Category Archives: DUNIA ISLAM

Artikel Islam

SEJARAH ISTILAH HINDU

Istilah Hindu, dalam Encyclopedia of Religion and Ethics vol. 6 ref 699 : kata Hindu tidak ada disebutkan dalam setiap literatur India, bahkan dalam kitab sucinya sendiri sebelum orang Muslim datang ke India. Menurut Encyclopedia Britanica vol. 20 Ref. 581 : kata Hindu pertama kali digunakan oleh penulis Inggris pada tahun 1830 untuk menggambarkan keadaan dan kepercayaan orang India. Seharusnya mengatakan Sanata Dharma (Dharma yang abadi), Vedic Dharma (Dharma Weda), atau Vedantist (pengikut Weda). Oleh karena itu apabila mengatakan nama “Agama /Kepercayaan Hindu (India)” untuk menilai kepercayaan Leluhur Sunda pra Islam (sebelum Islam), hal tersebut akibat terpengaruh oleh orang Ingris yang pernah menjajah India dan Nusantara.

Bahkan fakta yuridis keagamaan di Indonesia sekarang pun menjelaskan, dalam (*//Penjelasan Atas Penetapan Presiden No 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan /atau Penodaan Agama. II. PASAL DEMI PASAL, Pasal 1 : Dengan kata-kata “Dimuka Umum” dimaksudkan apa yang lazim diartikan dengan kata-kata itu dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Agama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan khong Cu (Confusius). Hal ini dapat dibuktikan dalam sejarah perkembangan Agama-agama di Indonesia.//*).

Bandingkan dengan Fakta SEJARAH KATA AGAMA[3]

Continue reading SEJARAH ISTILAH HINDU

Advertisements

RINGKASAN PERJALANAN “YAVADVIPA” (GALUNGGUNG) (3.300 SM – 702 M)

Oleh Agus Wirabudiman
Assalamu’alaikum Wr Wb
SAMPURASUUN…
Nama “Yavadvipa”, disebutkan dalam Literatur Sangsekerta, Epik Ramayana (Valmiki/Walmiki), sekitar 1.500 SM.
Sudrajat, 2012, menuliskan : Sejak ribuan tahun sebelum Masehi, di India telah berkembang kebudayaan besar di Lembah Sungai Indus. Dua pusat kebudayaan di daerah tersebut adalah ditemukannya dua kota kuno yakni di Mohenjodaro dan Harappa (3.300-2.600 SM). Pengembang dua pusat kebudayaan tersebut adalah bangsa Dravida. Pada sekitar tahun 1.500 SM, datanglah bangsa Arya dari Asia Tengah ke Lembah Sungai Indus. Bangsa Arya datang ke India dengan membawa pengaruh tulisan, bahasa, teknologi, dan juga kepercayaan. Kepercayaan bangsa Arya yang dibawa adalah Veda (Weda) yang setelah sampai di India melahirkan agama Hindu (Sanata Dharma /Vedic Dharma /Vedantist”pengikut Weda”).
BANGSA ARYA Dari ASIA TENGAH, Digambarkan Dari Sejarah Situs Lembah Indus, sebagai Pembawa budaya, TULIS, BAHASA, TEKNOLOGI dan KEPERCAYAAN VEDA(Weda).

 

