Arsip Tag: Kata Agama

SEJARAH KATA AGAMA

Kata Agama telah dikenal dan digunkan jauh sebelum Indonesia merdeka yang lahir tahun 1945 M, terdapat dalam Naskah Sunda Kuna Kropak 632, sebagai Naskah Petuah Leluhur Sunda, Raja Sunda (1175-1297 Masehi) Prabu Darmasiksa, atau disebut juga sebagai “Amanat” Galunggung, sebagai berikut :

(a). MELAKSANAKAN AGAMA :
III rekto (*“../jaga isos di carek nu kwalyat, nga- lalwakon Agama nu nyusuk na Galunggung, marapan jaya pran jadyan tahun, hobol nyewana, jaga makeyana patikrama, paninggalna sya seda,/..”.*).

Artinya : (*“../Tetaplah mengikuti ucap (Ajaran) orang tua (Leluhur), melaksanakan Agama yang membuat parit pertahanan di Galunggung, agar unggul perang, serba tumbuh tanam-tanaman, lama berjaya panjang umur, sungguh-sungguhlah mengikuti patikrama warisan dari para suwargi./..”. *).

(b). MENJAGA KESEMPURNAAN AGAMA :
II verso . (*“/-/sa- II verso 1. pa ta wruh ri puncaknya, asing wruh iya ta wruh inya patingtiman, wruh di carék aki lawan buyut, marapan kita jaya prang höböl nyéwana, jaga kita miprangkön 2. si tepet si bener, si duga si twarasi, iya tuhu sirena janma (d)ina bwana iya kahidupanana urang sakabéh, iya pawindwan ngaranya kangken gunung panghiyangana urang, pi(n)dah 3. ka cibuntu ngaranya, pindah ka l(e)mah pamasarran , gosana wwang ngéyuhan kapanasan, jaga rampésna Agama, hana kahuripana urang sakabeh, mulah kwaywa moha di 4. carékna kwalwat pun.”*).

Artinya : (*“/-/Si – II verso : apa (Siapa) yang mengetahui puncaknya? Siapa pun yang mengetahuinya, ya tahulah akan ketentraman, tahu akan nasihat kakek dan buyut, agar kita unggul perang dan lama berjaya. Janganlah kita memperebutkan (bertengkar) tentang: yang tepat (lurus), yang benar, yang jujur, yang lurus hati; ya sungguh-sungguh tenteram manusia di dunia, ya kehidupan kita semua, ya ketenteraman namanya ibarat gunung kahiyangan (bagi) kita, beralih ke telaga (bening) namanya, beralih ke tanah pusara, tempat orang berteduh dari kepanasan. Pelihara kesempurnaan Agama, pegangan hidup kita semua, jangan luput atau bingung terhadap ajaran para leluhur./”*)

(c). TIDAK AKAN HINA TERSESAT DARI AGAMA :
V verso (*“/…nanya ka nu karwalwat, mwa téo(h) sasab na Agama pun, na sasana bwat kwalwat pun, Hana nguni hana mangké, tan hana nguni tan hana mangké, aya ma böhöla aya tu ayöna, hantö ma böhöla hantö tu ayöna, hana tunggak hana watang, tan hana tunggak tan hana watang, hana ma tunggulna aya tu catangna, …/”*).

Artinya : (*“/…Bertanyalah kepada orang-orang tua, (niscaya) tidak akan hina tersesat dari Agama, yaitu hukum buatan leluhur. Ada dahulu ada sekarang, Tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang; ada masa lalu ada masa kini, bila tidak ada masa lalu tidak akan ada masa kini; ada pokok kayu ada batang, tidak ada pokok kayu tidak akan ada batang; bila ada tunggulnya tentu ada catangnya; …/” *).

