Category Archives: DUNIA ISLAM

Artikel Islam

KIBLAT : TIAP-TIAP UMMAT ADA KIBLATNYA SENDIRI

Saepul Bakhri menulis : Kata kiblat yang berasal dari bahasa Arab, diambil dari kata muqabalah yang berarti muwajahah, artinya menghadap. Sehingga kata qiblah sendiri artinya hadapan, yaitu suatu keadaan (tempat) dimana orang-orang pada menghadap kepadanya. Secara harfiah, qiblat berarti al-Jihah yakni arah atau disebut syathrah.

AL-BAQARAH
QS.2:142. Artinya : Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitulmakdis?) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.

QS.2:143. Artinya : Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

QS.2:144. Artinya : Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidilharam itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

QS.2:145. Artinya : Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang lalim.

QS.2:148. Artinya : Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

BAITULLAH, BAKKAH /Atau MAKKAH? :
—————————————————–
ALI-IMRON
QS.3:96. Artinya : Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

BAITULLAH = BAITUL ‘ATIQ (RUMAH TUA /KUNO) :
——————————————————————-
AL-HAJJ
QS.22:26. Artinya : Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud.

QS.22:29. Artinya : Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).

QS.22:33. Artinya : Bagi kamu pada binatang-binatang hadyu, itu ada beberapa manfaat, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah).

Sumber : Program Software Terjemah Al-Qur’an, V1.5

DAN GIBSON :
———————
Aku setuju bahwa di literatur Islam, nama Bakkah adalah serupa dengan nama kota suci pertama Islam.

Ketika Muhammad masih muda, orang-orang memutuskan untuk membangun kembali Ka’bah.

Di tumpukan batu, mereka menemukan bongkahan-bongkahan batu yang mengandung tulisan-tulisan berbahasa Syirak, bahasa kaum Nabatia.

Mereka lalu menemui orang Yahudi yang mengerti bahasa tersebut dan menerjemahkannya bagi mereka :
Ibn Hisyam, 44.
Artinya : “Akulah Allah, Tuhan Bakkah, Aku ciptakan kota itu di saat yang sama aku menciptakan surga dan bumi, membentuk matahari dan bulan, dan Aku kelilingi dengan 7 malaikat-malaikat yang suci. Kota itu akan tetap tegak berdiri diantara dua gunung tegak. Aku berkati orang-orangnya dengan susu, air.”.(Ibn Hisyam, 44).

Kata BECCA /BEKKA (BAKKAH) adalah kata Semantik kuno yang berarti RATAPAN atau TANGISAN.
Becca=WEEPING.
JIKA lokasinya menunjukan makna Bekka itu sendiri, ini berarti TEMPAT MENANGIS.

Nama Bekka TIDAK PERNAH digunakan bagi Yerusalem.

Kata itu hanya muncul sekali saja di Alkitab, di Mazmur 84, yang berkenaan dengan tempat dikenal sebagai LEMBAH RATAPAN. Tapi Qur’an juga menyebut tentang LEMBAH RATAPAN dimana HAGAR (“Siti Hajar”) meratap tentang anaknya Ismael. Qur’an menyebut kejadian itu terjadi di Bekka, yang merupakan nama asli tempat dimana KA’BAH dibangun.

Sudah jelas lokasi ini bukan Yerusalem yang dibangun di atas Gunung dan bukan di Lembah. Kupikir jawabannya sangat sederhana :

Terjadi banyak gempa bumi besar di Petra, seperti yang terjadi di tahun 551 M, hanya 19 tahun saja sebelum Muhammad lahir.

Dari catatan sejarah kita ketahui bahwa di tahun itu sebagian besar kota Petra hancur.

PETRA bisa disebut sebagai LEMBAH RATAPAN karena begitu banyak orang yang tewas selama bertahun-tahun akibat gempa yang sering terjadi.