Para ahli tidak ada yang dapat memastikan kapan lahirnya Bahasa Weda/Sangsekerta itu.
—-
KITAB SET /SIT /SITA (WEDA/ILMU) :
===============================
DALAM Epik Ramayana menunjukan, Rama (berkulit putih) = Bangsa Arya berhasil mengalahkan Rahvuvana (berkulit hitam)/Bangsa Dravida. Bangsa Arya datang ke India dengan membawa pengaruh tulisan, bahasa, teknologi, dan juga kepercayaan. Kepercayaan bangsa Arya yang dibawa adalah Veda (Weda) yang setelah sampai di India melahirkan agama Hindu. Bahasa Veda(Weda) adalah Sangsekerta. Bahasa Sangsekerta adalah Bahasa Veda(Weda).
Dalam Literatur Veda/Weda (Sangsekerta) sendiri, Rama memerintahkan Sugriva dan pasukannya untuk mencari Sita(Vada/Weda) ke pulau “Yavadvipa”. Rama berhasail mengambil Sita(Veda/Weda) dari Rahuvana di “YAVADVIPA”.
GARMBARAN PERLAKUAN BANGSA ARYA Yang telah Merebut KITAB VEDA(WEDA) dari BANGSA DRAVIDA, Sama Dengan PERLAKUAN RAMA TERHADAP SITA.
Agus Sunyoto menuliskan dalam bukunya RAHUVANA TATTWA : Sebagai Ksatriya agung, Rama dikisahkan telah melakukan kecurangan yang keji: membokong Bali dengan bidikan panah dari arah belakang ketika raja Ksihkindha itu sedang berkelahi dengan adiknya, Sugriva. Lepas dari upaya pembenaran apologis yang dilakukan Valmiki atas peristiwa itu, tokoh Bali dan pembaca yang kritis layak menyesalkan tindakan curang Rama yang sangat tidak Kshatriya itu. Pada bagian Yuddhakandha, Rama secara mengherankan dikisahkan berbuat melampaui batas, yaitu membiarkan Sita mengunjungi kesetiaan diri dengan membakar diri di atas kobaran api. Belum puas dengan membiarkan tindakan Sita itu, dalam Uttarakandha, Rama digambarkan masih mengusir Sita yang sedang hamil ke hutan hingga istri malang itu tinggal di pertapaan Valmiki. Bahkan ketika Sita melahirkan anak kembar Kusa dan Lava dan saat anak-anak tersebut dewasa, Rama masih belum mempercayai kecusiannya. Akhirnya, Sita yang mungkin sudah putus asa karena terus menerus tidak dipercaya suaminya meminta bumi menelan tubuhnya sebagai bukti kesuciannya. Dan akhirnya hayat Sita yang tragis memang dikisahkan “tertelan” oleh bumi ketika peristiwa gempa.
Fakta Historisya :

Continue reading RINGKASAN PERJALANAN “YAVADVIPA” (GALUNGGUNG) (3.300 SM – 702 M)

PRABU SILIWANGI DAN KISANTANG, KISAH NAGARA TARAJU JAWADWIPA (Nama Lain Nagara Pajajaran Dahulu), 526 M–1521 M (995 TAHUN)

PRABU SILIWANGI DAN KISANTANG

KISAH NAGARA TARAJU JAWADWIPA 526 M–1521 M (995 TAHUN)

(Nama Lain Nagara Pajajaran Dahulu)

Oleh Agus Wirabudiman

Banten adalah daerah yang terletak di ujung barat pulau Jawa, Kerajaan Banten yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Padjajaran yang kemudian diambil alih oleh Kesultanan Cirebon (Abad 15-16 M). Prabu Siliwangi memiliki beberapa putra dan putri diantaranya adalah Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang keduanya adalah putra dan putri kesayangan sang Prabu, Raden Kian Santang terkenal dengan Kesaktiannya yang luar biasa. Raden Kian Santang Putra Prabu Siliwangi terkejut ketika didalam mimpinya ada serang Kakek berjubah yang mengatakan bahwa ada seorang manusia yang sanggup mengalahkannya dan kakek tersebut tersenyum. Mimpi itu terjadi beberapa kali hingga Raden Kian Santang bertanya – tanya siapa orang itu, dalam mimpi selanjutanya sang kakek menunjuk ke arah lautan dan berkata orang itu di sana… Penasaran dengan mimpinya Raden Kian Santang meminta ijin kepada ayahandanya Prabu Siliwangi untuk pergi menuju seberang lautan. Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang setelah memperoleh ijin dari Prabu Siliwangi, pergi dan menemui kakek tua disabrang lautan itu, kaek tua tersebut tiada lain adalah Baginda ‘Ali Kw shabat sekaligus kemenakan Nabi Muhammad SAW. Lalu Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh kepada beliau, Dalam perjalanannya Raden Kian Santang kembali ke pulau Jawa dan menyebarkan Islam di daerah Garut hingga meninggalnya.(Babad Banten-1)[1]

