun 414 M (Abad-5) dalam bukunya yang berjudul Fa Kao Chi. Ye Po Ti selama ini sering dianggap sebutan Fa Hien untuk Jawadwipa (Galunggung).[4]

[1]History of Ancient India Kapur, Kamlesh https://books.google.co.id/books?id=9ic4BjWFmNIC&pg=PA465&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false

[2]Ancient India’s Colonies in the Far East Vol 2, Dr. R. C. Majumdar, Asoke Kumar Majumdar (1937) p. 46

[3]J. Oliver Thomson (2013). History of Ancient Geography. Cambridge University Press. pp. 316–317. ISBN 9781107689923. Retrieved 25 August 2015.

[4]GALUNGGUNG(2) https://sukapura.wordpress.com/2017/04/16/galunggung2/

Baca Juga :

http://www.sukapura.id/tidak-ada-kerajaan-hindu-di-nusantara/

GALUNGGUNG(2)

Assalamu’alaikum Wr Wb
Sampurasuun!.
Dalam pembahasan ini, penulis terinpirasi dari pertanyaan teman saya Kang Dera yang menulis sebagai berikut :
Kang Dera menulis : Cik Manawi Aya Nu Tiasa Ngawaler,.Kieu, Dina Naskah Amanat Galunggung Nyatana Nu Kedah Diwaspadai Direbutna Kabuyutan Galungguggung Teh Eta salah Sawiosna Ku Sunda, Jawa, Baluk, Lampung, Cina & orang Asing…( Cik Kan Kunaon Tah? Aya Sunda An).. Manawi Kapugkurna Peta Sosial Politik Zaman Harita Rupina Aya Perbedaan Karakter Antara Sunda & Galunggung. Mangga..Haturan Sepuh.
//——————–
Kang Dera menulis : pertanyaaannya ialah apa yg melatar belakangi maksud dr petikan kieu dina naskah : jaga dapetna pretapa 8 dapetna pegengeun sakti, beunangna (ku) Sunda, Jawa, La(m) pung, Ba- luk, banyaga nu dék ngarebutna kabuyutan 9 na Galunggung,..(( 8.Pretapa dapat berarti: sinar (kekuatan), cahaya, pancaran, perbawa, kemuliaan, kewibawaan, pengaruh, kuasa.))
Petikan masalah pertanyaan tersebut di atas itu terdapat dalam Naskah AMANAT DARI GALUNGGUNG (Kropak 632 dari Kabuyutan Ciburuy, Bayongbong-Garut) Oleh : Drs. Atja & Drs. Saleh Danasasmita PROYEK PENGEMBANGAN PERMUSIEUMAN JAWA BARAT 1981.
Oleh karena itu, penulis akan mencoba menjawab/menjelaskannya pada tulisan ini dengan Judul GALUNGGUNG (2).
PENJELASAN :
=============
Pada bagian III rekto : Artinya : //—Dunia kemakmuran tanggung jawab sang rama(Ka-RAMA-an), dunia kesejahteraan hidup tanggung jawab sang resi(Ka-RESI-an), dunia pemerintahan tanggung jawab sang prabu(Ka-PRABU-an).
Sebelum menjelaskan TRI TANGTU (RAMA-RESI-PRABU) di atas, pada I rekto, I verso, menyebutkan :
//– yaitu bila sewaktu-waktu kelak ditinggalkan oleh para rama dan para resi,
—TIDAK disebutkan “prabu”-nya. Akan tetapi sewaktu-waktu kelak ditinggalkan oleh Para-Rama dan Para Resi saja…
Sebagaimana pada bagian dibawah ini :
Terdapat pada bagian  I rekto, I verso :
//–jaga dapetna pretapa dapetna pegengön sakti, bönangna (ku) Sunda, Jawa, La(m)pung, Ba-luk, banyaga nu dék ngarebutna kabuyutan na Galungung, asing iya nu mönangkön kabuyutan na Galunggung, iya sakti tapa, iya jaya prang, iya höböl. nyéwana, iya bagya na drabya sakatiwatiwana, iya ta supagi katinggalan rama-resi,