Jika PETRA merupakan Kota Suci Islam, tentu harus ada bukti bahwa suku Muhammad yakni Quraish memang tinggal di sekitar PETRA. (Selengkapnya dapat di Dilihat dalam youtube : https://www.youtube.com/watch?v=MHSeP-v9JNk ).
——————-
BACA JUGA :
*) SUPER VOLCANO KRAKATAU 535 M & PERUBAHAN PERADABAN DUNIA

*) PRABU SILIWANGI DAN KISANTANG, KISAH NAGARA TARAJU JAWADWIPA 526 M–1521 M (995 TAHUN) (Nama Lain Nagara Pajajaran Dahulu) Download 35 Halaman :
https://sukapura.files.wordpress.com/2017/10/prabu-siliwangi-dan-prabu-kisantang3.pdf

*) Ada Lingga-Yoni Dalam Ka’bah? http://www.sukapura.id/ada-lingga-yoni-dalam-kabah/

FB : https://www.facebook.com/notes/agus-wirabudiman/ada-lingga-yoni-dalam-kabah/10154553461291394

 

Link : https://www.facebook.com/agus.wirabudiman/posts/10155894414534304

Advertisements

QURANIC ARCHAEOLOGY

Al-Qur’an dalam sudut pandang Arkeologi[1] (Quranic Archaeology) menurut Ali Akbar (parakar Arkelogi Universitas Indonesia) menyampaikan sebagai berikut :

• Sumber ajaran utama Islam yakni Al-Qur’an belum mendapatkan perhatian yang cukup baik di Indonesia dan bahkan juga di Dunia. Padahal sebagai sumber utama, Al-qur’an inilah yang mendasari segala gerak-gerik personal dan komunal sehingga membentuk suatu kebudayaan bersama.

• Rekonstruksi kebudayaan masyakarakat dalam hal ini Islam atau yang berkebudayaan Islam yang menjadi tujuan Ilmu Arkeologi tentunya akan sangat terbentuk jika meneliti menggunakan sumber utamanya, yakni al-Qur’an.

• Pada dasarnya Al-Qur’an sebagai kebudayaan materi (material culture) khususnya artefak (artifact) jelas merupakan salah satu bentuk data arkeologi yang dapat dikaji lebih lanjut untuk mengungkap berbagai hal.

• Perlu dipahami bahwa tidak ada batasan usia mengenai kebudayaan materi tersebut. Data arkeologi dapat berupa artefak yang usianya jutaan tahun lalu, fitur yang dibuat manusia ribuan tahun lalu, ekofak yang turut menjadi bagian dari kehidupan manusia ratusan tahun lalu, situs yang pernah ditempati masyarakat puluhan tahun lalu atau kawasan yang dihuni masyarakat tahun lalu.

• Raymond dark dalam bukunya yang berjudul Theoritical Archaeology (1995) menyatakan bahwa pada saat pembaca membaca buku karya itu, buku tersebut telah menjadi data arkeologi.

• Jelas kiranya bahwa Al-Qur’an termasuk data arkeologi berupa artefak yang memiliki tulisan.

(Quranic Archaeology oleh Dr. Ali Akbar disampaikan dalam Acara Diskusi “Bencana dan Peradaban”, Jakarta, 20 Mei 2013).

[1] Arkeologi, berasal dari bahasa Yunani, archaeo yang berarti “kuno” dan logos, “ilmu”. Nama alternatif arkeologi adalah ilmu sejarah kebudayaan material. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data berupa artefak (budaya bendawi, seperti kapak batu dan bangunan candi) dan ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil) maupun fitur (artefaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya (situs arkeologi). Teknik penelitian yang khas adalah penggalian (ekskavasi) arkeologis, meskipun survei juga mendapatkan porsi yang cukup besar. Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Arkeologi , Di Unduh 20 Novermber 2016

Link : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10155896591924304

SEJARAH ISTILAH HINDU

Istilah Hindu, dalam Encyclopedia of Religion and Ethics vol. 6 ref 699 : kata Hindu tidak ada disebutkan dalam setiap literatur India, bahkan dalam kitab sucinya sendiri sebelum orang Muslim datang ke India. Menurut Encyclopedia Britanica vol. 20 Ref. 581 : kata Hindu pertama kali digunakan oleh penulis Inggris pada tahun 1830 untuk menggambarkan keadaan dan kepercayaan orang India. Seharusnya mengatakan Sanata Dharma (Dharma yang abadi), Vedic Dharma (Dharma Weda), atau Vedantist (pengikut Weda). Oleh karena itu apabila mengatakan nama “Agama /Kepercayaan Hindu (India)” untuk menilai kepercayaan Leluhur Sunda pra Islam (sebelum Islam), hal tersebut akibat terpengaruh oleh orang Ingris yang pernah menjajah India dan Nusantara.