Garut adalah daerah yang terletak disebelah timur tenggara pulau Jawa Barat, berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya sekarang. Di daerah Garut sendiri memiliki kisah yang sama dengan Babad Banten (Prabu Siliwangi, Keyan Santang, Baginda ‘Ali Kw). Kisah seorang tokoh yang bernama Keyan Santang: putra Raja Padjajaran Sewu. Prabu Siliwangi, yang gagah perkasa kemudian masuk Islam. Ia menyebarkan agama baru yang dianutnya itu di Pulau Jawa dan menetap di Godog. Suci Kecamatan Karangpawitan Garut sampai akhir hayatnya. Nama-nama lain yang disandang tokoh itu adalah Gagak Lumayung, Garantang Sentra. Pangeran Gagak Lumiring. Sunan Rakhmat, dan Sunan Bidayah. Keyan Santang sendiri diyakini sebagai putra mahkota pewaris Kerajaan Pajajaran Sewu yang gagah perkasa tidak ada yang berani menandinginya. Namun kesaktiannya itu tidak berarti apa-apa ketika Keyan Santang bertemu berhadapan dengan Baginda Ngali (Sayyidina ‘Ali Kw) yang kemudian memeluk ajaran Islam sekaligus menjadi salah satu Sahabat Nabi Muhammad SAW (570-632 M) dan Keyan Santang berganti nama menjadi Sunan Rakhmat. Setelah bukti-bukti lengkap bahwa Keyan Santang telah diangkat sebagai wakil Nabi SAW di Pulau Jawa dan bertugas menyebarkana agama Islam. Prabu Siliwangi menolak bahkan tidak mau memeluk Islam (pindah Agama). Kemudian dengan jalan menembus bumi raja Padjadjaran itu pergi dari Padjadjaran Sewu. Sementara itu para bangsawan Padjadjaran bersalin rupa menjadi bermacam-macam jenis harimau. Sedangkan keraton dengan serta merta berubah menjadi hutan belantara. Konon harimau-harimau itu menju hutan Sancang mengikuti Prabu Siliwangi.

Waktu akan pulang lagi ke Jawa, Sunan Rakhmat dibekali tanah Mekah yang dimasukan ke dalam peti. Di dalam peti itu diletakkan pula sebuah buli-buli berisi air zam-zam. Selain itu Sunan Rakhmat diberi hadiah kuda Sembrani oleh ratu Jin dan Jabalkop. Pesan Nabi Muhammad kepada Sunan Rkhmat ialah bila peti itu gesah (bergoyang) di suatu tempat di Pulau Jawa, maka itulah tandanya Sunan Rakhmat mesti berhenti. Di sanalah ia mesti bermukim (tinggal tetap disana). Adapun menurut yang empunya cerita, tempat bergoyangnya peti itu di Godog. Itulah sebabnya Sunan Rakhmat yang nama aslinya Keyan Satang dimakamkan di Godog. Karangpawitan Garut.

Kisah Keyan Santang dengan Sayyidina ‘Ali Kw dan Nabi Muhammad SAW ini terdapat dalam Naskah Babad Godog, asal pemilik Encon, Asal naskah : Desa Cangkuang Kec. Leles, Ukuran naskah : 16 x 20.5 cm, Ruang tulisan : 15 x 18 cm, Keadaan naskah : baik, Tebal naskah : 71 Halaman, Jumlah baris per halaman : 15 baris, Huruf : Arab/Pegon, Bahan naskah : kertas daluang, Warna kertas : coklat kekuning-kuningan, Keadaan kertas : agak tebal, Cara penulisan : timbal balik, Bentuk karangan : puisi (tembang).[2] Babad Godog yang ditulis sekitar Abad 19 M.

