RINGKASAN PERJALANAN “YAVADVIPA” (GALUNGGUNG) (3.300 SM – 702 M)

Oleh Agus Wirabudiman
Assalamu’alaikum Wr Wb
SAMPURASUUN…
Nama “Yavadvipa”, disebutkan dalam Literatur Sangsekerta, Epik Ramayana (Valmiki/Walmiki), sekitar 1.500 SM.
Sudrajat, 2012, menuliskan : Sejak ribuan tahun sebelum Masehi, di India telah berkembang kebudayaan besar di Lembah Sungai Indus. Dua pusat kebudayaan di daerah tersebut adalah ditemukannya dua kota kuno yakni di Mohenjodaro dan Harappa (3.300-2.600 SM). Pengembang dua pusat kebudayaan tersebut adalah bangsa Dravida. Pada sekitar tahun 1.500 SM, datanglah bangsa Arya dari Asia Tengah ke Lembah Sungai Indus. Bangsa Arya datang ke India dengan membawa pengaruh tulisan, bahasa, teknologi, dan juga kepercayaan. Kepercayaan bangsa Arya yang dibawa adalah Veda (Weda) yang setelah sampai di India melahirkan agama Hindu (Sanata Dharma /Vedic Dharma /Vedantist”pengikut Weda”).
BANGSA ARYA Dari ASIA TENGAH, Digambarkan Dari Sejarah Situs Lembah Indus, sebagai Pembawa budaya, TULIS, BAHASA, TEKNOLOGI dan KEPERCAYAAN VEDA(Weda).

 

Para ahli tidak ada yang dapat memastikan kapan lahirnya Bahasa Weda/Sangsekerta itu.
—-
KITAB SET /SIT /SITA (WEDA/ILMU) :
===============================
DALAM Epik Ramayana menunjukan, Rama (berkulit putih) = Bangsa Arya berhasil mengalahkan Rahvuvana (berkulit hitam)/Bangsa Dravida. Bangsa Arya datang ke India dengan membawa pengaruh tulisan, bahasa, teknologi, dan juga kepercayaan. Kepercayaan bangsa Arya yang dibawa adalah Veda (Weda) yang setelah sampai di India melahirkan agama Hindu. Bahasa Veda(Weda) adalah Sangsekerta. Bahasa Sangsekerta adalah Bahasa Veda(Weda).
Dalam Literatur Veda/Weda (Sangsekerta) sendiri, Rama memerintahkan Sugriva dan pasukannya untuk mencari Sita(Vada/Weda) ke pulau “Yavadvipa”. Rama berhasail mengambil Sita(Veda/Weda) dari Rahuvana di “YAVADVIPA”.
GARMBARAN PERLAKUAN BANGSA ARYA Yang telah Merebut KITAB VEDA(WEDA) dari BANGSA DRAVIDA, Sama Dengan PERLAKUAN RAMA TERHADAP SITA.
Agus Sunyoto menuliskan dalam bukunya RAHUVANA TATTWA : Sebagai Ksatriya agung, Rama dikisahkan telah melakukan kecurangan yang keji: membokong Bali dengan bidikan panah dari arah belakang ketika raja Ksihkindha itu sedang berkelahi dengan adiknya, Sugriva. Lepas dari upaya pembenaran apologis yang dilakukan Valmiki atas peristiwa itu, tokoh Bali dan pembaca yang kritis layak menyesalkan tindakan curang Rama yang sangat tidak Kshatriya itu. Pada bagian Yuddhakandha, Rama secara mengherankan dikisahkan berbuat melampaui batas, yaitu membiarkan Sita mengunjungi kesetiaan diri dengan membakar diri di atas kobaran api. Belum puas dengan membiarkan tindakan Sita itu, dalam Uttarakandha, Rama digambarkan masih mengusir Sita yang sedang hamil ke hutan hingga istri malang itu tinggal di pertapaan Valmiki. Bahkan ketika Sita melahirkan anak kembar Kusa dan Lava dan saat anak-anak tersebut dewasa, Rama masih belum mempercayai kecusiannya. Akhirnya, Sita yang mungkin sudah putus asa karena terus menerus tidak dipercaya suaminya meminta bumi menelan tubuhnya sebagai bukti kesuciannya. Dan akhirnya hayat Sita yang tragis memang dikisahkan “tertelan” oleh bumi ketika peristiwa gempa.
Fakta Historisya :

Continue reading RINGKASAN PERJALANAN “YAVADVIPA” (GALUNGGUNG) (3.300 SM – 702 M)

Advertisements

PRABU SILIWANGI DAN KISANTANG, KISAH NAGARA TARAJU JAWADWIPA (Nama Lain Nagara Pajajaran Dahulu), 526 M–1521 M (995 TAHUN)

PRABU SILIWANGI DAN KISANTANG

KISAH NAGARA TARAJU JAWADWIPA 526 M–1521 M (995 TAHUN)

(Nama Lain Nagara Pajajaran Dahulu)