Bahkan fakta yuridis keagamaan di Indonesia sekarang pun menjelaskan, dalam (*//Penjelasan Atas Penetapan Presiden No 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan /atau Penodaan Agama. II. PASAL DEMI PASAL, Pasal 1 : Dengan kata-kata “Dimuka Umum” dimaksudkan apa yang lazim diartikan dengan kata-kata itu dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Agama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan khong Cu (Confusius). Hal ini dapat dibuktikan dalam sejarah perkembangan Agama-agama di Indonesia.//*).

Bandingkan dengan Fakta SEJARAH KATA AGAMA[3]

Continue reading SEJARAH ISTILAH HINDU

RINGKASAN PERJALANAN “YAVADVIPA” (GALUNGGUNG) (3.300 SM – 702 M)

Oleh Agus Wirabudiman
Assalamu’alaikum Wr Wb
SAMPURASUUN…
Nama “Yavadvipa”, disebutkan dalam Literatur Sangsekerta, Epik Ramayana (Valmiki/Walmiki), sekitar 1.500 SM.
Sudrajat, 2012, menuliskan : Sejak ribuan tahun sebelum Masehi, di India telah berkembang kebudayaan besar di Lembah Sungai Indus. Dua pusat kebudayaan di daerah tersebut adalah ditemukannya dua kota kuno yakni di Mohenjodaro dan Harappa (3.300-2.600 SM). Pengembang dua pusat kebudayaan tersebut adalah bangsa Dravida. Pada sekitar tahun 1.500 SM, datanglah bangsa Arya dari Asia Tengah ke Lembah Sungai Indus. Bangsa Arya datang ke India dengan membawa pengaruh tulisan, bahasa, teknologi, dan juga kepercayaan. Kepercayaan bangsa Arya yang dibawa adalah Veda (Weda) yang setelah sampai di India melahirkan agama Hindu (Sanata Dharma /Vedic Dharma /Vedantist”pengikut Weda”).
BANGSA ARYA Dari ASIA TENGAH, Digambarkan Dari Sejarah Situs Lembah Indus, sebagai Pembawa budaya, TULIS, BAHASA, TEKNOLOGI dan KEPERCAYAAN VEDA(Weda).

 