Artinya : //–Waspadalah. kemungkinan direbutnya kemuliaan (kewibawaan, kekuasaan) dan pegangan kesaktian (kejayaan) oleh Sunda, Jawa, Lampung, Ba-luk, para pedagang (orang asing) yang akan merebut kabuyutan di Galunggung. Siapa pun yang dapat menguasai kabuyutan di Galunggung, ia akan memperoleh kesaktian dalam tapanya, ia akan unggul perang, ia akan lama Berjaya, ia akan mendapat kebahagiaan dari kekayaan secara turun-temurun, yaitu bila sewaktu-waktu kelak ditinggalkan oleh para rama dan para resi,
—-
//–jaga bönangna kabuyutan ku Jawa, ku Baluk, ku Cina, ku Lampung, ku sakalian, muliyana kulit di jaryan, madan na rajaputra, antukna boning ku sakalaih,
Artinya : //–Cegahlah terkuasainya kabuyutan oleh Jawa, oleh Baluk, oleh Cina, oleh Lampung, oleh yang lainnya. Lebih berharga nilai kulit lasun di tempat sampah dari pada rajaputra (bila kabuyutan) akhirnya jatuh ke tangan orang lain.
———————————————-
ADA 2 PERKARA penting UNTUK DI JAGA/DIPERTAHANKAN dalam Amanat Galunggung Tersebut di atas agar tidak di kuasai oleh SUNDA, JAWA, LAMPUNG, BALUK, CINA, PIHAK ASING, salahsatunya adalah untuk menjaga :
(1). ILMU GALUNGGUNG. Artinya : //–Waspadalah. kemungkinan direbutnya kemuliaan (kewibawaan, kekuasaan) dan PEGANGAN KESAKTIAN (kejayaan) oleh Sunda, Jawa, Lampung, Ba-luk, para pedagang (orang asing) yang akan merebut kabuyutan di Galunggung. Siapa pun yang dapat menguasai kabuyutan di Galunggung, ia akan memperoleh kesaktian dalam tapanya, ia akan unggul perang, ia akan lama Berjaya, ia akan mendapat kebahagiaan dari kekayaan secara turun-temurun, yaitu bila sewaktu-waktu kelak ditinggalkan oleh para rama dan para resi.
(2). KABUYUTAN GALUNGGUNG. Artinya : //–Cegahlah terkuasainya kabuyutan oleh JAWA, oleh BALUK, oleh CINA, oleh LAMPUNG, oleh yang lainnya. Lebih berharga nilai kulit lasun di tempat sampah dari pada rajaputra (bila kabuyutan) akhirnya jatuh ke tangan orang lain..
PERTAMA : Yang menjadi masalah dalam pembahasan SEKARANG adalah kata SUNDA sendiri, sementara yang kita kenal tentang SUNDA dari para ahli sejarah jaman sekarang menyebutkan bahwa Prabu Darmasiksa sendiri (yang menyampaikan amanat tersebut) adalah salah satu Raja SUNDA “Orang Sunda” sendiri?. Itu mungkin salah satu titik FOKUSnya, sehingga untuk makna NAMA yang lain seperti JAWA, BALUK, LAMPUNG, CINA dll dengan sendirinya pula dapat terjelaskan.
KEDUA : Mengapa harus dipertahankan KABUYUTAN di GALUNGGUNG?, begitu sakralnya KABUYUTAN di Galunggung, sehingga di katakan (“Siapa pun yang dapat menguasai kabuyutan di Galunggung, ia akan memperoleh kesaktian dalam tapanya, ia akan unggul perang, ia akan lama Berjaya, ia akan mendapat kebahagiaan dari kekayaan secara turun-temurun, yaitu bila sewaktu-waktu kelak ditinggalkan oleh para rama dan para resi.”).