Oleh Agus Wirabudiman

Banten adalah daerah yang terletak di ujung barat pulau Jawa, Kerajaan Banten yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Padjajaran yang kemudian diambil alih oleh Kesultanan Cirebon (Abad 15-16 M). Prabu Siliwangi memiliki beberapa putra dan putri diantaranya adalah Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang keduanya adalah putra dan putri kesayangan sang Prabu, Raden Kian Santang terkenal dengan Kesaktiannya yang luar biasa. Raden Kian Santang Putra Prabu Siliwangi terkejut ketika didalam mimpinya ada serang Kakek berjubah yang mengatakan bahwa ada seorang manusia yang sanggup mengalahkannya dan kakek tersebut tersenyum. Mimpi itu terjadi beberapa kali hingga Raden Kian Santang bertanya – tanya siapa orang itu, dalam mimpi selanjutanya sang kakek menunjuk ke arah lautan dan berkata orang itu di sana… Penasaran dengan mimpinya Raden Kian Santang meminta ijin kepada ayahandanya Prabu Siliwangi untuk pergi menuju seberang lautan. Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang setelah memperoleh ijin dari Prabu Siliwangi, pergi dan menemui kakek tua disabrang lautan itu, kaek tua tersebut tiada lain adalah Baginda ‘Ali Kw shabat sekaligus kemenakan Nabi Muhammad SAW. Lalu Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh kepada beliau, Dalam perjalanannya Raden Kian Santang kembali ke pulau Jawa dan menyebarkan Islam di daerah Garut hingga meninggalnya.(Babad Banten-1)[1]

Garut adalah daerah yang terletak disebelah timur tenggara pulau Jawa Barat, berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya sekarang. Di daerah Garut sendiri memiliki kisah yang sama dengan Babad Banten (Prabu Siliwangi, Keyan Santang, Baginda ‘Ali Kw). Kisah seorang tokoh yang bernama Keyan Santang: putra Raja Padjajaran Sewu. Prabu Siliwangi, yang gagah perkasa kemudian masuk Islam. Ia menyebarkan agama baru yang dianutnya itu di Pulau Jawa dan menetap di Godog. Suci Kecamatan Karangpawitan Garut sampai akhir hayatnya. Nama-nama lain yang disandang tokoh itu adalah Gagak Lumayung, Garantang Sentra. Pangeran Gagak Lumiring. Sunan Rakhmat, dan Sunan Bidayah. Keyan Santang sendiri diyakini sebagai putra mahkota pewaris Kerajaan Pajajaran Sewu yang gagah perkasa tidak ada yang berani menandinginya. Namun kesaktiannya itu tidak berarti apa-apa ketika Keyan Santang bertemu berhadapan dengan Baginda Ngali (Sayyidina ‘Ali Kw) yang kemudian memeluk ajaran Islam sekaligus menjadi salah satu Sahabat Nabi Muhammad SAW (570-632 M) dan Keyan Santang berganti nama menjadi Sunan Rakhmat. Setelah bukti-bukti lengkap bahwa Keyan Santang telah diangkat sebagai wakil Nabi SAW di Pulau Jawa dan bertugas menyebarkana agama Islam. Prabu Siliwangi menolak bahkan tidak mau memeluk Islam (pindah Agama). Kemudian dengan jalan menembus bumi raja Padjadjaran itu pergi dari Padjadjaran Sewu. Sementara itu para bangsawan Padjadjaran bersalin rupa menjadi bermacam-macam jenis harimau. Sedangkan keraton dengan serta merta berubah menjadi hutan belantara. Konon harimau-harimau itu menju hutan Sancang mengikuti Prabu Siliwangi.

Waktu akan pulang lagi ke Jawa, Sunan Rakhmat dibekali tanah Mekah yang dimasukan ke dalam peti. Di dalam peti itu diletakkan pula sebuah buli-buli berisi air zam-zam. Selain itu Sunan Rakhmat diberi hadiah kuda Sembrani oleh ratu Jin dan Jabalkop. Pesan Nabi Muhammad kepada Sunan Rkhmat ialah bila peti itu gesah (bergoyang) di suatu tempat di Pulau Jawa, maka itulah tandanya Sunan Rakhmat mesti berhenti. Di sanalah ia mesti bermukim (tinggal tetap disana). Adapun menurut yang empunya cerita, tempat bergoyangnya peti itu di Godog. Itulah sebabnya Sunan Rakhmat yang nama aslinya Keyan Satang dimakamkan di Godog. Karangpawitan Garut.

Kisah Keyan Santang dengan Sayyidina ‘Ali Kw dan Nabi Muhammad SAW ini terdapat dalam Naskah Babad Godog, asal pemilik Encon, Asal naskah : Desa Cangkuang Kec. Leles, Ukuran naskah : 16 x 20.5 cm, Ruang tulisan : 15 x 18 cm, Keadaan naskah : baik, Tebal naskah : 71 Halaman, Jumlah baris per halaman : 15 baris, Huruf : Arab/Pegon, Bahan naskah : kertas daluang, Warna kertas : coklat kekuning-kuningan, Keadaan kertas : agak tebal, Cara penulisan : timbal balik, Bentuk karangan : puisi (tembang).[2] Babad Godog yang ditulis sekitar Abad 19 M.

Babad Banten dan Babad Godog (Garut) mengisahkan pertemuan Keyan Santang /atau Raden Kian Santan bertemu dengan Sayyidina ‘Ali Kw dan belajar Islam dari Sayyidina ‘Ali Kw. Sementara Babad Godog lebih jauh menceritakan pertemuan Keyan Santang bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dan memperoleh pesan dari Nabi SAW (Al-Hadist) agar Keyan Santang menetap tinggal di Godog, Garut sekarang. Babad Godog maupun Babad Banten menceritakan ketidak berhasilan Keyan Santang (Raden Kian Santang) dalam mengislamkan Raja Pajajaran (Prabu Siliwangi), bahkan Babad Godog mempertegas! bahwa Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran Sewu) tidak memeluk agama baru yang dianut anaknya Keyan Santang dengan menceritakan bahwa Prabu Siliwangi dan bangsawan Pajajaran lainnya bersalin rupa menjadi macam-macam jenis harimau yang lari kehutan Sancang.