Para ahli tidak ada yang dapat memastikan kapan lahirnya Bahasa Weda/Sangsekerta itu.
—-
KITAB SET /SIT /SITA (WEDA/ILMU) :
===============================
DALAM Epik Ramayana menunjukan, Rama (berkulit putih) = Bangsa Arya berhasil mengalahkan Rahvuvana (berkulit hitam)/Bangsa Dravida. Bangsa Arya datang ke India dengan membawa pengaruh tulisan, bahasa, teknologi, dan juga kepercayaan. Kepercayaan bangsa Arya yang dibawa adalah Veda (Weda) yang setelah sampai di India melahirkan agama Hindu. Bahasa Veda(Weda) adalah Sangsekerta. Bahasa Sangsekerta adalah Bahasa Veda(Weda).
Dalam Literatur Veda/Weda (Sangsekerta) sendiri, Rama memerintahkan Sugriva dan pasukannya untuk mencari Sita(Vada/Weda) ke pulau “Yavadvipa”. Rama berhasail mengambil Sita(Veda/Weda) dari Rahuvana di “YAVADVIPA”.
GARMBARAN PERLAKUAN BANGSA ARYA Yang telah Merebut KITAB VEDA(WEDA) dari BANGSA DRAVIDA, Sama Dengan PERLAKUAN RAMA TERHADAP SITA.
Agus Sunyoto menuliskan dalam bukunya RAHUVANA TATTWA : Sebagai Ksatriya agung, Rama dikisahkan telah melakukan kecurangan yang keji: membokong Bali dengan bidikan panah dari arah belakang ketika raja Ksihkindha itu sedang berkelahi dengan adiknya, Sugriva. Lepas dari upaya pembenaran apologis yang dilakukan Valmiki atas peristiwa itu, tokoh Bali dan pembaca yang kritis layak menyesalkan tindakan curang Rama yang sangat tidak Kshatriya itu. Pada bagian Yuddhakandha, Rama secara mengherankan dikisahkan berbuat melampaui batas, yaitu membiarkan Sita mengunjungi kesetiaan diri dengan membakar diri di atas kobaran api. Belum puas dengan membiarkan tindakan Sita itu, dalam Uttarakandha, Rama digambarkan masih mengusir Sita yang sedang hamil ke hutan hingga istri malang itu tinggal di pertapaan Valmiki. Bahkan ketika Sita melahirkan anak kembar Kusa dan Lava dan saat anak-anak tersebut dewasa, Rama masih belum mempercayai kecusiannya. Akhirnya, Sita yang mungkin sudah putus asa karena terus menerus tidak dipercaya suaminya meminta bumi menelan tubuhnya sebagai bukti kesuciannya. Dan akhirnya hayat Sita yang tragis memang dikisahkan “tertelan” oleh bumi ketika peristiwa gempa.
Fakta Historisya :

Continue reading RINGKASAN PERJALANAN “YAVADVIPA” (GALUNGGUNG) (3.300 SM – 702 M)

PRABU SILIWANGI DAN KISANTANG, KISAH NAGARA TARAJU JAWADWIPA (Nama Lain Nagara Pajajaran Dahulu), 526 M–1521 M (995 TAHUN)

PRABU SILIWANGI DAN KISANTANG

KISAH NAGARA TARAJU JAWADWIPA 526 M–1521 M (995 TAHUN)

(Nama Lain Nagara Pajajaran Dahulu)

Oleh Agus Wirabudiman

Banten adalah daerah yang terletak di ujung barat pulau Jawa, Kerajaan Banten yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Padjajaran yang kemudian diambil alih oleh Kesultanan Cirebon (Abad 15-16 M). Prabu Siliwangi memiliki beberapa putra dan putri diantaranya adalah Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang keduanya adalah putra dan putri kesayangan sang Prabu, Raden Kian Santang terkenal dengan Kesaktiannya yang luar biasa. Raden Kian Santang Putra Prabu Siliwangi terkejut ketika didalam mimpinya ada serang Kakek berjubah yang mengatakan bahwa ada seorang manusia yang sanggup mengalahkannya dan kakek tersebut tersenyum. Mimpi itu terjadi beberapa kali hingga Raden Kian Santang bertanya – tanya siapa orang itu, dalam mimpi selanjutanya sang kakek menunjuk ke arah lautan dan berkata orang itu di sana… Penasaran dengan mimpinya Raden Kian Santang meminta ijin kepada ayahandanya Prabu Siliwangi untuk pergi menuju seberang lautan. Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang setelah memperoleh ijin dari Prabu Siliwangi, pergi dan menemui kakek tua disabrang lautan itu, kaek tua tersebut tiada lain adalah Baginda ‘Ali Kw shabat sekaligus kemenakan Nabi Muhammad SAW. Lalu Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh kepada beliau, Dalam perjalanannya Raden Kian Santang kembali ke pulau Jawa dan menyebarkan Islam di daerah Garut hingga meninggalnya.(Babad Banten-1)[1]

