Category Archives: NYUNGSI DIRI

Mengenal Diri, Balik Ka Jati Mulang Ka Asal

MENIMBANG PENGETAHUAN DZAHIR (Dunia) – PENGETAHUAN BATHIN (Akhirat).

Assalamu’alakum WrWb
Sampurasuuun…
Bismillahirrahmaanirrahiim
Segala puji bagi Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang..
Sholawat dan salam tercurah kepada Habiibana Wamabiyyana Muhammad SAW beserta kepada Ahlul-Bait Muhammad yang Alloh sucikan sesuci-sucinya(Al-Ahzab:33)..
Mohon izin kepada teman, saudara lainnya untuk berbagi kajian saya pribadi yang sedang dan selalu belajar serta haus akan ilmu pengetahuan :
MENIMBANG PENGETAHUAN DZAHIR (Dunia) – PENGETAHUAN BATHIN (Akhirat).
1). PENGETAHUAN DZAHIR (Dunia):
Segala informasi yang diperoleh melalui Mata (Alat Melihat Dunia), Telinga (Alat Mendengar Dunia), Hidung (Alat Penciuman Dunia), Mulut (Alat Merasa Dunia), Tangan-Kaki (Alat Peraba Dunia). Dengan kata lain ILMU PENGETAHUAN DZAHIR adalah Informasi yang telah diuji kebenarannya serta dapat diamalkan melalui PANCA INDRA.
2). PENGETAHUAN BATHIN (Akhirat).
Segala informasi yang diperoleh dengan Tidak Menggunakan Alat Mata, Telinga, Hidung, Mulut, Tangan dan Tidak Menggunakan Alat Kaki. Dengan kata lain ILMU PENGETAHUAN BATHIN adalah Informasi yang telah diuji kebenarannya serta diamalkan melalui INDRA KE-6 (DILUAR PANCA “5” INDRA).
Berikut dibawah ini menurut Al-Qur’an dan Al-Hadist :

Dalam Hadist dan QS.Ar-Rumm:7 di atas, “Mereka (banyak Manusia termasuk kaum Muslimin sendiri)” hanya Mengetahui/memiliki Ilmu Pengetahuan yang bersifat DZAHIR(Tekstual Al-Qur’an “ayat Qauliyah” difahami dalam bentuk Tatanan Syari’at-Thariqot/Fiqh, Sosial, Budaya, Ekonomi, Politik, Material) saja dari kehidupan DUNIA ini.
Sedangkan “Mereka (banyak Manusia termasuk kaum Muslimin sendiri)” terhadap Ilmu Pengetahuan BATHIN(Non Tekstual Al-Qur’an “ayat Kauniah” difahami, dihayati Hakikat sampai Ma’rifatnya) merupakan perkara kehidupan AKHIRAT adalah LALAI (Ghaafiluun) yang BERUJUNG pada pengingkaran terhadap “Pertemuan dengan Tuhannya” (Lakaafiruuun), QS.Ar-Rumm:8.
Ayat selanjutnya QS.Ar-Rumm:8 di atas, menyindir bagi “Mereka (banyak Manusia termasuk kaum Muslimiin sendiri) yang hanya mengetahui Pengetahuan Dzahir saja dari kehidupan Dunia ini QS.Ar-Rumm:7.” dengan ayat 8 dalam Surah tersebut, firmanNya : “Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka.”., dengan kata lain Untuk memperoleh Ilmu/menuntut Ilmu Pengetahuan AKHIRAT (Bathin), tiada lain dengan cara Memikirkan, Memperhatikan, Meneliti, Mengenali Diri Sendiri hal ini sejalan dengan keterangan :“Man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa Robbahu” artinya “Barangsiapa yang mengenal dirinya, PASTI mengenal Tuhannya”.
Adapun salah satu ringkasan materi tentang Pengetahuan akan diri Manusia, Leluhur Nusantara (Sunda) memiliki konsepPAPAT KALIMA PANCER dan TRIMURTINING DIRI. Berikut di bawah ini Ringkasannya yang dihubungkan dengan petunjuk tekstual Al-Qura’an :
Selamat Mengerjakan, Memikirkan, Memperhatikan, Meneliti untuk Mengenalinya.. semoga Sukses..
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat Dunia dan Akhirat..Amiiin
Rampeees, Rahayuuuu..
Wassalamu”alakum WrWb
Agus Wirabudiman
—————————
SALAH SATU Metodenya, ada dalam BACAAN TERKAIT : KENALILAH AKU Link https://www.facebook.com/notes/agus-wirabudiman/kenalilah-aku/10152212287011394/
Advertisements

GALUNGGUNG

GALUNGGUNG
——————-

Dalam Kitab Naskah Sunda Kuno, Amanat Rakean Darmasiksa atau disebut Prabu Sanghyang Wisnu yang bergelar Sang Paramartha Mahapurusa (Raja Sunda,1175-1297 Masehi) /atau yang disebut Amanat Galunggung Kropak 632, nama kata AGAMA sudah disebutkan “Jaga rampésna Agama” artinya : “Pelihara kesempurnaan Agama”.