Begitu pun Babad Tanah Sunda /Babad Cirebon yang disusun oleh P.S. Sulendraningrat, menceritakan kisah Raja Pajajaran di Tanah Sunda bernama Sri Sang Ratu Dewata Wisesa, mashur disebut Sri Mahaprabu Siliwangi digambarkan Raja yang tidak memeluk Islam (non Muslim) sehingga mengusir anaknya bernama Walangsungsang untuk pergi dari kraton. Dikisahkan awalnya Walangsungsang[3] pun “bermimpi bertemu dengan seorang lelaki yang elok dan agung memberi wejangan agama Islam sarengat Jeng Nabi Muhammad yang ajdi Utusan Yang Widi”. Walangsungsang sendiri adalah buah pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyi Subang Larang.[4] Babad Cirebon dan Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari[5] yang ditulis oleh Pengeran Arya Cirebon pada tahun 1720 M (Abad 18 M)[6] hendak mebuka jalan baru dari kisah nama besar Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran), dimana Prabu Siliwangi seolah telah memeluk sarengat (syari’at) agama Islam dengan meceritakan bahwa nama lain Prabu Siliwangi adalah Raden Manah Rarasa (Pamanah Rasa) yang menikahi Nyi Subang Larang (seorang Muslimah) putri Ki Gedeng Tapa. Prabu Siliwangi dari pernikahannya dengan Nyai Subanglarang, ia mempunyai tiga orang anak, yaitu Pangeran Walangsungsang, Nyai Lara Santang, dan Raja Sangara. Raden Pamanah Rasa dijadikan Raja Sindangkasih dengan gelar Prabu Siliwangi. Selang beberapa waktu lamanya, Prabu Siliwangi dinobatkan menjadi Maharaja di Pakwan Pajajaran bergelar Pabu Dewatawisesa dan tinggal di keraton Sang Bima bersama istrinya Nyai Subanglarang (Carita Purwaka Caruban Nagari, Bagian-3).

Menurut para pakar sejarah Sunda, nama Siliwangi sebagai tokoh historis tidak terdapat dalam sumber-sumber historis primer. Nama “Siliwangi” tersebut hanya ada dalam naskah sastra dan dalam naskah sastra sejarah (babad) yang termasuk jenis historiografi tradisional. Salah satu sifat historiografi tradisional adalah mencampuradukkan kebenaran historis dengan kebenaran legendaris. Artinya, aspek sastra berbaur dengan aspek sejarah, sehingga Teeuw menyebutnya sebagai karya sastra sejarah. Ekadjati menyatakan hal yang sama dengan Teeuw. Menurut Ekadjati berdasarkan pada bukti-bukti historis yang ada, tokoh (Prabu) Siliwangi bukanlah tokoh historis melainkan tokoh sastra sejarah. Artinya, menurut Ekadjati pula, tokoh itu ada tetapi keberadaannya sudah dibumbui unsur sastra dan legenda.[7]

Mumuh Muhsin Z, mengatakan : Bila ada yang berpendapat bahwa Prabu Siliwangi adalah tokoh mitos karena hanya tercantum dalam sumber-sumber naskah atau historiografi tradisional, hendaklah diingat bahwa mitos jangan diabaikan sebagai sumber sejarah. Mitos adalah fakta mental. Mitos pun dapat dikategorikan sebagai sejarah “intelektual”. Dengan demikian, dalam batas tertentu mitos bisa jadi sumber sejarah. Hasil dari kajian sekaligus perbandingan terhadap sejumlah sumber dan dengan mempraktikkan teknik kolaborasi (Purwaka Caruban, Naskah Pamarican, Waruga Jagat, Babad Pajajaran, Carita Parahiyangan, dan Babad Siliwangi) yang dilakukan oleh Saleh Danasasmita (2003: 142 – 143) tampaknya pendapat yang lebih kuat dan menyandar pada sumber yang kuat pula, Prabu Siliwangi itu hanya satu dan identik dengan tokoh raja yang bernama Prabu Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja yang berkuasa sebagai raja Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran pada 1482 – 1521.[8]

Siapa Sayyid Syarif Hidayat ?. Menurut sumber-sumber tradisi, Syarif Hidayat adalah putera Nyai Rara Santang dari hasil pernikahannya dengan Sultan Mahmud (Syarif Abdullah). Nyai Rara Santang adalah anak Ki Gedeng Tapa. Ia dilahirkan tahun 1404 Masehi dan nikah pada tahun 1422 Masehi. Nyai Rara Santang sendiri lahir tahun 1426 Masehi. Di atas disebutkan bahwa Walangsungsang bergelar Cakrabuwana beserta adiknya yang bernama Nyai Rara Santang pergi berguru kepada Syakh Datuk Kahfi yang sudah bermukim dan mendirikan perguruan agama Islam di Bukit Amparan Jati. Atas saran Syekh Datuk Kahfi, Cakrabuwana beseta Nyai Rara Santang pergi menunaikan ibadah haji. Setelah melaksanakan ibadah haji, Cakrabuwana mendapat gelar Syekh Duliman atau Abdullah Iman, sedangkan Nyai Rara Santang mendapat gelar Syarifah Mudaim.[9] Diceritakan bahwa Syarifah Mudaim ketika masih di Makkah dinikahi oleh Sultan Mahmud atau Syarif Abdullah. Ia adalah anak dari Nurul Amin dari wangsa Hasyim yang nikah dengan puteri Mesir. Hasil dari pernikahan Syaifah Mudaim dengan Sultan Mahmud ini lahirlah Syarif Hidayat. Syarif Hidayat lahir di Makkah pada tahun 1448 Masehi.[10]