Garut adalah daerah yang terletak disebelah timur tenggara pulau Jawa Barat, berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya sekarang. Di daerah Garut sendiri memiliki kisah yang sama dengan Babad Banten (Prabu Siliwangi, Keyan Santang, Baginda ‘Ali Kw). Kisah seorang tokoh yang bernama Keyan Santang: putra Raja Padjajaran Sewu. Prabu Siliwangi, yang gagah perkasa kemudian masuk Islam. Ia menyebarkan agama baru yang dianutnya itu di Pulau Jawa dan menetap di Godog. Suci Kecamatan Karangpawitan Garut sampai akhir hayatnya. Nama-nama lain yang disandang tokoh itu adalah Gagak Lumayung, Garantang Sentra. Pangeran Gagak Lumiring. Sunan Rakhmat, dan Sunan Bidayah. Keyan Santang sendiri diyakini sebagai putra mahkota pewaris Kerajaan Pajajaran Sewu yang gagah perkasa tidak ada yang berani menandinginya. Namun kesaktiannya itu tidak berarti apa-apa ketika Keyan Santang bertemu berhadapan dengan Baginda Ngali (Sayyidina ‘Ali Kw) yang kemudian memeluk ajaran Islam sekaligus menjadi salah satu Sahabat Nabi Muhammad SAW (570-632 M) dan Keyan Santang berganti nama menjadi Sunan Rakhmat. Setelah bukti-bukti lengkap bahwa Keyan Santang telah diangkat sebagai wakil Nabi SAW di Pulau Jawa dan bertugas menyebarkana agama Islam. Prabu Siliwangi menolak bahkan tidak mau memeluk Islam (pindah Agama). Kemudian dengan jalan menembus bumi raja Padjadjaran itu pergi dari Padjadjaran Sewu. Sementara itu para bangsawan Padjadjaran bersalin rupa menjadi bermacam-macam jenis harimau. Sedangkan keraton dengan serta merta berubah menjadi hutan belantara. Konon harimau-harimau itu menju hutan Sancang mengikuti Prabu Siliwangi.

Waktu akan pulang lagi ke Jawa, Sunan Rakhmat dibekali tanah Mekah yang dimasukan ke dalam peti. Di dalam peti itu diletakkan pula sebuah buli-buli berisi air zam-zam. Selain itu Sunan Rakhmat diberi hadiah kuda Sembrani oleh ratu Jin dan Jabalkop. Pesan Nabi Muhammad kepada Sunan Rkhmat ialah bila peti itu gesah (bergoyang) di suatu tempat di Pulau Jawa, maka itulah tandanya Sunan Rakhmat mesti berhenti. Di sanalah ia mesti bermukim (tinggal tetap disana). Adapun menurut yang empunya cerita, tempat bergoyangnya peti itu di Godog. Itulah sebabnya Sunan Rakhmat yang nama aslinya Keyan Satang dimakamkan di Godog. Karangpawitan Garut.

Kisah Keyan Santang dengan Sayyidina ‘Ali Kw dan Nabi Muhammad SAW ini terdapat dalam Naskah Babad Godog, asal pemilik Encon, Asal naskah : Desa Cangkuang Kec. Leles, Ukuran naskah : 16 x 20.5 cm, Ruang tulisan : 15 x 18 cm, Keadaan naskah : baik, Tebal naskah : 71 Halaman, Jumlah baris per halaman : 15 baris, Huruf : Arab/Pegon, Bahan naskah : kertas daluang, Warna kertas : coklat kekuning-kuningan, Keadaan kertas : agak tebal, Cara penulisan : timbal balik, Bentuk karangan : puisi (tembang).[2] Babad Godog yang ditulis sekitar Abad 19 M.

Babad Banten dan Babad Godog (Garut) mengisahkan pertemuan Keyan Santang /atau Raden Kian Santan bertemu dengan Sayyidina ‘Ali Kw dan belajar Islam dari Sayyidina ‘Ali Kw. Sementara Babad Godog lebih jauh menceritakan pertemuan Keyan Santang bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dan memperoleh pesan dari Nabi SAW (Al-Hadist) agar Keyan Santang menetap tinggal di Godog, Garut sekarang. Babad Godog maupun Babad Banten menceritakan ketidak berhasilan Keyan Santang (Raden Kian Santang) dalam mengislamkan Raja Pajajaran (Prabu Siliwangi), bahkan Babad Godog mempertegas! bahwa Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran Sewu) tidak memeluk agama baru yang dianut anaknya Keyan Santang dengan menceritakan bahwa Prabu Siliwangi dan bangsawan Pajajaran lainnya bersalin rupa menjadi macam-macam jenis harimau yang lari kehutan Sancang.