Babad Banten dan Babad Godog (Garut) mengisahkan pertemuan Keyan Santang /atau Raden Kian Santan bertemu dengan Sayyidina ‘Ali Kw dan belajar Islam dari Sayyidina ‘Ali Kw. Sementara Babad Godog lebih jauh menceritakan pertemuan Keyan Santang bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dan memperoleh pesan dari Nabi SAW (Al-Hadist) agar Keyan Santang menetap tinggal di Godog, Garut sekarang. Babad Godog maupun Babad Banten menceritakan ketidak berhasilan Keyan Santang (Raden Kian Santang) dalam mengislamkan Raja Pajajaran (Prabu Siliwangi), bahkan Babad Godog mempertegas! bahwa Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran Sewu) tidak memeluk agama baru yang dianut anaknya Keyan Santang dengan menceritakan bahwa Prabu Siliwangi dan bangsawan Pajajaran lainnya bersalin rupa menjadi macam-macam jenis harimau yang lari kehutan Sancang.

Begitu pun Babad Tanah Sunda /Babad Cirebon yang disusun oleh P.S. Sulendraningrat, menceritakan kisah Raja Pajajaran di Tanah Sunda bernama Sri Sang Ratu Dewata Wisesa, mashur disebut Sri Mahaprabu Siliwangi digambarkan Raja yang tidak memeluk Islam (non Muslim) sehingga mengusir anaknya bernama Walangsungsang untuk pergi dari kraton. Dikisahkan awalnya Walangsungsang[3] pun “bermimpi bertemu dengan seorang lelaki yang elok dan agung memberi wejangan agama Islam sarengat Jeng Nabi Muhammad yang ajdi Utusan Yang Widi”. Walangsungsang sendiri adalah buah pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyi Subang Larang.[4] Babad Cirebon dan Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari[5] yang ditulis oleh Pengeran Arya Cirebon pada tahun 1720 M (Abad 18 M)[6] hendak mebuka jalan baru dari kisah nama besar Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran), dimana Prabu Siliwangi seolah telah memeluk sarengat (syari’at) agama Islam dengan meceritakan bahwa nama lain Prabu Siliwangi adalah Raden Manah Rarasa (Pamanah Rasa) yang menikahi Nyi Subang Larang (seorang Muslimah) putri Ki Gedeng Tapa. Prabu Siliwangi dari pernikahannya dengan Nyai Subanglarang, ia mempunyai tiga orang anak, yaitu Pangeran Walangsungsang, Nyai Lara Santang, dan Raja Sangara. Raden Pamanah Rasa dijadikan Raja Sindangkasih dengan gelar Prabu Siliwangi. Selang beberapa waktu lamanya, Prabu Siliwangi dinobatkan menjadi Maharaja di Pakwan Pajajaran bergelar Pabu Dewatawisesa dan tinggal di keraton Sang Bima bersama istrinya Nyai Subanglarang (Carita Purwaka Caruban Nagari, Bagian-3).

Menurut para pakar sejarah Sunda, nama Siliwangi sebagai tokoh historis tidak terdapat dalam sumber-sumber historis primer. Nama “Siliwangi” tersebut hanya ada dalam naskah sastra dan dalam naskah sastra sejarah (babad) yang termasuk jenis historiografi tradisional. Salah satu sifat historiografi tradisional adalah mencampuradukkan kebenaran historis dengan kebenaran legendaris. Artinya, aspek sastra berbaur dengan aspek sejarah, sehingga Teeuw menyebutnya sebagai karya sastra sejarah. Ekadjati menyatakan hal yang sama dengan Teeuw. Menurut Ekadjati berdasarkan pada bukti-bukti historis yang ada, tokoh (Prabu) Siliwangi bukanlah tokoh historis melainkan tokoh sastra sejarah. Artinya, menurut Ekadjati pula, tokoh itu ada tetapi keberadaannya sudah dibumbui unsur sastra dan legenda.[7]