Setelah dewasa, Syarif Hidayat kembali ke tanah leluhur ibunya, Tanah Sunda. Dalam perjalanan pulang dari Mesir ke Tanah Sunda, Syarif Hidayat singgah di beberapa tempat, yaitu Gujarat, Pasai, Banten, dan Gresik. Tempat-tempat ini terkenal sebagai pusat penyebaran agama Islam di Indonesia. Ketika singgah di Pasai, Syarif Hidayat bermukim agak lama. Ia berguru kepada Syekh Ishak, ayah Sunan Giri. Ketika singgah di Banten didapatkannya di daerah itu sudah ada yang menganut Islam berkat upaya dakwah Sunan Ngampel. Dari Banten, Syarif Hidayat pergi ke Ampel Denta (Gresik) untuk menemui Syekh Rahmat (Sunan Ngampel) yang sudah terkenal sebagai guru agama Islam di Pulau Jawa.[11] Sunan Ngampel, sebagai pemimpin Islam di Pulau Jawa, memberi tugas kepada Syarif Hidayat untuk menjadi guru agama dan menyebarkan Islam di Bukit Sembung (Cirebon). Memenuhi perintah Sunan Ngampel tersebut, Syarif Hidayat pergi ke Cirebon dan tiba di sana tahun 1470 Masehi. Sejak itu ia mendapat gelar Maulana Jati atau Syekh Jati[12], atau Sunan Gunung Jati.

Masalah selanjutnya, benarkah Prabu Siliwangi /Prabu Jayadewata /Sri Baduga Maharja Raja Sunda-Galuh (Pajajaran, tahun 1482-1521 Masehi) adalah seorang Muslim (menjalankan Syari’at Islam)?. Dalam Naskah Sunda Kuna Kropak 406, Carita Parahyangan yang ditulis sekitar akhir Abad-16 M jauh sebelum Purwaka Caruban Ngari (Abad-18 M), diceritakan bahwa Ratu Jayadewata ngahyang setelah bertahta selama 39 tahun, pemerintahannya mempertahankan “Ngukuhan Purbatisti Purbajati” sehingga keadaan Negara tentram sentosa, gemah ripah loh jinawi, kecuali keluarga yang melanggar Sanghyang siksa, (*/-Tan kreta ja lakibi dina urang réya, ja loba di Sanghiyang Siksa.-/*) Artinya (*/-Tidak akan merasa bahagia keluarga dimasyarakat, karena melanggar Sanghyang Siksa.-/*). Apa itu Sanghyang Siksa?. Sanghyang Siksa adalah Tuntunan/Ajaran/Hukum Sanghyang (ajaran Hyang) /atau semacam Undang-undang yang diterapkan pada masa Prabu Siliwangi /Prabu Jayadewata Sri Baduga Maharaja (1482-1521 M).

Selengkapnya, Dowload PRABU SILIWANGI DAN KISANTANG.pdf (Jumlah 35 Halaman)

[1] Babad Banten-1, Diperbarui: 26 Juni 2015 : http://www.kompasiana.com/jiddan/babad-banten-bag-1_54ff7a3da33311404c5102ce , Diakses 16 Agustus 2016, 11:49 WIB

[2] Babad Godog, Pendataan Data Dan Profil Kepariwisataan Kabupaten Garut.

[3] Nama Walangsungsang adalah nama kecil yang diberikan Prabu Siliwangi kepada putra sulungnya. Pada perkembangannya, setelah Walangsungsang menemukan guru agama Islam serupa dengan amanat dari ibunda Subang Larang, kemudin nama Walangsungsang berganti menjadi Ki Somadullah setalah masuk Islam. Gelar tersebut diberikan berkat usahanya dalam membuka kawasan Cirebon, lokasi pusat peradaban Cirebon yang sekarang di daerah Lemah Wungkuk, setelah Walangsungsang diberi tugas sebagai Pangraksabumi mendampingi Kuwu I Ki Danusela, yaitu pengurus yang menangani bidang pertanian dan perikanan sehingga Walangsungsang diberi Gelar Ki Cakrabumi (Cakrabuawa). Lihat. Rafan S. Hasyim, dkk, Cariyos Walangsungsang, (Bandung-Jawa Barat: DISBUDPAR, ), hlm. 75-76.

[4] P.S. Sulendraningrat, Babad Tanah Sunda/Babad Cirebon, Hal. 5

[5] Danasasmita, Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi. Bandung: Girimukti. 2003. Hal. 65.

[6] Dalam administrasi pemerintahan kolonial, Pangeran Aria Cirebon diangkat sebagai bupati wedana pada 9 Februari 1706. Dalam sumber kolonial jabatan Pangeran Aria Cirebon disebut sebagai “Opsigter en Regent over alle de Prianganse landen en imworders” (Atja, 1986: 17)

[7] Herlina Lubis, Nina. 2000. Tradisi dan Transformasi Sejarah Sunda. Bandung: Humaniora Utama Press. Hal. 81.

[8] Mumuh Muhsin Z., PRABU SILIWANGI Sejarah atau Dongeng?. Makalah disampaikan dalam Dialog Interaktif “Revitalisasi Nilai-Nilai Budaya Masyarakat Tatar Sunda” (Nyusur Galur Mapay Raratan, Ngaguar Warisan Karuhun Urang); diselenggarakan oleh Bank Indonesia Kantor Regional Jabar-Banten bekerja sama dengan Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat dan JITUJI, pada tanggal 20 Mei 2011, bertempat di Gedung BI Perwakilan Jawa Barat, jl. Perintis Kemerdekaan Bandung.

[9] Atja, 1972: 48-49

[10] Mumuh Muhsin Z. Op.Cit., hal. 7-8. dapat dilihat juga menurut Nina H Lubis, dkk, Sejarah Perkembangan Islam Di Jawa Barat, hal. 19.