Begitu pun Babad Tanah Sunda /Babad Cirebon yang disusun oleh P.S. Sulendraningrat, menceritakan kisah Raja Pajajaran di Tanah Sunda bernama Sri Sang Ratu Dewata Wisesa, mashur disebut Sri Mahaprabu Siliwangi digambarkan Raja yang tidak memeluk Islam (non Muslim) sehingga mengusir anaknya bernama Walangsungsang untuk pergi dari kraton. Dikisahkan awalnya Walangsungsang[3] pun “bermimpi bertemu dengan seorang lelaki yang elok dan agung memberi wejangan agama Islam sarengat Jeng Nabi Muhammad yang ajdi Utusan Yang Widi”. Walangsungsang sendiri adalah buah pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyi Subang Larang.[4] Babad Cirebon dan Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari[5] yang ditulis oleh Pengeran Arya Cirebon pada tahun 1720 M (Abad 18 M)[6] hendak mebuka jalan baru dari kisah nama besar Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran), dimana Prabu Siliwangi seolah telah memeluk sarengat (syari’at) agama Islam dengan meceritakan bahwa nama lain Prabu Siliwangi adalah Raden Manah Rarasa (Pamanah Rasa) yang menikahi Nyi Subang Larang (seorang Muslimah) putri Ki Gedeng Tapa. Prabu Siliwangi dari pernikahannya dengan Nyai Subanglarang, ia mempunyai tiga orang anak, yaitu Pangeran Walangsungsang, Nyai Lara Santang, dan Raja Sangara. Raden Pamanah Rasa dijadikan Raja Sindangkasih dengan gelar Prabu Siliwangi. Selang beberapa waktu lamanya, Prabu Siliwangi dinobatkan menjadi Maharaja di Pakwan Pajajaran bergelar Pabu Dewatawisesa dan tinggal di keraton Sang Bima bersama istrinya Nyai Subanglarang (Carita Purwaka Caruban Nagari, Bagian-3).

Menurut para pakar sejarah Sunda, nama Siliwangi sebagai tokoh historis tidak terdapat dalam sumber-sumber historis primer. Nama “Siliwangi” tersebut hanya ada dalam naskah sastra dan dalam naskah sastra sejarah (babad) yang termasuk jenis historiografi tradisional. Salah satu sifat historiografi tradisional adalah mencampuradukkan kebenaran historis dengan kebenaran legendaris. Artinya, aspek sastra berbaur dengan aspek sejarah, sehingga Teeuw menyebutnya sebagai karya sastra sejarah. Ekadjati menyatakan hal yang sama dengan Teeuw. Menurut Ekadjati berdasarkan pada bukti-bukti historis yang ada, tokoh (Prabu) Siliwangi bukanlah tokoh historis melainkan tokoh sastra sejarah. Artinya, menurut Ekadjati pula, tokoh itu ada tetapi keberadaannya sudah dibumbui unsur sastra dan legenda.[7]

Mumuh Muhsin Z, mengatakan : Bila ada yang berpendapat bahwa Prabu Siliwangi adalah tokoh mitos karena hanya tercantum dalam sumber-sumber naskah atau historiografi tradisional, hendaklah diingat bahwa mitos jangan diabaikan sebagai sumber sejarah. Mitos adalah fakta mental. Mitos pun dapat dikategorikan sebagai sejarah “intelektual”. Dengan demikian, dalam batas tertentu mitos bisa jadi sumber sejarah. Hasil dari kajian sekaligus perbandingan terhadap sejumlah sumber dan dengan mempraktikkan teknik kolaborasi (Purwaka Caruban, Naskah Pamarican, Waruga Jagat, Babad Pajajaran, Carita Parahiyangan, dan Babad Siliwangi) yang dilakukan oleh Saleh Danasasmita (2003: 142 – 143) tampaknya pendapat yang lebih kuat dan menyandar pada sumber yang kuat pula, Prabu Siliwangi itu hanya satu dan identik dengan tokoh raja yang bernama Prabu Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja yang berkuasa sebagai raja Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran pada 1482 – 1521.[8]