Oleh karena itu, untuk memahami kalimat dalam amanat Galunggung (“//–jaga dapetna pretapa dapetna pegengön sakti, bönangna (ku) Sunda, Jawa, La(m)pung, Ba-luk–//”). Harus memahami dulu kedalaman :
  1. Apa itu GALUNGGUNG?
  2. ILMU GALUNGGUNG (Pegangan/Ageman)?.
  3. KABUYUTAN GALUNGGUNG?.
———————————————–
PENJELASAN PERTAMA 1. APA ITU GALUNGGUNG?
Defisinisi kata Galunggung secara etimologi berarti “Galuh Hyang Agung /atau Permata Hyang Agung”. Adapun pengertian menurut istilah, Galunggung adalah “Sebuah Pemerintahan yang Berdasarkan Keagamaan”.[1]
Dalam amanat Galunggung sendiri, nama kata Galunggung di hubungkan dengan //–jaga dapetna pretapa dapetna pegengön sakti–//, PRETAPA sebagaimana yang telah ditulis oleh kang Dera di atas memiliki arti ((8.Pretapa dapat berarti: sinar (kekuatan), cahaya, pancaran, perbawa, kemuliaan, kewibawaan, pengaruh, kuasa.)).
Sementara membahas Pemerintahan tentang periode Galunggung, dalam Buku Hari Jadi Tasikmalaya tahun 1978, menguraikan Galunggung dengan membagi kedalam 2 bagian, pertama Galunggung Awal ialah Galunggung yang disebutkan dalam Carita Parahyangan dan Pustaka Nagara Kertabumi. Uraian yang kedua disebut Galunggung Akhir ialah Galunggung yang dikaitkan dengan Prasasti Geger Hanjuang (tahun 1111 M).
Pengertian GALUNGGUNG = JAWADWIPA :
Dalam Naskah Carita Parahyangan (CP),
“Tembey Sang Resi Guru ngajuga taraju Djawa dipa “Jawadwipa”, taraju ma inya Galunggung, Jawa ma ti wétan”.
Artinya : “Mula-mula Sang Resi Guru membangun pengukuh (bobot) pulau Jawa, yaitu Galunggung, Jawa ada di sebelah Timurnya”.(Drs.Atja, Tjarita Parahiyangan, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung, 1968, Hal. 8 )
Nama kata istilah Jawadipa /Jawadwipa yang diceritakan dalam Carita Parahyangan (Abad-16), ternyata sudah diceritakan /disebutkan terlebih dahulu Berita Fa Hien, tahun 414 M (Abad-5) dalam bukunya yang berjudul Fa Kao Chi. Ye Po Ti selama ini sering dianggap sebutan Fa Hien untuk Jawadwipa (Galunggung).[2]
FUNGSI GALUNGGUNG = “Ngabiseka Prabu-Pabu/Raja-raja”.
Danghyang Guru lainnya di Galunggung yang bertugas Ngabiseka raja-raja seperti Sanghyang Puhun, Sanghyang Tunggal, Sanghyang Wiraga, Batara Tunggal, Ratu Demang Seda Kamulan Batara Sakti, Batara Siluman, Batara Sombeng, kemudian Batara Sempakwaja (Naskah, R.H. Wiraatmadja, singaparna).
[2] TIDAK ADA KERAJAAN HINDU DI NUSANTARA : http://www.sukapura.id/tidak-ada-kerajaan-hindu-di-nusantara/
Dari penjelasan singkat tersebut di atas, istilah Galunggung/Jawadwipa/Fa Hien sudah dikenal Bangsa Lain (Luar Nusantara) sejak Abad-5 M. Tentunya Galunggung yang berfungsi “ngabiseka raja-raja (Tidak Sah seorang Prabu /Raja tanpa Restu dari Galunggung)” sudah berjalan jauh sebelum Abad-5 Masehi. Begitu juga Ke-PRABU-an (Kerajaan) SUNDA-GALUH (669 M -1579 M), Rajanya tidak sah tanpa restu dari Danghyang Resi Guru Galunggung.