[11] Ekadjati, 1975: 92.

[12]Nina H Lubis, dkk. Op.Cit, hal. 20.

 

GALUNGGUNG=JAWADWIPA

GALUNGGUNG=JAWADWIPA

Yavadvipa (JAWADWIPA):

The island of Java was the earliest island within Indonesia to be identified by the geographers of the outside world. “Yavadvipa” is mentioned in India’s earliest epic, the Ramayana dating to approximately 5th–4th century BC. It was mentioned that Sugriva, the chief of Rama’s army dispatched his men to Yawadvipa, the island of Java, in search of Sita.[1]

|

Suvarnadvipa (SWARNADWIPA):

|

Suvarnadvipa, “Golden Island”, may have been used as a vague general designation of an extensive region in Southeast Asia, but over time, different parts of that area came to be designated by the additional epithets of island, peninsula or city.[2] In contrast the ancient name for the Indian subcontinent is Jambudvipa. In ancient Indonesia, the name Suvarnadvipa is used to designate Sumatra island; as counterpart of neighbouring Javadvipa or Bhumijava (Java island). Both Java and Sumatra are the principal islands in Indonesian history.

|

Iabadiu

The great island of Iabadiu or Jabadiu was mentioned in Ptolemy’s Geographia composed around 150 CE in the Roman Empire. Iabadiu is said to mean “barley island”, to be rich in gold, and have a silver town called Argyra at the west end. The name indicated Java,[3] and seems to be derived from the Hindu name Java-dvipa (Yawadvipa). Despite the name’s indicating Java, many suggest that it refers to Sumatra instead.[3]

JAWADWIPA : Dalam Naskah Carita Parahyangan (CP),

“Tembey Sang Resi Guru ngajuga taraju Djawa dipa “Jawadwipa”, taraju ma inya Galunggung, Jawa ma ti wétan”.

Artinya : “Mula-mula Sang Resi Guru membangun pengukuh (bobot) pulau Jawa, yaitu Galunggung, Jawa ada di sebelah Timurnya”.(Drs.Atja, Tjarita Parahiyangan, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung, 1968, Hal. 8 )

Nama kata istilah Jawadipa /Jawadwipa yang diceritakan dalam Carita Parahyangan (Abad-16), ternyata sudah diceritakan /disebutkan terlebih dahulu Berita Fa Hien, tahun 414 M (Abad-5) dalam bukunya yang berjudul Fa Kao Chi. Ye Po Ti selama ini sering dianggap sebutan Fa Hien untuk Jawadwipa (Galunggung).[4]

[1]History of Ancient India Kapur, Kamlesh https://books.google.co.id/books?id=9ic4BjWFmNIC&pg=PA465&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false

[2]Ancient India’s Colonies in the Far East Vol 2, Dr. R. C. Majumdar, Asoke Kumar Majumdar (1937) p. 46

[3]J. Oliver Thomson (2013). History of Ancient Geography. Cambridge University Press. pp. 316–317. ISBN 9781107689923. Retrieved 25 August 2015.

[4]GALUNGGUNG(2) https://sukapura.wordpress.com/2017/04/16/galunggung2/

Baca Juga :

http://www.sukapura.id/tidak-ada-kerajaan-hindu-di-nusantara/

GALUNGGUNG(2)