Mumuh Muhsin Z, mengatakan : Bila ada yang berpendapat bahwa Prabu Siliwangi adalah tokoh mitos karena hanya tercantum dalam sumber-sumber naskah atau historiografi tradisional, hendaklah diingat bahwa mitos jangan diabaikan sebagai sumber sejarah. Mitos adalah fakta mental. Mitos pun dapat dikategorikan sebagai sejarah “intelektual”. Dengan demikian, dalam batas tertentu mitos bisa jadi sumber sejarah. Hasil dari kajian sekaligus perbandingan terhadap sejumlah sumber dan dengan mempraktikkan teknik kolaborasi (Purwaka Caruban, Naskah Pamarican, Waruga Jagat, Babad Pajajaran, Carita Parahiyangan, dan Babad Siliwangi) yang dilakukan oleh Saleh Danasasmita (2003: 142 – 143) tampaknya pendapat yang lebih kuat dan menyandar pada sumber yang kuat pula, Prabu Siliwangi itu hanya satu dan identik dengan tokoh raja yang bernama Prabu Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja yang berkuasa sebagai raja Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran pada 1482 – 1521.[8]

Siapa Sayyid Syarif Hidayat ?. Menurut sumber-sumber tradisi, Syarif Hidayat adalah putera Nyai Rara Santang dari hasil pernikahannya dengan Sultan Mahmud (Syarif Abdullah). Nyai Rara Santang adalah anak Ki Gedeng Tapa. Ia dilahirkan tahun 1404 Masehi dan nikah pada tahun 1422 Masehi. Nyai Rara Santang sendiri lahir tahun 1426 Masehi. Di atas disebutkan bahwa Walangsungsang bergelar Cakrabuwana beserta adiknya yang bernama Nyai Rara Santang pergi berguru kepada Syakh Datuk Kahfi yang sudah bermukim dan mendirikan perguruan agama Islam di Bukit Amparan Jati. Atas saran Syekh Datuk Kahfi, Cakrabuwana beseta Nyai Rara Santang pergi menunaikan ibadah haji. Setelah melaksanakan ibadah haji, Cakrabuwana mendapat gelar Syekh Duliman atau Abdullah Iman, sedangkan Nyai Rara Santang mendapat gelar Syarifah Mudaim.[9] Diceritakan bahwa Syarifah Mudaim ketika masih di Makkah dinikahi oleh Sultan Mahmud atau Syarif Abdullah. Ia adalah anak dari Nurul Amin dari wangsa Hasyim yang nikah dengan puteri Mesir. Hasil dari pernikahan Syaifah Mudaim dengan Sultan Mahmud ini lahirlah Syarif Hidayat. Syarif Hidayat lahir di Makkah pada tahun 1448 Masehi.[10]

Setelah dewasa, Syarif Hidayat kembali ke tanah leluhur ibunya, Tanah Sunda. Dalam perjalanan pulang dari Mesir ke Tanah Sunda, Syarif Hidayat singgah di beberapa tempat, yaitu Gujarat, Pasai, Banten, dan Gresik. Tempat-tempat ini terkenal sebagai pusat penyebaran agama Islam di Indonesia. Ketika singgah di Pasai, Syarif Hidayat bermukim agak lama. Ia berguru kepada Syekh Ishak, ayah Sunan Giri. Ketika singgah di Banten didapatkannya di daerah itu sudah ada yang menganut Islam berkat upaya dakwah Sunan Ngampel. Dari Banten, Syarif Hidayat pergi ke Ampel Denta (Gresik) untuk menemui Syekh Rahmat (Sunan Ngampel) yang sudah terkenal sebagai guru agama Islam di Pulau Jawa.[11] Sunan Ngampel, sebagai pemimpin Islam di Pulau Jawa, memberi tugas kepada Syarif Hidayat untuk menjadi guru agama dan menyebarkan Islam di Bukit Sembung (Cirebon). Memenuhi perintah Sunan Ngampel tersebut, Syarif Hidayat pergi ke Cirebon dan tiba di sana tahun 1470 Masehi. Sejak itu ia mendapat gelar Maulana Jati atau Syekh Jati[12], atau Sunan Gunung Jati.