DENGAN DEMIKIAN, kedudukan GALUNGGUNG penulis buat dalam bentuk diagram dibawah ini :
Setelah memahami KEDUDUKAN Galunggung di tingkat Tatanan KERJAJAAN (Ke-PRABU-an), maka selanjutnya kita dapat memahami kalimat dalam amanat Galunggung (“//–jaga dapetna pretapa dapetna pegengön sakti, bönangna (ku) Sunda, Jawa, La(m)pung, Ba-luk–//”). SUNDA disini adalah TATANAN KE-PRABU-AN /Kerajaan bukan Etnis/bukan Ageman Sunda.
Dengan kata lain Sebuah KEKUASAAN KERAJAAN (Pemerintahan/Ke-Prabu-an) SUNDA, JAWA, LAMPUNG, BALUK, CINA dan PIHAK ASING, TIDAK BOLEH Mengatur /Mencampuri WEWENANG Wilayah DANGHYANG RESI GURU di Galunggung yang merupakan sinar (kekuatan), cahaya, pancaran, perbawa, kemuliaan, kewibawaan, pengaruh, kuasa.
Untuk MEMEPERTAHANKAN kedudukan Galunggung tersebut, harus MEMILIKI Pengetahuan, Kemampuan, Kekuatan, Cahaya, Wibawa, Pengaruh, Kuasa yang melebihi dari Penguasa Kerajaan (Ke-Prabu-an). Hal ini berkiatan dengan bagian ke-2 dan ke-3 :
2. ILMU GALUNGGUNG
3. KABUYUTAN GALUNGGUNG
====================================================
SIMPULAN
Kang Dera menulis : pertanyaaannya ialah apa yg melatar belakangi maksud dr petikan kieu dina naskah : jaga dapetna pretapa 8 dapetna pegengeun sakti, beunangna (ku) Sunda, Jawa, La(m) pung, Ba- luk, banyaga nu dék ngarebutna kabuyutan 9 na Galunggung,..(( 8.Pretapa dapat berarti: sinar (kekuatan), cahaya, pancaran, perbawa, kemuliaan, kewibawaan, pengaruh, kuasa.))
JAWABANNYA ADALAH :
Berdasarkan PENJELASAN PERTAMA di atas : Yang melatar belakangi maksud dari petikan amanat Galunggung : (“//–jaga dapetna pretapa dapetna pegengön sakti, bönangna (ku) Sunda, Jawa, La(m)pung, Ba-luk,..dst –//”).
SANGAT DIMUNGKINKAN adanya Usaha pihak Penguasa Pemerintahan /Ke-PRABU-an /KeRajaan SUNDA, JAWA, LAMPUNG, BALUK, CINA, Orang ASING lainnya mempengaruhi, menguasai peran kedudukan Galunggung.
WEWENANG, WIBAWA, CAHAYA, NILAI-NILAI KEDUDUKAN GALUNGGUNG yang dipimpin oleh DANGHYANG RESI GURU (Ka-BATARA-an /Ka-RESI-an), Tidak boleh dicampuri oleh Kepentingan Penguasan Pemerintahan (Ke-PRABU-an /Kerajaan) Sunda, Jawa, Lampung, Baluk maupun Pihak ASING.
SEBALIKNYA Kekuasaan Pemerintahan “Kerajaan /Ke-Prabu-an” harus mengikuti Saran/Arahan dari GALUNGGUNG dalam menjalankan Tugas Pemerintahannya (Ke-Prabuannya).
SEHINGGA Pada bagian III rekto selanjutnya LEBIH DIPERTEGAS LAGI KEDUDUKAN masing-masing TATANANNYA : Artinya : //—Dunia kemakmuran tanggung jawab sang rama(Ka-RAMA-an), dunia kesejahteraan hidup tanggung jawab sang resi(Ka-RESI-an), dunia pemerintahan tanggung jawab sang prabu(Ka-PRABU-an), Jangan berebut kedudukan, jangan berebut penghasilan, jangan berebut hadiah, karena sama asal-usulnya…dst–//
Demikian untuk penjelasan pertamanya..
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Rampeees