Assalamu’alaikum Wr Wb
Sampurasuun!.
Dalam pembahasan ini, penulis terinpirasi dari pertanyaan teman saya Kang Dera yang menulis sebagai berikut :
Kang Dera menulis : Cik Manawi Aya Nu Tiasa Ngawaler,.Kieu, Dina Naskah Amanat Galunggung Nyatana Nu Kedah Diwaspadai Direbutna Kabuyutan Galungguggung Teh Eta salah Sawiosna Ku Sunda, Jawa, Baluk, Lampung, Cina & orang Asing…( Cik Kan Kunaon Tah? Aya Sunda An).. Manawi Kapugkurna Peta Sosial Politik Zaman Harita Rupina Aya Perbedaan Karakter Antara Sunda & Galunggung. Mangga..Haturan Sepuh.
//——————–
Kang Dera menulis : pertanyaaannya ialah apa yg melatar belakangi maksud dr petikan kieu dina naskah : jaga dapetna pretapa 8 dapetna pegengeun sakti, beunangna (ku) Sunda, Jawa, La(m) pung, Ba- luk, banyaga nu dék ngarebutna kabuyutan 9 na Galunggung,..(( 8.Pretapa dapat berarti: sinar (kekuatan), cahaya, pancaran, perbawa, kemuliaan, kewibawaan, pengaruh, kuasa.))
Petikan masalah pertanyaan tersebut di atas itu terdapat dalam Naskah AMANAT DARI GALUNGGUNG (Kropak 632 dari Kabuyutan Ciburuy, Bayongbong-Garut) Oleh : Drs. Atja & Drs. Saleh Danasasmita PROYEK PENGEMBANGAN PERMUSIEUMAN JAWA BARAT 1981.
Oleh karena itu, penulis akan mencoba menjawab/menjelaskannya pada tulisan ini dengan Judul GALUNGGUNG (2).
PENJELASAN :
=============
Pada bagian III rekto : Artinya : //—Dunia kemakmuran tanggung jawab sang rama(Ka-RAMA-an), dunia kesejahteraan hidup tanggung jawab sang resi(Ka-RESI-an), dunia pemerintahan tanggung jawab sang prabu(Ka-PRABU-an).
Sebelum menjelaskan TRI TANGTU (RAMA-RESI-PRABU) di atas, pada I rekto, I verso, menyebutkan :
//– yaitu bila sewaktu-waktu kelak ditinggalkan oleh para rama dan para resi,
—TIDAK disebutkan “prabu”-nya. Akan tetapi sewaktu-waktu kelak ditinggalkan oleh Para-Rama dan Para Resi saja…
Sebagaimana pada bagian dibawah ini :
Terdapat pada bagian  I rekto, I verso :
//–jaga dapetna pretapa dapetna pegengön sakti, bönangna (ku) Sunda, Jawa, La(m)pung, Ba-luk, banyaga nu dék ngarebutna kabuyutan na Galungung, asing iya nu mönangkön kabuyutan na Galunggung, iya sakti tapa, iya jaya prang, iya höböl. nyéwana, iya bagya na drabya sakatiwatiwana, iya ta supagi katinggalan rama-resi,
Artinya : //–Waspadalah. kemungkinan direbutnya kemuliaan (kewibawaan, kekuasaan) dan pegangan kesaktian (kejayaan) oleh Sunda, Jawa, Lampung, Ba-luk, para pedagang (orang asing) yang akan merebut kabuyutan di Galunggung. Siapa pun yang dapat menguasai kabuyutan di Galunggung, ia akan memperoleh kesaktian dalam tapanya, ia akan unggul perang, ia akan lama Berjaya, ia akan mendapat kebahagiaan dari kekayaan secara turun-temurun, yaitu bila sewaktu-waktu kelak ditinggalkan oleh para rama dan para resi,
—-
//–jaga bönangna kabuyutan ku Jawa, ku Baluk, ku Cina, ku Lampung, ku sakalian, muliyana kulit di jaryan, madan na rajaputra, antukna boning ku sakalaih,
Artinya : //–Cegahlah terkuasainya kabuyutan oleh Jawa, oleh Baluk, oleh Cina, oleh Lampung, oleh yang lainnya. Lebih berharga nilai kulit lasun di tempat sampah dari pada rajaputra (bila kabuyutan) akhirnya jatuh ke tangan orang lain.
———————————————-
ADA 2 PERKARA penting UNTUK DI JAGA/DIPERTAHANKAN dalam Amanat Galunggung Tersebut di atas agar tidak di kuasai oleh SUNDA, JAWA, LAMPUNG, BALUK, CINA, PIHAK ASING, salahsatunya adalah untuk menjaga :
(1). ILMU GALUNGGUNG. Artinya : //–Waspadalah. kemungkinan direbutnya kemuliaan (kewibawaan, kekuasaan) dan PEGANGAN KESAKTIAN (kejayaan) oleh Sunda, Jawa, Lampung, Ba-luk, para pedagang (orang asing) yang akan merebut kabuyutan di Galunggung. Siapa pun yang dapat menguasai kabuyutan di Galunggung, ia akan memperoleh kesaktian dalam tapanya, ia akan unggul perang, ia akan lama Berjaya, ia akan mendapat kebahagiaan dari kekayaan secara turun-temurun, yaitu bila sewaktu-waktu kelak ditinggalkan oleh para rama dan para resi.
(2). KABUYUTAN GALUNGGUNG. Artinya : //–Cegahlah terkuasainya kabuyutan oleh JAWA, oleh BALUK, oleh CINA, oleh LAMPUNG, oleh yang lainnya. Lebih berharga nilai kulit lasun di tempat sampah dari pada rajaputra (bila kabuyutan) akhirnya jatuh ke tangan orang lain..
PERTAMA : Yang menjadi masalah dalam pembahasan SEKARANG adalah kata SUNDA sendiri, sementara yang kita kenal tentang SUNDA dari para ahli sejarah jaman sekarang menyebutkan bahwa Prabu Darmasiksa sendiri (yang menyampaikan amanat tersebut) adalah salah satu Raja SUNDA “Orang Sunda” sendiri?. Itu mungkin salah satu titik FOKUSnya, sehingga untuk makna NAMA yang lain seperti JAWA, BALUK, LAMPUNG, CINA dll dengan sendirinya pula dapat terjelaskan.
KEDUA : Mengapa harus dipertahankan KABUYUTAN di GALUNGGUNG?, begitu sakralnya KABUYUTAN di Galunggung, sehingga di katakan (“Siapa pun yang dapat menguasai kabuyutan di Galunggung, ia akan memperoleh kesaktian dalam tapanya, ia akan unggul perang, ia akan lama Berjaya, ia akan mendapat kebahagiaan dari kekayaan secara turun-temurun, yaitu bila sewaktu-waktu kelak ditinggalkan oleh para rama dan para resi.”).
Oleh karena itu, untuk memahami kalimat dalam amanat Galunggung (“//–jaga dapetna pretapa dapetna pegengön sakti, bönangna (ku) Sunda, Jawa, La(m)pung, Ba-luk–//”). Harus memahami dulu kedalaman :
  1. Apa itu GALUNGGUNG?
  2. ILMU GALUNGGUNG (Pegangan/Ageman)?.
  3. KABUYUTAN GALUNGGUNG?.
———————————————–
PENJELASAN PERTAMA 1. APA ITU GALUNGGUNG?