Masalah selanjutnya, benarkah Prabu Siliwangi /Prabu Jayadewata /Sri Baduga Maharja Raja Sunda-Galuh (Pajajaran, tahun 1482-1521 Masehi) adalah seorang Muslim (menjalankan Syari’at Islam)?. Dalam Naskah Sunda Kuna Kropak 406, Carita Parahyangan yang ditulis sekitar akhir Abad-16 M jauh sebelum Purwaka Caruban Ngari (Abad-18 M), diceritakan bahwa Ratu Jayadewata ngahyang setelah bertahta selama 39 tahun, pemerintahannya mempertahankan “Ngukuhan Purbatisti Purbajati” sehingga keadaan Negara tentram sentosa, gemah ripah loh jinawi, kecuali keluarga yang melanggar Sanghyang siksa, (*/-Tan kreta ja lakibi dina urang réya, ja loba di Sanghiyang Siksa.-/*) Artinya (*/-Tidak akan merasa bahagia keluarga dimasyarakat, karena melanggar Sanghyang Siksa.-/*). Apa itu Sanghyang Siksa?. Sanghyang Siksa adalah Tuntunan/Ajaran/Hukum Sanghyang (ajaran Hyang) /atau semacam Undang-undang yang diterapkan pada masa Prabu Siliwangi /Prabu Jayadewata Sri Baduga Maharaja (1482-1521 M).

Selengkapnya, Dowload PRABU SILIWANGI DAN KISANTANG.pdf (Jumlah 35 Halaman)

[1] Babad Banten-1, Diperbarui: 26 Juni 2015 : http://www.kompasiana.com/jiddan/babad-banten-bag-1_54ff7a3da33311404c5102ce , Diakses 16 Agustus 2016, 11:49 WIB

[2] Babad Godog, Pendataan Data Dan Profil Kepariwisataan Kabupaten Garut.

[3] Nama Walangsungsang adalah nama kecil yang diberikan Prabu Siliwangi kepada putra sulungnya. Pada perkembangannya, setelah Walangsungsang menemukan guru agama Islam serupa dengan amanat dari ibunda Subang Larang, kemudin nama Walangsungsang berganti menjadi Ki Somadullah setalah masuk Islam. Gelar tersebut diberikan berkat usahanya dalam membuka kawasan Cirebon, lokasi pusat peradaban Cirebon yang sekarang di daerah Lemah Wungkuk, setelah Walangsungsang diberi tugas sebagai Pangraksabumi mendampingi Kuwu I Ki Danusela, yaitu pengurus yang menangani bidang pertanian dan perikanan sehingga Walangsungsang diberi Gelar Ki Cakrabumi (Cakrabuawa). Lihat. Rafan S. Hasyim, dkk, Cariyos Walangsungsang, (Bandung-Jawa Barat: DISBUDPAR, ), hlm. 75-76.

[4] P.S. Sulendraningrat, Babad Tanah Sunda/Babad Cirebon, Hal. 5

[5] Danasasmita, Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi. Bandung: Girimukti. 2003. Hal. 65.

[6] Dalam administrasi pemerintahan kolonial, Pangeran Aria Cirebon diangkat sebagai bupati wedana pada 9 Februari 1706. Dalam sumber kolonial jabatan Pangeran Aria Cirebon disebut sebagai “Opsigter en Regent over alle de Prianganse landen en imworders” (Atja, 1986: 17)

[7] Herlina Lubis, Nina. 2000. Tradisi dan Transformasi Sejarah Sunda. Bandung: Humaniora Utama Press. Hal. 81.

[8] Mumuh Muhsin Z., PRABU SILIWANGI Sejarah atau Dongeng?. Makalah disampaikan dalam Dialog Interaktif “Revitalisasi Nilai-Nilai Budaya Masyarakat Tatar Sunda” (Nyusur Galur Mapay Raratan, Ngaguar Warisan Karuhun Urang); diselenggarakan oleh Bank Indonesia Kantor Regional Jabar-Banten bekerja sama dengan Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat dan JITUJI, pada tanggal 20 Mei 2011, bertempat di Gedung BI Perwakilan Jawa Barat, jl. Perintis Kemerdekaan Bandung.

[9] Atja, 1972: 48-49

[10] Mumuh Muhsin Z. Op.Cit., hal. 7-8. dapat dilihat juga menurut Nina H Lubis, dkk, Sejarah Perkembangan Islam Di Jawa Barat, hal. 19.