Adapun istilah kata “Agama” yang digunakan sebagai bahasa Indonesia sekarang, adalah merupakan asal kata serapan dari Bahasa Sang Saka Kreta (Sangsekerta /Sangskrit). Dalam kamus Zoetmulder kata “agama” dibubuhi dengan (skt) menandakan serapan dari bahasa sangsekerta. Agama memiliki beberapa arti seperti doktrin (Ajaran suci) turun temurun, aturan/Hukum, prilaku, sumber pengetahuan, adat, sebagai berikut : //– āgama 23:6 (Skt) doktrin tradisional suci atau ajaran, koleksi doktrin tersebut, pekerjaan suci.//. āgamajña 23:7 (Skt) mengetahui Agama.// āgamapramāṇa 23:8 (Skt) Agama sebagai sarana pengetahuan, memperoleh pengetahuan, kesaksian kitab suci.// āgamarasa 23:9 (Skt) esensi dari kitab-kitab suci.// āgamaśāstra 23:10 (Skt) karya sakral.// āgamawidhi 23:11 (Skt) aturan (hukum) dari tradisi suci.//.

Purbacaraka mengatakan bahwa tujuh puluh sampai delapan puluh persen bahasa Jawa kuna adalah Bahasa Sangsekerta murni.[1] Yang dimaksud dengan bahasa Jawa kuna /atau Bahasa Sangsekerta murni adalah bahasa sebelum ada pemisahan antara bahasa Sunda dan Jawa seperti sekarang. Artinya Bahasa Sangsekerta murni milik Leluhur Bangsa Indonesia (Nusantara).

Dengan demikian, apabila kata “Agama” berasal dari serapan Bahasa Sangsekerta, serta meperhatikan pengertian “Agama” merupakan //– āgama 23:6 (Skt) doktrin (turun temurun) tradisional suci atau ajaran, koleksi doktrin tersebut, pekerjaan suci.//, maka semestinya penggunaan nama kata Agama hanya diperuntukan bagi Masyarakat Indonesia yang masih menjalankan kepercayaan, aturan, hukum, ajaran Leluhurnya sendiri disesuaikan dengan wilayah hukum adat dan budayanya, seperti Agama Hindu Bali (lebih sering disebut sebagai Hindu Bali), Agama Aluk Todolo (Tanah Toraja), Agama Sunda Wiwitan (Kanekes, Banten), Agama Djawa Sunda (Kuningan, Jawa Barat), Agama Buhun (Jawa Barat), Agama Kapitayan, Agama Kejawen (Jawa Tengah dan Jawa Timur), Agama Parmalim (Sumatera Utara), Agama Kaharingan (Kalimantan), Agama Tonaas Walian (Minahasa, Sulawesi Utara), Agama Tolottang (Sulawesi Selatan), Agama Wetu Telu (Lombok), Agama Naurus (pulau Seram, Maluku) dan sebagainya.

Adapun Sistem Kepercayaan (aturan, hukum, budaya, konsep Tuhan) yang secara fakta historis (fakta sejarah) berasal dari Luar wilayah kepulauan Nusantara, dapat disebutkan sebagai sebuah Aliran Kepercayaan yang sama-sama dilindungi Undang-undang Dasar 1945. Misalnya seperti Aliran Kepercayaan Yahudi, Zoroaster, Nasrasi (Kristen, Katolik), Islam (Mazhab Syi’ah, Madzhab Suni), khong Cu (Confusius), Sikh (India), Hindu India, Budha yang semua sistem kepercayaan tersebut memiliki latar belakang sejarah diwilayahnya masing-masing (luar Nusantara).

[1]According to Poerbatjoroko a well-known Javanese scholar, between seventy and eighty per cent of the words of Javanese language are either pure Sanskrit or of Sanskritic origin.(Quoted in Hindustan Standard (Calcutta), December 30, 1962.)

BACA JUGA :
SEJARAH ISTILAH HINDU
https://sukapura.wordpress.com/2017/10/08/sejarah-istilah-hindu/

GALUNGGUNG
https://sukapura.wordpress.com/2016/10/18/galunggung/

TIDAK ADA KERAJAAN HINDU DI TATAR SUNDA
https://sukapura.wordpress.com/2016/11/03/tidak-ada-kerajaan-hindu-di-tatar-sunda/

TIDAK ADA KERAJAAN HINDU DI NUSANTARA
http://www.sukapura.id/tidak-ada-kerajaan-hindu-di-nusantara/

Advertisements