Siapa Sayyid Syarif Hidayat ?. Menurut sumber-sumber tradisi, Syarif Hidayat adalah putera Nyai Rara Santang dari hasil pernikahannya dengan Sultan Mahmud (Syarif Abdullah). Nyai Rara Santang adalah anak Ki Gedeng Tapa. Ia dilahirkan tahun 1404 Masehi dan nikah pada tahun 1422 Masehi. Nyai Rara Santang sendiri lahir tahun 1426 Masehi. Di atas disebutkan bahwa Walangsungsang bergelar Cakrabuwana beserta adiknya yang bernama Nyai Rara Santang pergi berguru kepada Syakh Datuk Kahfi yang sudah bermukim dan mendirikan perguruan agama Islam di Bukit Amparan Jati. Atas saran Syekh Datuk Kahfi, Cakrabuwana beseta Nyai Rara Santang pergi menunaikan ibadah haji. Setelah melaksanakan ibadah haji, Cakrabuwana mendapat gelar Syekh Duliman atau Abdullah Iman, sedangkan Nyai Rara Santang mendapat gelar Syarifah Mudaim.[9] Diceritakan bahwa Syarifah Mudaim ketika masih di Makkah dinikahi oleh Sultan Mahmud atau Syarif Abdullah. Ia adalah anak dari Nurul Amin dari wangsa Hasyim yang nikah dengan puteri Mesir. Hasil dari pernikahan Syaifah Mudaim dengan Sultan Mahmud ini lahirlah Syarif Hidayat. Syarif Hidayat lahir di Makkah pada tahun 1448 Masehi.[10]

Setelah dewasa, Syarif Hidayat kembali ke tanah leluhur ibunya, Tanah Sunda. Dalam perjalanan pulang dari Mesir ke Tanah Sunda, Syarif Hidayat singgah di beberapa tempat, yaitu Gujarat, Pasai, Banten, dan Gresik. Tempat-tempat ini terkenal sebagai pusat penyebaran agama Islam di Indonesia. Ketika singgah di Pasai, Syarif Hidayat bermukim agak lama. Ia berguru kepada Syekh Ishak, ayah Sunan Giri. Ketika singgah di Banten didapatkannya di daerah itu sudah ada yang menganut Islam berkat upaya dakwah Sunan Ngampel. Dari Banten, Syarif Hidayat pergi ke Ampel Denta (Gresik) untuk menemui Syekh Rahmat (Sunan Ngampel) yang sudah terkenal sebagai guru agama Islam di Pulau Jawa.[11] Sunan Ngampel, sebagai pemimpin Islam di Pulau Jawa, memberi tugas kepada Syarif Hidayat untuk menjadi guru agama dan menyebarkan Islam di Bukit Sembung (Cirebon). Memenuhi perintah Sunan Ngampel tersebut, Syarif Hidayat pergi ke Cirebon dan tiba di sana tahun 1470 Masehi. Sejak itu ia mendapat gelar Maulana Jati atau Syekh Jati[12], atau Sunan Gunung Jati.