TAP MPRS No. XXV/1966 DAN SUPERSEMAR DILIHAT DARI FILSAFAT ANALITIK

Oleh: Harsa Permata*

Dengan ditetapkannya TAP MPRS No. XXV/1966, maka sejak saat itu PKI sebagai Partai Politik dinyatakan dibubarkan dan Marxisme-Leninisme sebagai ideologi yang diklaim sebagai ideologi PKI dinyatakan sebagai ideologi terlarang (TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966, 5 Juli 1966).  Persoalan timbul ketika ketetapan ini tetap dinyatakan berlaku lewat Ketetapan MPR Nomor I/MPR/2003 yang berbunyi :

“Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia Nomor XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia bagi Partai Komunis Indonesia dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Faham atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme dinyatakan tetap berlaku dengan ketentuan seluruh ketentuan dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia Nomor XXV/MPRS/1966 ini, kedepan diberlakukan dengan berkeadilan dan menghormati hukum, prinsip demokrasi dan hak asasi manusia” (id.wikipedia.org, diakses tanggal 7/12/2011, jam 8.41 WIB).

Ketetapan MPR Nomor I/MPR/2003 berisikan Peninjauan terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan MPRS dan Ketetapan MPR RI Tahun 1960 sampai dengan Tahun 2002. “Tujuan Tap MPR tersebut adalah untuk meninjau materi dan status hukum setiap TAP MPRS dan TAP MPR, menetapkan keberadaan (eksistensi) dari TAP MPRS dan TAP MPR untuk saat ini dan masa yang akan datang, serta untuk memberi kepastian hukum” (id.wikipedia.org, diakses tanggal 7/12/2011, jam 8.47 WIB).

TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966 adalah produk Orde Baru yang melakukan kudeta merangkak untuk mendongkel pemerintahan Soekarno. Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto menggunakan dalih G-30-S untuk memecah poros NASAKOM yang digagas oleh Soekarno yang terkenal dengan konsep Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme-nya. Bagi Soekarno (sebagaimana tertulis dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi), pergerakan rakyat Indonesia memiliki tiga karakter yaitu, Nasionalistis, Islamistis, dan Marxistis. Menurutnya persatuan tiga ideologi ini bisa menghasilkan kekuatan layaknya ombak yang mempunyai daya terjang yang maha kuat (Soekarno, 1964 : 2).

Peristiwa G-30-S pada tahun 1965 yang memakan korban jiwa terbunuhnya 6 Jenderal Angkatan Darat, dan satu perwira pertama. Peristiwa inilah yang kemudian memicu para Jenderal Angkatan Darat untuk mendesak Soekarno agar memberi wewenang khusus pada Soeharto. Wewenang khusus lewat supersemar pun kemudian diberikan oleh Soekarno. Soeharto lalu membubarkan PKI sebagai konsekuensi dari kewenangan yang diberikan oleh Soekarno lewat Supersemar. Surat Perintah Sebelas Maret adalah fondasi awal kekuasaan Soeharto dan Orde Baru. Dengan manipulasi politik lewat Dekrit Presiden  No.1/3/1966 tanggal 12 Maret 1966, dengan dalih “atas perintah presiden”, Soeharto membubarkan PKI dan organisasi komunis lainnya (Caldwell dkk, 2011 : 282).

Soeharto menggunakan G-30-S sebagai dalih untuk mengambilalih kekuasaan dengan cara kudeta merangkak. Dikatakan sebagai kudeta merangkak adalah karena usaha kudeta dilakukan lewat selubung tindakan pencegahan terhadap sebuah aksi yang dituduh sebagai kudeta. Soeharto kemudian membesar-besarkan G-30-S sebagai sebuah aksi pengkhianatan dan kejahatan akibat dari kesalahan yang besar dalam pemerintahan Soekarno. Dengan dalih ini Soeharto menuduh PKI sebagai dalang G-30-S, selanjutnya Soeharto menangkapi sekitar satu setengah juta orang yang dituduh terlibat dalam G-30-S. Ratusan ribu dibantai oleh Angkatan Darat kemudian (Roosa, 2008 : 5), sementara menurut pengakuan Sarwo Edhie Wibowo sebagai komandan pembantaian, tiga juta orang yang dibantai (Pour, 2011:273).