Defisinisi kata Galunggung secara etimologi berarti “Galuh Hyang Agung /atau Permata Hyang Agung”. Adapun pengertian menurut istilah, Galunggung adalah “Sebuah Pemerintahan yang Berdasarkan Keagamaan”.[1]
Dalam amanat Galunggung sendiri, nama kata Galunggung di hubungkan dengan //–jaga dapetna pretapa dapetna pegengön sakti–//, PRETAPA sebagaimana yang telah ditulis oleh kang Dera di atas memiliki arti ((8.Pretapa dapat berarti: sinar (kekuatan), cahaya, pancaran, perbawa, kemuliaan, kewibawaan, pengaruh, kuasa.)).
Sementara membahas Pemerintahan tentang periode Galunggung, dalam Buku Hari Jadi Tasikmalaya tahun 1978, menguraikan Galunggung dengan membagi kedalam 2 bagian, pertama Galunggung Awal ialah Galunggung yang disebutkan dalam Carita Parahyangan dan Pustaka Nagara Kertabumi. Uraian yang kedua disebut Galunggung Akhir ialah Galunggung yang dikaitkan dengan Prasasti Geger Hanjuang (tahun 1111 M).
Pengertian GALUNGGUNG = JAWADWIPA :
Dalam Naskah Carita Parahyangan (CP),
“Tembey Sang Resi Guru ngajuga taraju Djawa dipa “Jawadwipa”, taraju ma inya Galunggung, Jawa ma ti wétan”.
Artinya : “Mula-mula Sang Resi Guru membangun pengukuh (bobot) pulau Jawa, yaitu Galunggung, Jawa ada di sebelah Timurnya”.(Drs.Atja, Tjarita Parahiyangan, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung, 1968, Hal. 8 )
Nama kata istilah Jawadipa /Jawadwipa yang diceritakan dalam Carita Parahyangan (Abad-16), ternyata sudah diceritakan /disebutkan terlebih dahulu Berita Fa Hien, tahun 414 M (Abad-5) dalam bukunya yang berjudul Fa Kao Chi. Ye Po Ti selama ini sering dianggap sebutan Fa Hien untuk Jawadwipa (Galunggung).[2]
FUNGSI GALUNGGUNG = “Ngabiseka Prabu-Pabu/Raja-raja”.
Danghyang Guru lainnya di Galunggung yang bertugas Ngabiseka raja-raja seperti Sanghyang Puhun, Sanghyang Tunggal, Sanghyang Wiraga, Batara Tunggal, Ratu Demang Seda Kamulan Batara Sakti, Batara Siluman, Batara Sombeng, kemudian Batara Sempakwaja (Naskah, R.H. Wiraatmadja, singaparna).
[2] TIDAK ADA KERAJAAN HINDU DI NUSANTARA : http://www.sukapura.id/tidak-ada-kerajaan-hindu-di-nusantara/
Dari penjelasan singkat tersebut di atas, istilah Galunggung/Jawadwipa/Fa Hien sudah dikenal Bangsa Lain (Luar Nusantara) sejak Abad-5 M. Tentunya Galunggung yang berfungsi “ngabiseka raja-raja (Tidak Sah seorang Prabu /Raja tanpa Restu dari Galunggung)” sudah berjalan jauh sebelum Abad-5 Masehi. Begitu juga Ke-PRABU-an (Kerajaan) SUNDA-GALUH (669 M -1579 M), Rajanya tidak sah tanpa restu dari Danghyang Resi Guru Galunggung.
DENGAN DEMIKIAN, kedudukan GALUNGGUNG penulis buat dalam bentuk diagram dibawah ini :
Setelah memahami KEDUDUKAN Galunggung di tingkat Tatanan KERJAJAAN (Ke-PRABU-an), maka selanjutnya kita dapat memahami kalimat dalam amanat Galunggung (“//–jaga dapetna pretapa dapetna pegengön sakti, bönangna (ku) Sunda, Jawa, La(m)pung, Ba-luk–//”). SUNDA disini adalah TATANAN KE-PRABU-AN /Kerajaan bukan Etnis/bukan Ageman Sunda.
Dengan kata lain Sebuah KEKUASAAN KERAJAAN (Pemerintahan/Ke-Prabu-an) SUNDA, JAWA, LAMPUNG, BALUK, CINA dan PIHAK ASING, TIDAK BOLEH Mengatur /Mencampuri WEWENANG Wilayah DANGHYANG RESI GURU di Galunggung yang merupakan sinar (kekuatan), cahaya, pancaran, perbawa, kemuliaan, kewibawaan, pengaruh, kuasa.
Untuk MEMEPERTAHANKAN kedudukan Galunggung tersebut, harus MEMILIKI Pengetahuan, Kemampuan, Kekuatan, Cahaya, Wibawa, Pengaruh, Kuasa yang melebihi dari Penguasa Kerajaan (Ke-Prabu-an). Hal ini berkiatan dengan bagian ke-2 dan ke-3 :
2. ILMU GALUNGGUNG
3. KABUYUTAN GALUNGGUNG
====================================================
SIMPULAN
Kang Dera menulis : pertanyaaannya ialah apa yg melatar belakangi maksud dr petikan kieu dina naskah : jaga dapetna pretapa 8 dapetna pegengeun sakti, beunangna (ku) Sunda, Jawa, La(m) pung, Ba- luk, banyaga nu dék ngarebutna kabuyutan 9 na Galunggung,..(( 8.Pretapa dapat berarti: sinar (kekuatan), cahaya, pancaran, perbawa, kemuliaan, kewibawaan, pengaruh, kuasa.))
JAWABANNYA ADALAH :
Berdasarkan PENJELASAN PERTAMA di atas : Yang melatar belakangi maksud dari petikan amanat Galunggung : (“//–jaga dapetna pretapa dapetna pegengön sakti, bönangna (ku) Sunda, Jawa, La(m)pung, Ba-luk,..dst –//”).
SANGAT DIMUNGKINKAN adanya Usaha pihak Penguasa Pemerintahan /Ke-PRABU-an /KeRajaan SUNDA, JAWA, LAMPUNG, BALUK, CINA, Orang ASING lainnya mempengaruhi, menguasai peran kedudukan Galunggung.
WEWENANG, WIBAWA, CAHAYA, NILAI-NILAI KEDUDUKAN GALUNGGUNG yang dipimpin oleh DANGHYANG RESI GURU (Ka-BATARA-an /Ka-RESI-an), Tidak boleh dicampuri oleh Kepentingan Penguasan Pemerintahan (Ke-PRABU-an /Kerajaan) Sunda, Jawa, Lampung, Baluk maupun Pihak ASING.
SEBALIKNYA Kekuasaan Pemerintahan “Kerajaan /Ke-Prabu-an” harus mengikuti Saran/Arahan dari GALUNGGUNG dalam menjalankan Tugas Pemerintahannya (Ke-Prabuannya).
SEHINGGA Pada bagian III rekto selanjutnya LEBIH DIPERTEGAS LAGI KEDUDUKAN masing-masing TATANANNYA : Artinya : //—Dunia kemakmuran tanggung jawab sang rama(Ka-RAMA-an), dunia kesejahteraan hidup tanggung jawab sang resi(Ka-RESI-an), dunia pemerintahan tanggung jawab sang prabu(Ka-PRABU-an), Jangan berebut kedudukan, jangan berebut penghasilan, jangan berebut hadiah, karena sama asal-usulnya…dst–//
Demikian untuk penjelasan pertamanya..
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Rampeees