[11] Ekadjati, 1975: 92.

[12]Nina H Lubis, dkk. Op.Cit, hal. 20.

 

TIDAK ADA KERAJAAN HINDU DI TATAR SUNDA

Permasalahan adanya perdebatan di kalangan para Ahli sejarah apakah Kerajaan Sund-Galuh(Pajajaran) menganut Hindu /Budha atau Keagamaan Asli salah satunya disebabkan karena Sri Baduga Maharaja tidak memeluk /menganut Agama Islam “(dalam arti Syari’at Islam) bukan Hakikat Islam”.

Bukti dan Data tekstual yang dijadikan rujukan adanya agama Hindu /Buddha pada masyarakat Sunda adalah tinggalan arkeologi Lingga, Arca-arca Ganesa, Wisnu..dll, dan Naskah-naskah Sunda Kuno sendiri yang menyebutkan nama dewa-dewa Hindu seperti tercermin salah satunya dalam Naskah Sanghyang Siksakanda Ng Karesian Kropak 630 sebagai berikut :

Purba, timur kahanan Hyang Isora, putih rupanya;

Daksina, kidul. kahanan Hyang Brahma, merah rupanya,

Pasima, kulon kahanan Hyang Mahadewa, kuning (rupanya),

Utara, lor, kahanan Hyang Wisnu, hireng rupanya;

Madya, tengah kahanan Hyang Siwah, [aneka] aneka warna rupanya (Danasasmita dkk. 1987: 75)

Untuk memporoleh keutuhan pemahaman tentang keagamaan masyarakat Sunda pra Islam, tentu harus dikaji secara utuh pula Naskah-naskah Sunda kuno tersebut guna menentukan keagamaan /kepercayaan masyarakat Sunda apakah menganut Hindu/Buddha (India) atau Pribumi?. Pemahaman kegamaan tentu tidak dapat dilepaskan dengan pemahaman terhadap Tuhannya. Contoh dalam membaca tekstual Al-Qur’an (Kitab Suci ummat Islam), menyebutkan nama hewan Sapi Betina (Al-Baqarah) diabadikan menjadi nama Surah ke-2 Al-Qur’an, tentunya tidak dapat disebutkan bahwa ummat Islam sampai sekarang ada yang menyembah Sapi.

Begitu juga dalam membaca tekstual Al-Qur’an seperti dalam QS.An-Naml[27]:91. Artinya : “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah)”. Bukti tinggalan Arkeologi nya adalah bangunan Ka’bah disebut Baitullah (Rumah Allah), Allah adalah nama Tuhan di “negeri Mekah tersebut”, apabila tidak membaca ayat yang lain, maka akan menyimpulkan bahwa Tuhan ummat Islam itu terikat, membutuhkan rumah sama seperti manusia, sementara dalam ayat lain, QS.Asy-Syuura[42]:11. Artinya : “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia”.

Continue reading TIDAK ADA KERAJAAN HINDU DI TATAR SUNDA

TABAYYUN (TIDAK AKAN RIDHO)

TABAYYUN (TIDAK AKAN RIDHO),  HUKUM AL-QUR’AN TIDAK PASANG-SURUT

/*———————————————————–*\

MUSLIM MEMIMPIN DI NEGARA YANG NOTA BENENYA MAYORITAS NON MUSLIM (SAH /BOLEH)

5 Politikus Muslim Inggris, dari Wali Kota Hingga Menteri  :  http://global.liputan6.com/read/2501169/5-politikus-muslim-inggris-dari-wali-kota-hingga-menteri

Warga Amerika lebih suka orang muslim dibanding Donald Trump  : http://www.merdeka.com/khas/warga-amerika-lebih-suka-orang-muslim-dibanding-donal-trump-wawancara-shamsi-ali-1.html

MELIHAT FAKTA TERSEBUT DI ATAS,

Maka Tulisan dibawah ini, menjelaskan Makna Terusrat dan Tersirat dalam QS.Al-Baqoroh :120.

Kuncinya dari Tulisan ini, Agar Bersikap ADIL.