Continue reading TAP MPRS No. XXV/1966 DAN SUPERSEMAR DILIHAT DARI FILSAFAT ANALITIK

TIDAK ADA KERAJAAN HINDU DI TATAR SUNDA

Permasalahan adanya perdebatan di kalangan para Ahli sejarah apakah Kerajaan Sund-Galuh(Pajajaran) menganut Hindu /Budha atau Keagamaan Asli salah satunya disebabkan karena Sri Baduga Maharaja tidak memeluk /menganut Agama Islam “(dalam arti Syari’at Islam) bukan Hakikat Islam”.

Bukti dan Data tekstual yang dijadikan rujukan adanya agama Hindu /Buddha pada masyarakat Sunda adalah tinggalan arkeologi Lingga, Arca-arca Ganesa, Wisnu..dll, dan Naskah-naskah Sunda Kuno sendiri yang menyebutkan nama dewa-dewa Hindu seperti tercermin salah satunya dalam Naskah Sanghyang Siksakanda Ng Karesian Kropak 630 sebagai berikut :

Purba, timur kahanan Hyang Isora, putih rupanya;

Daksina, kidul. kahanan Hyang Brahma, merah rupanya,

Pasima, kulon kahanan Hyang Mahadewa, kuning (rupanya),

Utara, lor, kahanan Hyang Wisnu, hireng rupanya;

Madya, tengah kahanan Hyang Siwah, [aneka] aneka warna rupanya (Danasasmita dkk. 1987: 75)

Untuk memporoleh keutuhan pemahaman tentang keagamaan masyarakat Sunda pra Islam, tentu harus dikaji secara utuh pula Naskah-naskah Sunda kuno tersebut guna menentukan keagamaan /kepercayaan masyarakat Sunda apakah menganut Hindu/Buddha (India) atau Pribumi?. Pemahaman kegamaan tentu tidak dapat dilepaskan dengan pemahaman terhadap Tuhannya. Contoh dalam membaca tekstual Al-Qur’an (Kitab Suci ummat Islam), menyebutkan nama hewan Sapi Betina (Al-Baqarah) diabadikan menjadi nama Surah ke-2 Al-Qur’an, tentunya tidak dapat disebutkan bahwa ummat Islam sampai sekarang ada yang menyembah Sapi.

Begitu juga dalam membaca tekstual Al-Qur’an seperti dalam QS.An-Naml[27]:91. Artinya : “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah)”. Bukti tinggalan Arkeologi nya adalah bangunan Ka’bah disebut Baitullah (Rumah Allah), Allah adalah nama Tuhan di “negeri Mekah tersebut”, apabila tidak membaca ayat yang lain, maka akan menyimpulkan bahwa Tuhan ummat Islam itu terikat, membutuhkan rumah sama seperti manusia, sementara dalam ayat lain, QS.Asy-Syuura[42]:11. Artinya : “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia”.

Continue reading TIDAK ADA KERAJAAN HINDU DI TATAR SUNDA

GALUNGGUNG

GALUNGGUNG
——————-

Dalam Kitab Naskah Sunda Kuno, Amanat Rakean Darmasiksa atau disebut Prabu Sanghyang Wisnu yang bergelar Sang Paramartha Mahapurusa (Raja Sunda,1175-1297 Masehi) /atau yang disebut Amanat Galunggung Kropak 632, nama kata AGAMA sudah disebutkan “Jaga rampésna Agama” artinya : “Pelihara kesempurnaan Agama”.

Defisinisi kata Galunggung secara etimologi berarti “Galuh Hyang Agung /atau Permata Hyang Agung”.

Adapun pengertian menurut istilah, Galunggung adalah “Sebuah Pemerintahan yang Berdasarkan Keagamaan”.

Mengetahui definisi Galunggung tersebut di atas, mungkin pembaca dimasa sekarang akan bertanya..,

(1).Agama apa?. Jawabannya : “rampésna agama” (Naskah Galunggung, Kropak 632) artinya agama sempurana.

(2).Siapa nama Tuhannya?. Jawabannya : “Hyang Agung” (konsep HYANG).

(3).Siapa Nabi /Rasul /utusan Tuhan /atau utusan Hyang yang mengajarkannya?. Jawabannya : “Para Hyangan”.