TAP MPRS No. XXV/1966 DAN SUPERSEMAR DILIHAT DARI FILSAFAT ANALITIK

Oleh: Harsa Permata*

Dengan ditetapkannya TAP MPRS No. XXV/1966, maka sejak saat itu PKI sebagai Partai Politik dinyatakan dibubarkan dan Marxisme-Leninisme sebagai ideologi yang diklaim sebagai ideologi PKI dinyatakan sebagai ideologi terlarang (TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966, 5 Juli 1966).  Persoalan timbul ketika ketetapan ini tetap dinyatakan berlaku lewat Ketetapan MPR Nomor I/MPR/2003 yang berbunyi :

“Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia Nomor XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia bagi Partai Komunis Indonesia dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Faham atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme dinyatakan tetap berlaku dengan ketentuan seluruh ketentuan dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia Nomor XXV/MPRS/1966 ini, kedepan diberlakukan dengan berkeadilan dan menghormati hukum, prinsip demokrasi dan hak asasi manusia” (id.wikipedia.org, diakses tanggal 7/12/2011, jam 8.41 WIB).

Ketetapan MPR Nomor I/MPR/2003 berisikan Peninjauan terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan MPRS dan Ketetapan MPR RI Tahun 1960 sampai dengan Tahun 2002. “Tujuan Tap MPR tersebut adalah untuk meninjau materi dan status hukum setiap TAP MPRS dan TAP MPR, menetapkan keberadaan (eksistensi) dari TAP MPRS dan TAP MPR untuk saat ini dan masa yang akan datang, serta untuk memberi kepastian hukum” (id.wikipedia.org, diakses tanggal 7/12/2011, jam 8.47 WIB).

TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966 adalah produk Orde Baru yang melakukan kudeta merangkak untuk mendongkel pemerintahan Soekarno. Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto menggunakan dalih G-30-S untuk memecah poros NASAKOM yang digagas oleh Soekarno yang terkenal dengan konsep Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme-nya. Bagi Soekarno (sebagaimana tertulis dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi), pergerakan rakyat Indonesia memiliki tiga karakter yaitu, Nasionalistis, Islamistis, dan Marxistis. Menurutnya persatuan tiga ideologi ini bisa menghasilkan kekuatan layaknya ombak yang mempunyai daya terjang yang maha kuat (Soekarno, 1964 : 2).

Peristiwa G-30-S pada tahun 1965 yang memakan korban jiwa terbunuhnya 6 Jenderal Angkatan Darat, dan satu perwira pertama. Peristiwa inilah yang kemudian memicu para Jenderal Angkatan Darat untuk mendesak Soekarno agar memberi wewenang khusus pada Soeharto. Wewenang khusus lewat supersemar pun kemudian diberikan oleh Soekarno. Soeharto lalu membubarkan PKI sebagai konsekuensi dari kewenangan yang diberikan oleh Soekarno lewat Supersemar. Surat Perintah Sebelas Maret adalah fondasi awal kekuasaan Soeharto dan Orde Baru. Dengan manipulasi politik lewat Dekrit Presiden  No.1/3/1966 tanggal 12 Maret 1966, dengan dalih “atas perintah presiden”, Soeharto membubarkan PKI dan organisasi komunis lainnya (Caldwell dkk, 2011 : 282).

Soeharto menggunakan G-30-S sebagai dalih untuk mengambilalih kekuasaan dengan cara kudeta merangkak. Dikatakan sebagai kudeta merangkak adalah karena usaha kudeta dilakukan lewat selubung tindakan pencegahan terhadap sebuah aksi yang dituduh sebagai kudeta. Soeharto kemudian membesar-besarkan G-30-S sebagai sebuah aksi pengkhianatan dan kejahatan akibat dari kesalahan yang besar dalam pemerintahan Soekarno. Dengan dalih ini Soeharto menuduh PKI sebagai dalang G-30-S, selanjutnya Soeharto menangkapi sekitar satu setengah juta orang yang dituduh terlibat dalam G-30-S. Ratusan ribu dibantai oleh Angkatan Darat kemudian (Roosa, 2008 : 5), sementara menurut pengakuan Sarwo Edhie Wibowo sebagai komandan pembantaian, tiga juta orang yang dibantai (Pour, 2011:273).

Continue reading TAP MPRS No. XXV/1966 DAN SUPERSEMAR DILIHAT DARI FILSAFAT ANALITIK

nyungsi diri nyuai badan angelo paesan tunggal