PERLAKUAN ADIL, TIDAK MEMBEDAKAN SUKU /atau AGAMA, Tidak Memandang Mayoritas /atau Minoritas. Semua diatur Dalam Mekanisme yang HARUS ADIL (Dapat diterima oleh semua pihak).

QS.Al-Baqoroh :120. Artinya “ Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka (Agama Yahudi /atau Agama Nasrani). Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”.

Kitab Al-Qur’an yang disampaikan ABAD KE 6-7 Masehi dengan Rumpun Bahasa Arab sekarang ini (‘Arobiyyan) adalah Panduan untuk Ummat Islam, Kiblatnya Ka’bah..dst. Nilai yang terkadung dalam Al-Quran yang dimasuksud, ada yang TERSURAT dan TERSIRAT seluruhnya adalah Pedoman Bagi Yang Mengimaninya /Mempercayainya.

/*-MAKNA TERSURAT dari QS.Al-Baqoroh :120. tersebut di atas adalah BAHWA :

ORANG-ORANG KAFIR (SEBAGIAN Penentang Da’wah Nabi SAW) dari kelompok YAHUDI dan NASRANI pada saat itu TIDAK AKAN RIDHO kalau Muhammad dan Ummatnya/pengikutnya tidak Mengikuti/Memeluk Agama Yahudi atau Agama Nasrani.

Hal ini tergambar didalam Al-Qur’an QS.Al-Baqaroh, 135.

Artinya :”Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi /atau agama Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah : “Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama (MILLAH) Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”.

/*-ADAPUN MAKNA TERSIRAT dari QS.Al-Baqoroh :120. tersebut di atas adalah :

QS.Al-Maaidah:51.”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim”.

QS.Al-Maaidah:57.”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.

  1. SALAH SATU PRILAKU sebagian kaum Agama Yahudi /atau Nasrani di atas (TIDAK AKAN RIDHO selama TIDAK MEMELUK agama Yahudi /atau agama Nasrani)
  1. Apabila IMAN-Hati/FIkiran dan PRILAKU /akhlak Ummat Islam SEPERTI no.1, artinya TIDAK AKAN RIDHO kepada Manusia/SESEORANG selama TIDAK MEMELUK Agama Islam, MAKA KEYAKINAN dan AKHLAK tersebut SAMA DENGAN kaum Yahudi dan Nasrani tersebut di atas. Terlebih lagi bagi ummat Islam telah diperingatkan /atau ditegaskan didalam Al-Qur’an sendiri :

QS.Al-Baqaroh:256. “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);…”.

Dengan demikian, apabila seorang Muslim TIDAK RIDHO (tidak senang) terhadap Orang Lain/seseorang HANYA KARENA BERBEDA AGAMA, maka sesungguhnya ia (orang Muslim) tersebut telah MENJADIKAN PEMIMPIN terhadap kaum Dzalim Yahudi/Nasrani tersebut di atas.

Oleh karena itu berhati-hatilah bagi orang-orang yang telah pasrah (Muslim/Saliim/Islam) agar tidak terpancing dengan provokasi “Kafir” = PENEBAR KEBENCIAN DIANTARA SESAMA UMMAT MANUSIA. Karena Kebencian, Keserakahan, Kedzaliman, Fitnah, Ketidak Adilan adalah musuh bersama ummat Manusia…:).

/*————————————————————————–*/

DA’WAH NABI SAW ABAD 6-7 Masehi tentang ISLAM, SALAH SATUNYA PERINTAH MENJALANKAN AJARANNYA MASING-MASING KEPADA AHLI KITAB, TAURET, INJIL, AL-QUR’AN karena semuanya Termasuk MILLAH IBRAHIM ADALAH ISLAM (Bahakan Ajaran sejak Nabi Adam pun adalah ISLAM) :

QS.Ali-‘Imran:19. Artinya : “Sesungguhnya Agama (yang diridhai) di sisi ALLAH hanyalah ISLAM…”.

QS.Al-Maaidah.68. Artinya : “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”.

Continue reading TABAYYUN (TIDAK AKAN RIDHO)