(4). Apa Kitab Suci Tuhannya /Kitab Suci Hyangnya?. Jawabannya : “Sastra-Jendra-Rahayu-Ning-Rat”.

(5). Kemana arah kiblat untuk Sembahyangnya?.

Jawabannya : “untuk Sembah-Hyang, tempat kiblatnya ada didalam diri. Dalam diri terdapat SangHyang Taya, tempatnya SangHyang Pananyaan dan SangHyang Carita” (Naskah Sanghyang Raga Dewata, Kode dj66.2923/[06], dan Naskah Serat Dewa Buda“Gunung” /SDB Kropak 638).

(6). Bagaimana dengan banyaknya ditemukan, Lingga (Linggahyang, Lingga-Yoni), arca dewa-dewa di Tatar Sunda /Jawa Barat?.

Jawabannya : ada didalam Naskah SDB 39r: 2—4 dan 39v: 1—2 :

39v:2,”…Demikianlah bermacam keluarnya tujuan dalam impian, diwujudkan semuanya

39v.1-2. oleh tujuan ketika itu, dikeluarkan semuanya gambaran itu, meragakan Siwa, Buddha, Brahma, Wisnu, raksasa, pitara, ditempatkan dalam puspalingga dan 2.arca. Itulah sebabnya terdapat Hyang dalam tujuan dunia seluruhnya dalam waktu…” (Ayatrohaedi 1988: 176).[1]

SDB menyatakan bahwa prana adalah indra, adalah kehidupan adalah tujuan (acuan), dan acuan hidup itu ialah Hyang (Sang Hyang Taya). Dalam lingkungan seluruh dunia selalu terdapat Hyang sebagai acuan. Dewa-dewa Hindu dan Buddha dinyatakan hanyalah Visualisasi dari tubuh (raga) dalam mimpi, jadi semu agar menjadi konkret kemudian “ditempatkan dalam puspalingga dan arca”.[1]

Gambaran /atau Visualisasi /atau Symbol/Sandi RAGA adalah Puspa(Bunga)Lingga dan Arca. Apabila arah kiblat Sembah Hyang tempatnya didalam Diri (Sanghyang Taya), maka tempat arah kiblat Symbol-nya adalah dimana PuspaLingga dan Arca tersebut di Letakkan.

Adapun lokasi Gunung /Bukit /pedataran dimana pun PuspaLingga, arca, dolmen, menhir /Tunggul itu di Tempatkan, maka gunung/bukit tersebut secara khusus disebut dengan KaBuyutan. Dengan demikian makna KaBuyutan memiliki 2 (dua) arti, pertama KaBuyutan arti Sejati adalah Diri(tempat Sembah Hyang), kedua KaBuyutan arti Ragawi adalah teritorial/wilayah dimana Simbol Ragawi baik Puspalingga, Arca, dolmen, menhir, Tunggul/makam tersebut ditempatkan.

Semakin bertambah dan berkembangnya aktivitas manusia, maka Kabuyutan pun menjadi pusat berbagai aktivitas sesuai fungsinya.

Dengan demikian dapat difahami bahwa :

Kabuyutan adalah Sebuah lokasi atau tempat yang disakralkan menurut aturan, seperti: keraton atau istana raja, kabataraan sebagai lembaga kaum rama, kawikwan sebagai lembaga golongan resi, mandala sebagai lembaga pendidikan, tempat peribadatan dan keagamaan, tempat pemakaman, dan sebagainya.[2]

PUSPALINGGA

[1]Aditia Gunawan; mengutip kajian dari Ayatrohaedi : Tinjauan Napas Keagamaan Hindu-Buddha Dalam Beberapa Naskah Sunda Kuno (Abad Ke-14—16 M).

[2]Undang A. Darsa; KONSEPSI DAN EKSISTENSI GUNUNG BERDASARKAN TRADISI NASKAH SUNDA (Sebuah Perspektif Filologi). UADarsa-FIBU-1432014. Hal. 16

kahatur kang Undang A. Darsa , kang Aditia Gunawan

neda Widi..dikutip janten Referensi..

_/|\_, hatur nuhuuun

Baktos pun

Agus Wirabudiman