Defisinisi kata Galunggung secara etimologi berarti “Galuh Hyang Agung /atau Permata Hyang Agung”.

Adapun pengertian menurut istilah, Galunggung adalah “Sebuah Pemerintahan yang Berdasarkan Keagamaan”.

Mengetahui definisi Galunggung tersebut di atas, mungkin pembaca dimasa sekarang akan bertanya..,

(1).Agama apa?. Jawabannya : “rampésna agama” (Naskah Galunggung, Kropak 632) artinya agama sempurana.

(2).Siapa nama Tuhannya?. Jawabannya : “Hyang Agung” (konsep HYANG).

(3).Siapa Nabi /Rasul /utusan Tuhan /atau utusan Hyang yang mengajarkannya?. Jawabannya : “Para Hyangan”.

(4). Apa Kitab Suci Tuhannya /Kitab Suci Hyangnya?. Jawabannya : “Sastra-Jendra-Rahayu-Ning-Rat”.

(5). Kemana arah kiblat untuk Sembahyangnya?.

Jawabannya : “untuk Sembah-Hyang, tempat kiblatnya ada didalam diri. Dalam diri terdapat SangHyang Taya, tempatnya SangHyang Pananyaan dan SangHyang Carita” (Naskah Sanghyang Raga Dewata, Kode dj66.2923/[06], dan Naskah Serat Dewa Buda“Gunung” /SDB Kropak 638).

(6). Bagaimana dengan banyaknya ditemukan, Lingga (Linggahyang, Lingga-Yoni), arca dewa-dewa di Tatar Sunda /Jawa Barat?.

Jawabannya : ada didalam Naskah SDB 39r: 2—4 dan 39v: 1—2 :

39v:2,”…Demikianlah bermacam keluarnya tujuan dalam impian, diwujudkan semuanya

39v.1-2. oleh tujuan ketika itu, dikeluarkan semuanya gambaran itu, meragakan Siwa, Buddha, Brahma, Wisnu, raksasa, pitara, ditempatkan dalam puspalingga dan 2.arca. Itulah sebabnya terdapat Hyang dalam tujuan dunia seluruhnya dalam waktu…” (Ayatrohaedi 1988: 176).[1]

SDB menyatakan bahwa prana adalah indra, adalah kehidupan adalah tujuan (acuan), dan acuan hidup itu ialah Hyang (Sang Hyang Taya). Dalam lingkungan seluruh dunia selalu terdapat Hyang sebagai acuan. Dewa-dewa Hindu dan Buddha dinyatakan hanyalah Visualisasi dari tubuh (raga) dalam mimpi, jadi semu agar menjadi konkret kemudian “ditempatkan dalam puspalingga dan arca”.[1]

Gambaran /atau Visualisasi /atau Symbol/Sandi RAGA adalah Puspa(Bunga)Lingga dan Arca. Apabila arah kiblat Sembah Hyang tempatnya didalam Diri (Sanghyang Taya), maka tempat arah kiblat Symbol-nya adalah dimana PuspaLingga dan Arca tersebut di Letakkan.

Adapun lokasi Gunung /Bukit /pedataran dimana pun PuspaLingga, arca, dolmen, menhir /Tunggul itu di Tempatkan, maka gunung/bukit tersebut secara khusus disebut dengan KaBuyutan. Dengan demikian makna KaBuyutan memiliki 2 (dua) arti, pertama KaBuyutan arti Sejati adalah Diri(tempat Sembah Hyang), kedua KaBuyutan arti Ragawi adalah teritorial/wilayah dimana Simbol Ragawi baik Puspalingga, Arca, dolmen, menhir, Tunggul/makam tersebut ditempatkan.

Semakin bertambah dan berkembangnya aktivitas manusia, maka Kabuyutan pun menjadi pusat berbagai aktivitas sesuai fungsinya.

Dengan demikian dapat difahami bahwa :

Kabuyutan adalah Sebuah lokasi atau tempat yang disakralkan menurut aturan, seperti: keraton atau istana raja, kabataraan sebagai lembaga kaum rama, kawikwan sebagai lembaga golongan resi, mandala sebagai lembaga pendidikan, tempat peribadatan dan keagamaan, tempat pemakaman, dan sebagainya.[2]

PUSPALINGGA

[1]Aditia Gunawan; mengutip kajian dari Ayatrohaedi : Tinjauan Napas Keagamaan Hindu-Buddha Dalam Beberapa Naskah Sunda Kuno (Abad Ke-14—16 M).

[2]Undang A. Darsa; KONSEPSI DAN EKSISTENSI GUNUNG BERDASARKAN TRADISI NASKAH SUNDA (Sebuah Perspektif Filologi). UADarsa-FIBU-1432014. Hal. 16

kahatur kang Undang A. Darsa , kang Aditia Gunawan

neda Widi..dikutip janten Referensi..

_/|\_, hatur nuhuuun

Baktos pun

Agus Wirabudiman