Masalah selanjutnya, benarkah Prabu Siliwangi /Prabu Jayadewata /Sri Baduga Maharja Raja Sunda-Galuh (Pajajaran, tahun 1482-1521 Masehi) adalah seorang Muslim (menjalankan Syari’at Islam)?. Dalam Naskah Sunda Kuna Kropak 406, Carita Parahyangan yang ditulis sekitar akhir Abad-16 M jauh sebelum Purwaka Caruban Ngari (Abad-18 M), diceritakan bahwa Ratu Jayadewata ngahyang setelah bertahta selama 39 tahun, pemerintahannya mempertahankan “Ngukuhan Purbatisti Purbajati” sehingga keadaan Negara tentram sentosa, gemah ripah loh jinawi, kecuali keluarga yang melanggar Sanghyang siksa, (*/-Tan kreta ja lakibi dina urang réya, ja loba di Sanghiyang Siksa.-/*) Artinya (*/-Tidak akan merasa bahagia keluarga dimasyarakat, karena melanggar Sanghyang Siksa.-/*). Apa itu Sanghyang Siksa?. Sanghyang Siksa adalah Tuntunan/Ajaran/Hukum Sanghyang (ajaran Hyang) /atau semacam Undang-undang yang diterapkan pada masa Prabu Siliwangi /Prabu Jayadewata Sri Baduga Maharaja (1482-1521 M).

Selengkapnya, Dowload PRABU SILIWANGI DAN KISANTANG.pdf (Jumlah 35 Halaman)

[1] Babad Banten-1, Diperbarui: 26 Juni 2015 : http://www.kompasiana.com/jiddan/babad-banten-bag-1_54ff7a3da33311404c5102ce , Diakses 16 Agustus 2016, 11:49 WIB

[2] Babad Godog, Pendataan Data Dan Profil Kepariwisataan Kabupaten Garut.

[3] Nama Walangsungsang adalah nama kecil yang diberikan Prabu Siliwangi kepada putra sulungnya. Pada perkembangannya, setelah Walangsungsang menemukan guru agama Islam serupa dengan amanat dari ibunda Subang Larang, kemudin nama Walangsungsang berganti menjadi Ki Somadullah setalah masuk Islam. Gelar tersebut diberikan berkat usahanya dalam membuka kawasan Cirebon, lokasi pusat peradaban Cirebon yang sekarang di daerah Lemah Wungkuk, setelah Walangsungsang diberi tugas sebagai Pangraksabumi mendampingi Kuwu I Ki Danusela, yaitu pengurus yang menangani bidang pertanian dan perikanan sehingga Walangsungsang diberi Gelar Ki Cakrabumi (Cakrabuawa). Lihat. Rafan S. Hasyim, dkk, Cariyos Walangsungsang, (Bandung-Jawa Barat: DISBUDPAR, ), hlm. 75-76.

[4] P.S. Sulendraningrat, Babad Tanah Sunda/Babad Cirebon, Hal. 5

[5] Danasasmita, Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi. Bandung: Girimukti. 2003. Hal. 65.

[6] Dalam administrasi pemerintahan kolonial, Pangeran Aria Cirebon diangkat sebagai bupati wedana pada 9 Februari 1706. Dalam sumber kolonial jabatan Pangeran Aria Cirebon disebut sebagai “Opsigter en Regent over alle de Prianganse landen en imworders” (Atja, 1986: 17)

[7] Herlina Lubis, Nina. 2000. Tradisi dan Transformasi Sejarah Sunda. Bandung: Humaniora Utama Press. Hal. 81.

[8] Mumuh Muhsin Z., PRABU SILIWANGI Sejarah atau Dongeng?. Makalah disampaikan dalam Dialog Interaktif “Revitalisasi Nilai-Nilai Budaya Masyarakat Tatar Sunda” (Nyusur Galur Mapay Raratan, Ngaguar Warisan Karuhun Urang); diselenggarakan oleh Bank Indonesia Kantor Regional Jabar-Banten bekerja sama dengan Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat dan JITUJI, pada tanggal 20 Mei 2011, bertempat di Gedung BI Perwakilan Jawa Barat, jl. Perintis Kemerdekaan Bandung.

[9] Atja, 1972: 48-49

[10] Mumuh Muhsin Z. Op.Cit., hal. 7-8. dapat dilihat juga menurut Nina H Lubis, dkk, Sejarah Perkembangan Islam Di Jawa Barat, hal. 19.

[11] Ekadjati, 1975: 92.

[12]Nina H Lubis, dkk. Op.Cit, hal. 20.